“Pañcimā, bhikkhave, vaṇijjā upāsakena akaraṇīyā. Katamā pañca? Satthavaṇijjā, sattavaṇijjā, maṃsavaṇijjā, majjavaṇijjā, visavaṇijjā – imā kho, bhikkhave, pañca vaṇijjā upāsakena akaraṇīyā”ti.
“Bhikkhu, ada lima jenis perdagangan yang tidak boleh dilakukan oleh seorang upāsaka (umat perumah tangga). Apakah lima itu?
Perdagangan senjata, perdagangan makhluk hidup, perdagangan daging, perdagangan minuman memabukkan, dan perdagangan racun. Inilah, para bhikkhu, lima jenis perdagangan yang tidak boleh dilakukan oleh seorang upāsaka.”
(Aṅguttara Nikāya, Pañcakanipātapali, Upasakavaggo, Vanijja Sutta).
Penjelasan Kitab Atthakatha dan Tika:
Vaṇijjā berarti kegiatan berdagang. Upāsaka berarti seseorang yang telah berlindung pada Tiga Permata (Buddha, Dhamma, Saṅgha).
1. Satthavaṇijjā: Membuat atau menjual senjata (alat untuk membunuh).
2. Sattavaṇijjā: Menjual manusia (perdagangan manusia).
3. Maṃsavaṇijjā: Memelihara hewan seperti babi atau rusa untuk kemudian menjual dagingnya.
4. Majjavaṇijjā: Membuat minuman keras atau menjualnya.
5. Visavaṇijjā: Membuat racun dan menjualnya.
Dengan demikian, seluruh bentuk perdagangan ini tidak boleh dilakukan sendiri maupun dengan menyuruh orang lain melakukannya.
Satthavaṇijjā mencakup membuat, memproduksi, atau memperoleh senjata lalu menjualnya.
Pernyataan “membuat senjata lalu menjualnya” hanyalah contoh.
Maṃsavaṇijjā di sini mencakup tindakan memelihara hewan seperti babi atau rusa untuk dipotong dan dijual dagingnya.
Alasan larangan:
– Satthavaṇijjā dilarang karena digunakan untuk mencelakai makhluk lain.
– Sattavaṇijjā dilarang karena menjadikan makhluk hidup sebagai barang dagangan.
– Maṃsavaṇijjā dan visavaṇijjā dilarang karena menyebabkan kematian.
– Majjavaṇijjā dilarang karena menimbulkan kelalaian (pamāda).


