Ovāda di Hari Uposatha

Oleh Sayadaw Osadha

Nilai Tiga Nasihat Agung Warisan Leluhur Kita

1. Semoga sungai besar tidak pernah kering.

2. Semoga pohon besar tidak pernah tumbang.

3. Semoga gentong kapur tidak pernah pecah.

 

Tiga kiasan ini diwariskan turun-temurun oleh para leluhur kita sebagai nasihat yang bijaksana dan penuh makna.

 

1. Semoga sungai besar tidak pernah kering

 

Maknanya adalah: semoga sungai cinta kasih (mettā) di dalam diri manusia tetap jernih, sejuk, menyegarkan, dan mengalir terus tanpa pernah kering atau berkurang.

 

Marilah kita menumbuhkan dan memelihara cinta kasih satu sama lain—di antara keluarga, sahabat, dan sesama makhluk—serta mengalirkan arus niat baik itu dengan lembut dan melimpah kepada semua makhluk hidup, tanpa membiarkannya pudar.

 

Sebagaimana air sungai besar yang tetap bersih dan menyejukkan saat mengalir, demikian pula cinta kasih yang dipancarkan kepada semua makhluk: murni, menyegarkan, dan indah.

 

Ketika seseorang terus-menerus mengembangkan mettā, kualitas ini meresap ke seluruh keberadaannya. Pada saat-saat itu, batinnya menjadi tenang dan wajahnya memancarkan kejernihan batin yang membedakannya dari keadaan biasa. Sebagaimana diajarkan oleh Sang Buddha:

“Citte pasanne laohitaṃ pasīdati” — “Ketika batin jernih dan tenang, jasmani pun menjadi bercahaya.”

 

Mereka yang senantiasa berdiam dalam cinta kasih menampilkan kelembutan dan kehangatan yang tampak dalam raut wajah dan sikap tubuh—sebuah tanda nyata bahwa esensi murni mettā telah berakar di dalam diri mereka.

 

2. Semoga pohon besar tidak pernah tumbang

 

Di sini, “pohon besar” melambangkan Tiratana: Buddha, Dhamma, dan Sangha.

 

Sebuah pohon besar membentangkan dahan yang luas, memberikan keteduhan yang dalam, dan menawarkan naungan sejuk bagi siapa pun yang berlindung di bawahnya. Begitu seseorang melangkah ke dalam naungannya, tubuh dan batin segera merasakan kedamaian dan kelegaan.

 

Demikian pula, siapa pun yang berlindung pada Tiratana akan menemukan ketenangan sempurna bagi tubuh dan batin di bawah perlindungannya. Kedamaian ini muncul semata-mata karena anugerah tak terbatas dari Buddha, Dhamma, dan Sangha.

 

Itulah sebabnya para tetua mengajarkan: jangan pernah menebang atau mencabut pohon besar yang menaungi kita. Demikian pula, kita tidak boleh meremehkan, meninggalkan, atau melupakan tempat perlindungan sejati dan naungan kehidupan kita—Tiratana.

 

Berkah Tiratana sangat luas dan tak terukur. Sebagaimana keteduhan pohon besar memberi kelegaan saat ini, Tiratana menganugerahkan kedamaian bukan hanya dalam kehidupan sekarang, tetapi juga dalam kehidupan-kehidupan yang akan datang.

 

Oleh karena itu, jangan pernah melupakan pohon besar ini. Ingatlah selalu dengan penuh hormat, berlindunglah padanya, muliakanlah, dan sandarkanlah hidup kepadanya.

 

3. Semoga gentong kapur tidak pernah pecah

 

“Gentong kapur” melambangkan tradisi luhur, adat kebiasaan yang baik, serta warisan moral yang diturunkan oleh orang tua, kakek-nenek, dan para leluhur kita.

 

Ia mewakili peninggalan berharga yang mereka wariskan kepada kita: ajaran-ajaran yang berkaitan dengan Tiratana, tata krama yang beradab, praktik keagamaan yang telah lama dijalankan, latihan batin, serta etika dan karakter lurus yang mereka teladankan dan ajarkan.

 

Kita tidak boleh membiarkan tradisi-tradisi berharga ini hancur, terlupakan, atau ditinggalkan. Sebaliknya, kita hendaknya menjaganya, melestarikannya dengan utuh, dan meneruskannya. Inilah makna mendalam dari ungkapan “Semoga gentong kapur tidak pernah pecah.”

 

Semoga semua yang menjumpai tiga nasihat agung ini—yang dijaga dan diwariskan oleh para mulia dalam tradisi Buddhis—dapat memahami maknanya yang mendalam.

Semoga mereka yang memahaminya berusaha menjalankannya sebaik mungkin.

Dan melalui praktik itu, semoga mereka turut menjaga dan melestarikan Ajaran Buddha (Sāsana).

Dengan harapan ini, semoga semua orang berdiam dalam kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan.

Sampai di sini nasihat dari saya.

Related Post