Dari Gayāsīsa, diiringi oleh Kassapa bersaudara dan seribu orang bhikkhu yang dulunya merupakan petapa berambut pilin, Yang Terberkahi melanjutkan perjalanan menuju Rājagaha, ibukota Magadha. Ia mengunjungi kota ini terlebih dahulu untuk memenuhi janji-Nya kepada Raja Bimbisāra. Ketika tiba, mereka tinggal di Hutan Palma Muda (Laṭṭhivana) yang lebat di Cetiya Supatiṭṭha.
Ketika mendengar kabar gembira mengenai kedatangan Yang Terberkahi, dengan diiringi seratus dua puluh ribu brahmin perumah tangga di Magadha, Raja Bimbisāra segera pergi menemui Yang Terberkahi. Setelah memberi sembah hormat pada-Nya, ia duduk di satu sisi. Di antara keseratus dua puluh ribu brahmin tersebut, sebagian memberi sembah hormat pada-Nya, lalu duduk di satu sisi; sebagian bertukar salam dengan-Nya; dan seusai perbincangan yang santun dan resmi itu, mereka duduk di satu sisi. Sebagian mengangkat tangan mereka yang ditangkupkan sebagai penghormatan terhadap Yang Terberkahi, lalu duduk di satu sisi. Sebagian mengucapkan nama dan suku mereka di hadapan-Nya, lalu duduk di satu sisi. Sebagian lagi berdiam diri, lalu duduk di satu sisi.
Tatkala para brahmin perumah tangga tersebut melihat Yang Terberkahi dan Bhikkhu Uruvela Kassapa, mereka menjadi bingung karena mereka tahu bahwa Uruvela Kassapa selama ini dikenal sebagai guru yang hebat. Namun mereka juga mendengar bahwa nama harum Bhikkhu Gotama belakangan telah menyebar. Karena itu mereka bertanya-tanya: “Apakah Bhikkhu Gotama menjalani hidup suci di bawah bimbingan Bhikkhu Uruvela Kassapa ataukah Bhikkhu Uruvela Kassapa menjalani hidup suci di bawah bimbingan Bhikkhu Gotama?”
Akan tetapi, Yang Terberkahi mengetahui pikiran mereka, lalu bertanya kepada Bhikkhu Uruvela Kassapa: “O Kassapa, apa yang menyebabkan Anda meninggalkan pemujaan api?”
Bhikkhu Uruvela Kassapa menjawab: “Setelah melihat noda dalam kelima kesenangan indrawi, serta para wanita yang dijanjikan sebagai imbalan untuk pemujaan api, saya menjadi sadar bahwa pemujaan dan pengorbanan itu tidak lagi membawa kebahagiaan bagi saya. Karena itulah, O Bhante, saya meninggalkan praktik pemujaan api.”
“Akan tetapi, Kassapa, jika Anda tak lagi berbahagia dengan semuanya ini, lalu apa yang membahagiakan hati Anda di dunia para dewa dan manusia ini?” tanya Yang Terberkahi.
“Saya telah menyadari kedamaian Nibbāna, yang bebas dari kotoran batin, yang hanya dapat dicapai seseorang melalui Jalan Kesucian, yang tidak mengalami perubahan, yang bebas dari nafsu atau kemelekatan terhadap kehidupan. Setelah menyadari Dhamma yang halus ini, O Bhante, saya tinggalkan praktik pemujaan api,” jawab Bhikkhu Uruvela Kassapa.
Setelah itu, Bhikkhu Uruvela Kassapa bangkit dari duduknya, menata jubahnya pada satu bahu, dan bersujud dengan kepala menyentuh kaki Yang Terberkahi, sambil mengucapkan pengakuan: “Bhante, Yang Terberkahi adalah guru saya; saya adalah siswa-Nya.”
Dengan pengakuan pribadi dari Bhikkhu Uruvela Kassapa tersebut, lenyaplah kebingungan para brahmin. Mereka menjadi yakin bahwa Bhikkhu Uruvela Kassapa menjalani kehidupan suci di bawah bimbingan Bhikkhu Gotama. Dan ketika batin mereka terbebas dari keraguan dan siap menerima bimbingan, Yang Terberkahi memberikan khotbah ajaran bertahap dan Empat Kebenaran Mulia. Setelah mendengarkan Dhamma tersebut, batin mereka menjadi bebas dari rintangan. Pada akhir pembabaran, dengan batin yang murni dan bahagia, keseratus sepuluh ribu brahmin yang dipimpin oleh Raja Bimbisāra itu mencapai tataran kesucian pertama; sepuluh ribu brahmin lainnya menjadi umat awam yang bernaung kepada Tiga Pernaungan.
Kemudian, Raja Bimbisāra yang juga telah menembus Dhamma dan menjadi Sotāpanna berkata kepada Yang Terberkahi: “Bhante, dulu sewaktu saya masih menjadi pangeran muda, saya memiliki lima harapan, yang semuanya baru terpenuhi sekarang. Harapan yang pertama adalah: ‘Semoga saya dinobatkan sebagai raja Magadha.’ Harapan yang kedua adalah: ‘Semoga seorang Arahā yang Tercerahkan Sempurna mengunjungi kerajaan saya setelah saya menjadi raja.’ Harapan yang ketiga adalah: ‘Semoga saya bisa menghormati Yang Terberkahi itu.’ Harapan yang keempat adalah: ‘Semoga Yang Terberkahi mengajarkan Dhamma kepada saya.’ Harapan yang kelima adalah: ‘Semoga saya memahami Dhamma dari Yang Terberkahi.’ Dan semua harapan saya itu sekarang telah terpenuhi. Menakjubkan, Bhante! Menakjubkan, Bhante! Dhamma telah dibuat jelas dengan banyak cara oleh Yang Terberkahi. Bhante, semoga Yang Terberkahi bersedia menerima saya sebagai siswa awam yang telah mengambil pernaungan sejak hari ini sampai akhir hayat saya. Bhante, semoga Yang Terberkahi bersama dengan Persamuhan Bhikkhu bersedia menerima dana makanan esok hari dari saya.”


