CAHAYA PENGETAHUAN TENTANG KEPEMILIKAN KAMMA

(KAMMASSAKATĀ-ÑAṆA)

Betapa mengerikan ketidaktahuan yang pekat tentang Kamma. Segala macam pandangan salah (micchā-diṭṭhi) yang muncul di dunia ini bersumber darinya. Di sisi lain, pengetahuan tentang kepemilikan kamma adalah tempat perlindungan bagi para pengembara di saṃsāra, lingkaran kelahiran yang tiada awalnya. Hanya di bawah bimbingan cahaya ini, makhluk melakukan perbuatan pahala, seperti memberi (Dāna), menjaga Moralitas (Sīla), dan mempraktikkan Meditasi (Bhavana) guna melatih konsentrasi batin, serta mencapai keberadaan yang sukses/baik sebagai manusia, dewa, atau brahma. Cahaya inilah yang memungkinkan seseorang mempraktikkan perbuatan kusala hingga kesempurnaan (pāramī-kusala), yang menjadi prasyarat untuk pencerahan, seperti Pencerahan Sempurna Sejati seorang Buddha, pencerahan mandiri seorang Paccekabuddha, atau Pencerahan Arahata Bodhi seorang Siswa Mulia (Sāvaka-bodhi).

Cahaya pengetahuan tentang kepemilikan kamma terdapat pada manusia dan dewa di alam semesta atau sistem dunia yang tak terhitung jumlahnya, yang memiliki pandangan benar (sammā-diṭṭhi). Di alam semesta kita, bahkan pada siklus dunia yang kosong ketika dunia tanpa manfaat dari seorang Buddha, cahaya ini tetap ada. Dengan pandangan benar (sammā-diṭṭhi), tentu saja, yang dimaksud adalah cahaya pengetahuan tentang kepemilikan kamma ini.

Pada masa kini, cahaya ini ada di antara umat Buddha dan Hindu di dunia. Di antara penganut keyakinan lain dan di antara hewan, cahaya ini tidak ada. Sedikit di antara penghuni alam neraka yang menyiksa, alam roh jatuh (asūrakāya), dan alam hantu lapar (peta) yang menikmati cahaya ini. Makhluk yang tidak memiliki cahaya ini hidup dalam kegelapan kamma-sammoha (kebingungan akibat kamma). Karena mereka terbungkus dalam ketidaktahuan yang pekat, jalan menuju keberadaan yang berhasil dalam lingkaran kelahiran hilang bagi mereka. Tidak mampu mengangkat diri mereka ke alam yang beruntung sebagai manusia, dewa, atau brahma, mereka ditakdirkan turun ke dunia yang lebih rendah, yang pintunya selalu terbuka lebar. Bagi makhluk ini, ribuan, puluhan ribu, atau bahkan ratusan ribu kelahiran mungkin berlalu tanpa mereka mendapatkan sedikit pun manfaat dari cahaya yang penuh kebaikan ini.

Hanya dalam kasus seorang bodhisatta yang sudah pasti akan menjadi Buddha dan yang telah memperoleh jaminan dari seorang Buddha hidup tentang Buddhahood masa depannya, selubung ketidaktahuan telah terangkat, sehingga, bahkan ketika lahir sebagai hewan, ia tetap dianugerahi cahaya ini. Cahaya ini dimiliki oleh para pemegang pandangan benar, bahkan selama siklus dunia (kappa) yang tidak memiliki Buddha dan di alam semesta yang tidak mengalami manfaat lahirnya seorang Buddha. Buddha tidak muncul di dunia hanya untuk menjelaskan cahaya ini, tetapi untuk menjelaskan cahaya pengetahuan yang menembus Empat Kebenaran Mulia (catusaccapaṭivedha-ñāṇa). Oleh karena itu, cahaya pengetahuan tentang kepemilikan kamma tidak dapat disebut cahaya ajaran Buddha—meskipun disebutkan dalam banyak kitab suci Buddhis. Ini hanyalah cahaya duniawi, cahaya yang sinarnya tidak melampaui saṃsāra.

Orang yang mendapat manfaat dari Ajaran Buddha, oleh karena itu, jika cukup bijaksana, tidak akan puas hanya dengan cahaya pengetahuan tentang kepemilikan kamma, tetapi akan membangkitkan diri mereka untuk memperoleh cahaya sejati dari Ajaran Buddha. Inilah sesungguhnya jalan bijak.

(dikutip dari ALIN KYAN, karya LEDI SAYADAW)

CAHAYA PENGETAHUAN TENTANG KEPEMILIKAN KAMMA (KAMMASSAKATĀ-ÑAṆA)

Betapa mengerikan ketidaktahuan yang pekat tentang Kamma. Segala macam pandangan salah (micchā-diṭṭhi) yang muncul di dunia ini bersumber darinya. Di sisi lain, pengetahuan tentang kepemilikan kamma adalah tempat perlindungan bagi para pengembara di saṃsāra, lingkaran kelahiran yang tiada awalnya. Hanya di bawah bimbingan cahaya ini, makhluk melakukan perbuatan pahala, seperti memberi (Dāna), menjaga Moralitas (Sīla), dan mempraktikkan Meditasi (Bhavana) guna melatih konsentrasi batin, serta mencapai keberadaan yang sukses/baik sebagai manusia, dewa, atau brahma. Cahaya inilah yang memungkinkan seseorang mempraktikkan perbuatan kusala hingga kesempurnaan (pāramī-kusala), yang menjadi prasyarat untuk pencerahan, seperti Pencerahan Sempurna Sejati seorang Buddha, pencerahan mandiri seorang Paccekabuddha, atau Pencerahan Arahata Bodhi seorang Siswa Mulia (Sāvaka-bodhi).

Cahaya pengetahuan tentang kepemilikan kamma terdapat pada manusia dan dewa di alam semesta atau sistem dunia yang tak terhitung jumlahnya, yang memiliki pandangan benar (sammā-diṭṭhi). Di alam semesta kita, bahkan pada siklus dunia yang kosong ketika dunia tanpa manfaat dari seorang Buddha, cahaya ini tetap ada. Dengan pandangan benar (sammā-diṭṭhi), tentu saja, yang dimaksud adalah cahaya pengetahuan tentang kepemilikan kamma ini.

Pada masa kini, cahaya ini ada di antara umat Buddha dan Hindu di dunia. Di antara penganut keyakinan lain dan di antara hewan, cahaya ini tidak ada. Sedikit di antara penghuni alam neraka yang menyiksa, alam roh jatuh (asūrakāya), dan alam hantu lapar (peta) yang menikmati cahaya ini. Makhluk yang tidak memiliki cahaya ini hidup dalam kegelapan kamma-sammoha (kebingungan akibat kamma). Karena mereka terbungkus dalam ketidaktahuan yang pekat, jalan menuju keberadaan yang berhasil dalam lingkaran kelahiran hilang bagi mereka. Tidak mampu mengangkat diri mereka ke alam yang beruntung sebagai manusia, dewa, atau brahma, mereka ditakdirkan turun ke dunia yang lebih rendah, yang pintunya selalu terbuka lebar. Bagi makhluk ini, ribuan, puluhan ribu, atau bahkan ratusan ribu kelahiran mungkin berlalu tanpa mereka mendapatkan sedikit pun manfaat dari cahaya yang penuh kebaikan ini.

Hanya dalam kasus seorang bodhisatta yang sudah pasti akan menjadi Buddha dan yang telah memperoleh jaminan dari seorang Buddha hidup tentang Buddhahood masa depannya, selubung ketidaktahuan telah terangkat, sehingga, bahkan ketika lahir sebagai hewan, ia tetap dianugerahi cahaya ini. Cahaya ini dimiliki oleh para pemegang pandangan benar, bahkan selama siklus dunia (kappa) yang tidak memiliki Buddha dan di alam semesta yang tidak mengalami manfaat lahirnya seorang Buddha. Buddha tidak muncul di dunia hanya untuk menjelaskan cahaya ini, tetapi untuk menjelaskan cahaya pengetahuan yang menembus Empat Kebenaran Mulia (catusaccapaṭivedha-ñāṇa). Oleh karena itu, cahaya pengetahuan tentang kepemilikan kamma tidak dapat disebut cahaya ajaran Buddha—meskipun disebutkan dalam banyak kitab suci Buddhis. Ini hanyalah cahaya duniawi, cahaya yang sinarnya tidak melampaui saṃsāra.

Orang yang mendapat manfaat dari Ajaran Buddha, oleh karena itu, jika cukup bijaksana, tidak akan puas hanya dengan cahaya pengetahuan tentang kepemilikan kamma, tetapi akan membangkitkan diri mereka untuk memperoleh cahaya sejati dari Ajaran Buddha. Inilah sesungguhnya jalan bijak.

Related Post