Tindakan Ajātasattu Membunuh Ayahnya
Raja Ajātasattu memerintahkan agar ayahnya, Raja Bimbisāra ditahan di dalam sebuah sel besi yang sangat panas. Ia tidak mengizinkan siapa pun untuk mengunjunginya kecuali ibunya.
(1) Ratu Vedehī membawa makanan di dalam mangkuk emas ke dalam sel besi. Raja memakan makanan itu untuk bertahan hidup. Raja Ajātasattu bertanya bagaimana ayahnya dapat bertahan hidup dan ketika mendengar apa yang dilakukan oleh ibunya, ia memerintahkan para menteri agar jangan mengizinkan ibunya membawa makanan.
(2) Kemudian ratu menyembunyikan makanan di dalam gulungan rambutnya dan memasuki sel. Raja memakan makanan itu dan bertahan hidup. Ketika Raja Ajātasattu mendengar tentang hal ini, ia melarang ratu memasuki sel dengan rambut tergelung.
(3) Kemudian ratu membawa makanan di dalam sepatu emas yang ia pakai. Raja bertahan hidup dengan memakan makanan yang dibawa oleh ratu di dalam sepatunya itu. Ketika Ajātasattu mengetahui bagaimana ayahnya bertahan hidup, ia melarang ibunya mengunjungi raja dengan mengenakan sepatu.
(4) Sejak saat itu Ratu Vedehī mandi dengan air harum, melumuri badannya dengan makanan (yang terdiri dari minyak, madu, dan mentega) dan mengenakan jubah luarnya, kemudian ia memasuki sel. Raja bertahan hidup dengan menjilati badannya. Ketika si jahat Ajātasattu mengetahui hal ini, ia dengan angkuh memerintahkan agar para menterinya jangan mengizinkan ibunya memasuki sel.
Dilarang memasuki sel, ratu berdiri di dekat pintu sel dan mengeluh, “O raja besar! Engkau sendiri yang tidak mengizinkan putra jahat Ajātasattu dibunuh ketika ia masih muda. Engkau sendiri yang membesarkan musuhmu. Sekarang adalah terakhir kalinya aku melihatmu. Mulai saat ini aku tidak lagi berkesempatan melihatmu. Maafkan aku jika aku pernah berbuat salah terhadapmu.” Demikianlah ia mengeluh dan menangis, kemudian ia pulang ke tempat tinggalnya.
Sejak saat itu, raja tidak makan apa-apa. Berjalan mondar-mandir, ia bertahan hidup hanya dengan menikmati kebahagiaan Buah Sotāpatti yang telah ia capai. Pikirannya selalu tenggelam di dalam Buah itu, tubuh raja menjadi sangat anggun. Si jahat Ajātasattu bertanya kepada orang-orangnya bagaimana ayahnya dapat bertahan hidup. Orang-orangnya berkata bahwa raja bertahan hidup dengan cara berjalan mondar-mandir dan bahwa ia menjadi lebih anggun daripada sebelumnya dalam hal penampilan fisik.
Kemudian Raja Ajātasattu memutuskan untuk mengakhiri olahraga berjalan ayahnya. Ia memerintahkan para tukang cukur untuk melukai telapak kaki ayahnya, melumuri lukanya dengan minyak dan garam dan membakarnya di atas bara api yang menyala.
Ketika ia melihat para tukang cukur, Raja Bimbisāra berpikir bahwa seseorang telah menyadarkan putranya dan bahwa tukang cukur itu datang untuk mencukur janggutnya.
Para tukang cukur itu mendekati raja dan berdiri memberi hormat kepadanya. Raja menanyakan tujuan dari kedatangan mereka, dan diberitahukan mengenai tujuan kedatangan mereka. Kemudian raja memberitahu mereka agar melakukan tugas mereka sesuai instruksi majikan mereka. Para tukang cukur meminta agar raja duduk dan setelah memberi hormat, mereka berkata, “O raja besar! Kami terpaksa melakukan perintah Raja Ajātasattu. Jangan marah kepada kami. Apa yang harus kami lakukan sangat tidak tepat untuk seorang raja yang baik sepertimu.” Kemudian dengan memegang telapak kaki dengan tangan kiri dan pisau cukur yang tajam di tangan kanan, mereka melukai telapak kaki, melumurinya dengan minyak dan garam dan kemudian membakarnya di atas bara api yang menyala.
(Dalam kehidupan lampau, raja berjalan di atas atap pagoda dengan memakai alas kaki dan menginjak alas duduk dengan kakinya yang kotor. Penderitaan yang ia alami sekarang adalah akibat dari perbuatan jahatnya pada masa lampau, menurut Komentar.)
Raja Bimbisāra harus menahan siksaan luar biasa itu. Tanpa merasa marah dan benci, ia merenungkan kemuliaan Buddha, Dhamma, dan Saṅgha. Kemudian ia menjadi lemah bagaikan sekuntum bunga yang dibuang di atap pagoda. Ia wafat dan terlahir sebagai seorang pelayan dari Raja Dewa Vessavana di Alam Dewa Catumahārājika, dan menjadi jenderal tertinggi dari para dewa bernama Janavasabha.
(Di sini ia dinamai Janavasabha karena ketika sebagai Raja Bimbisāra, ia adalah seorang Sotāpanna dan pemimpin dari seratus sepuluh ribu brahmana pedagang. Jana, ‘dari 110.000 brahmana pedagang’, vesabha, ‘pemimpin’.
(Mengapa ia terlahir di alam dewa yang rendah Catumahārājika walaupun ia adalah seorang Ariya? Jawabannya diberikan oleh Dewa-yakkha Janavasabha sendiri.)
(Menurut jawabannya, ia menjalani tujuh kehidupan sebagai raja di alam manusia dan setelah kematiannya di Alam Dewa Catumahārājika dan tujuh kehidupan di Alam Catumahārājika setelah kematiannya di Alam Manusia. Sekarang setelah menjadi seorang Ariya dan karena kebajikannya sehubungan dengan Buddha, Dhamma, dan Saṅgha, ia dapat mencapai alam dewa yang lebih tinggi. Tetapi karena ia telah menjalani tujuh kehidupan berturut-turut di Alam Catumahārājika, kemelekatannya terhadap kehidupan (bhava-nikanti) di alam dewa tersebut sangat kuat dan karena kuatnya kemelekatannya itu, ia terlahir kembali di Alam Dewa Catumahārājika. Ini adalah pengakuan dewa yakkha Janavasabha sendiri di dalam Janavasabha Sutta dari Dīgha Nikāya.
Pengakuannya dalam syair adalah sebagai berikut:
Ito satta taro satta, saṁsarāni catuddasa Nivāsam abhijānāmi, yattha me vusitaṁ pure.
Penyesalan yang Terlambat
Pada hari kematian Raja Bimbisāra, istri si dungu Raja Ajātasattu melahirkan seorang putra, yang diberi nama Udayabhadda. Dua berita itu, satu melaporkan kelahiran putra dan yang lain melaporkan kematian Raja Bimbisāra sampai di istana pada waktu yang bersamaan.
Para menteri mempertimbangkan bahwa sebaiknya melaporkan kelahiran putranya terlebih dahulu. Segera setelah membaca pesan pertama tersebut, muncul dalam dirinya rasa cinta yang mendalam terhadap putranya yang membangkitkan gairah di seluruh tubuhnya hingga ke tulang sumsum. Pada waktu yang sama, ia menyadari rasa terima kasih terhadap ayahnya, ia berpikir bahwa pada saat kelahirannya, ayahnya pasti juga mengalami rasa cinta yang mendalam terhadap putranya.
Raja Ajātasattu kemudian memerintahkan para menterinya untuk membebaskan ayahnya segera. Tetapi para menterinya mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin dilaksanakan dan mereka menyampaikan berita kematian Raja Bimbisāra. Mendengar berita itu, Raja Ajātasattu menangis sedih, mendatangi ibunya, dan bertanya kepadanya apakah ayahnya merasakan cinta yang mendalam pada saat kelahirannya.
Ratu Vedehī menjawab, “Engkau putra bodoh! Apa yang engkau katakan? Sewaktu engkau masih kanak-kanak, ada bisul di jarimu. Perawat istana tidak mampu membujukmu dan membuatmu berhenti menangis. Akhirnya mereka membawa engkau kepada ayahmu yang sedang duduk di tengah-tengah sidang. Ayahmu mengulum jarimu yang berbisul dan karena kehangatan mulutnya, bisul itu pecah. Karena cintanya kepadamu, ayahmu tidak meludahkan darah kotor bercampur nanah karena dapat membangunkan engkau, maka ia menelannya. Ayahmu sangat mencintaimu.”
Sang ratu memberitahukan secara panjang lebar tentang bagaimana ayahnya begitu melekat kepadanya. Raja Ajātasattu menangis sedih dan melakukan upacara pemakaman ayahnya.

