Ovāda di Hari Uposatha

Ketika Sang Buddha berdiam di Vihāra Jetavana, Yang Mulia Girimānanda menderita penyakit serius dan kesakitan hebat. Yang Mulia Ānanda menghampiri Sang Buddha, memberi hormat, dan berkata: “Yang Mulia, Yang Mulia Girimānanda sakit parah dan sangat menderita. Atas belas kasih, Yang Mulia, mohon kunjungi beliau.”

 

Sang Buddha menjawab: “Ānanda, jika engkau pergi menemui Bhikkhu Girimānanda dan berbicara kepadanya tentang Sepuluh Persepsi (Saññā), mungkin penyakitnya akan segera mereda setelah mendengarnya.”

 

Sepuluh Persepsi tersebut adalah:

1. Persepsi tentang Ketidakkekalan (Anicca-saññā)

2. Persepsi tentang Tanpa Diri/Substansi (Anatta-saññā)

3. Persepsi tentang Ketidakindahan (Asubha-saññā)

4. Persepsi tentang Bahaya/Kerugian (Ādīnava-saññā)

5. Persepsi tentang Pelepasan (Pahāna-saññā)

6. Persepsi tentang Ketidaklekatan (Virāga-saññā)

7. Persepsi tentang Penghentian (Nirodha-saññā)

8. Persepsi tentang Kurangnya kesenangan terhadap seluruh dunia (Sabba-loke anabhirata-saññā)

9. Persepsi tentang Ketidakkekalan dalam semua Bentukan (Sabba-saṅkhāresu anicca-saññā)

10. Perhatian penuh pada Napas (Ānāpānasati)

 

(1) Persepsi tentang Ketidakkekalan (Anicca-saññā)

Apakah, Ānanda, persepsi tentang Ketidakkekalan itu?

Di sini, seorang bhikkhu yang pergi ke hutan, di bawah pohon, atau ke tempat terpencil merenungkan: “Bentuk materi tidak kekal, perasaan tidak kekal, persepsi tidak kekal, bentukan mental tidak kekal, dan kesadaran tidak kekal.”

Dengan cara ini, ia berdiam merenungkan Ketidakkekalan di dalam lima agregat keterikatan ini.

Inilah, Ānanda, yang disebut persepsi tentang Ketidakkekalan.

 

(2) Persepsi tentang Tanpa Diri/Substansi (Anatta-saññā)

Apakah, Ānanda, persepsi tentang tanpa diri itu?

Di sini, seorang bhikkhu yang pergi ke hutan, di bawah pohon atau ke tempat terpencil merenung: “Mata bukanlah diri, bentuk visual bukanlah diri; telinga bukanlah diri, suara bukanlah diri; hidung bukanlah diri, bebauan bukanlah diri; lidah bukanlah diri, rasa bukanlah diri; tubuh bukanlah diri, objek sentuhan bukanlah diri; pikiran bukanlah diri, dan objek pikiran bukanlah diri.”

Dengan cara ini, ia berdiam merenungkan ketiadaan diri yang permanen di dalam enam landasan indera internal dan eksternal ini.

Inilah, Ānanda, yang disebut persepsi tentang tanpa diri.

 

(3) Persepsi tentang Ketidakindahan (Asubha-saññā)

Apakah, Ānanda, persepsi tentang Ketidakindahan itu?

Di sini, seorang bhikkhu merenungkan tubuhnya sendiri, dari telapak kaki ke atas dan dari rambut kepala ke bawah, yang dibaluti oleh kulit dan penuh dengan berbagai kejijikan: “Di dalam tubuh ini terdapat: rambut kepala, bulu badan, kuku, gigi, kulit; daging, urat/otot, tulang, sumsum tulang, ginjal; jantung, hati, membran/selaput dada, limpa, paru-paru; usus besar, usus kecil, makanan yang belum dicerna, feses/tinja, otak, empedu, dahak, nanah, darah, keringat, lemak; air mata, minyak kulit, air liur, lendir, cairan di persendian, dan urin.”

Dengan cara ini, ia berdiam diri merenungkan kejijikan (sifat yang tidak indah) tubuh.

Inilah, Ānanda, yang disebut persepsi tentang Ketidakindahan.

 

(4) Persepsi tentang Bahaya/Kerugian (Ādīnava-saññā)

Apakah, Ānanda, persepsi tentang bahaya itu?

Di sini, seorang bhikkhu yang pergi ke hutan, di bawah pohon, atau ke tempat terpencil merenung: “Tubuh ini adalah sumber banyak rasa sakit dan banyak kerugian. Berbagai penyakit muncul di tubuh ini, seperti: penyakit mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh; sakit kepala, sakit telinga, penyakit mulut, sakit gigi, dan penyakit bibir; batuk, asma, pilek, panas dalam, dan demam; sakit perut, pingsan, disentri, nyeri kram perut, dan kolera; kusta, bisul, eksim, sakit paru-paru, dan epilepsi; kurap, gatal, kudis kutu tungau, dan ruam kulit; kulit pecah-pecah, kudis, dan gangguan darah; diabetes, wasir, bengkak fistula, dan tukak/ulkus; penyakit yang timbul dari empedu, dahak, atau angin; penyakit yang disebabkan oleh energi biologis (Sannipāta); penyakit yang disebabkan oleh perubahan iklim, perilaku yang tidak pantas, atau serangan eksternal; dan akibat dari Karma masa lalu maupun dingin, panas, lapar, haus, dan kebutuhan untuk buang air besar dan buang air kecil.”

Dengan cara ini, ia berdiam merenungkan bahaya dan kerugian di dalam tubuh ini.

Ini, Ānanda, disebut persepsi tentang bahaya.

 

(5) Persepsi tentang Pelepasan (Pahāna-saññā)

Apakah, Ānanda, persepsi tentang Pelepasan itu?

Di sini, seorang bhikkhu tidak mentolerir pikiran keinginan sensual yang muncul; ia meninggalkannya, menghilangkannya, menghancurkannya, dan membuatnya lenyap. Ia tidak mentolerir pikiran kebencian atau pikiran kekejaman yang muncul. Ia tidak mentolerir keadaan jahat atau tidak bajik yang muncul; ia meninggalkannya, menghilangkannya, menghancurkannya, dan mengakhirinya sehingga tidak muncul lagi.

Ini, Ānanda, disebut persepsi tentang Pelepasan.

 

(6) Persepsi tentang Ketidaklekatan (Virāga-saññā)

Apakah, Ānanda, persepsi tentang Ketidaklekatan itu?

Di sini, seorang bhikkhu yang pergi ke hutan, di bawah pohon, atau ke tempat terpencil merenung: “Ini damai, ini luhur: yaitu, penenangan semua bentukan, pelepasan semua keterikatan, penghancuran nafsu, pelepasan, Nibbāna.”

Ini, Ānanda, disebut persepsi tentang Ketidaklekatan.

 

(7) Persepsi tentang Penghentian (Nirodha-saññā)

Apakah, Ānanda, persepsi tentang Penghentian itu?

Di sini, seorang bhikkhu yang pergi ke hutan, di bawah pohon, atau ke tempat terpencil merenung: “Ini damai, ini luhur: yaitu, penenangan semua bentukan, pelepasan semua keterikatan, penghancuran nafsu, penghentian, Nibbāna.”

Ini, Ānanda, disebut persepsi tentang Penghentian.

 

(8) Persepsi tentang Kurangnya kesenangan terhadap seluruh dunia (Sabba-loke anabhirata-saññā)

Apakah, Ānanda, persepsi tentang Kurangnya kesenangan terhadap seluruh dunia?

Di sini, seorang bhikkhu meninggalkan segala keterlibatan, keterikatan, hambatan mental, prasangka, atau kecenderungan laten terhadap dunia, dan berdiam tanpa melekat pada hal-hal tersebut.

Ini, Ānanda, disebut persepsi tentang Kurangnya kesenangan terhadap seluruh dunia.

 

(9) Persepsi tentang Ketidakkekalan dalam semua Bentukan (Sabba-saṅkhāresu anicchā-saññā)

Apakah, Ānanda, persepsi tentang Ketidakkekalan dalam semua Bentukan?

Di sini, seorang bhikkhu merasa lelah, malu, dan jijik terhadap semua bentuk yang terkondisi.

Ini, Ānanda, disebut persepsi tentang Ketidakkekalan dalam Semua Bentukan.

 

(10) Perhatian penuh pada Napas (Ānāpānasati)

Apakah, Ānanda, Perhatian penuh pada Napas itu?

Di sini, seorang bhikkhu yang pergi ke hutan, di bawah pohon, atau ke tempat terpencil duduk dengan kaki menekuk bersilang, menjaga tubuhnya tetap tegak, dan mengembangkan kesadaran di hadapannya. Dengan penuh kesadaran ia menarik napas, dan dengan penuh kesadaran ia menghembuskan napas.

• Ia melatih dirinya: “Aku akan menarik napas dengan menyadari seluruh tubuh (pada awal, tengah, dan akhir napas).” Ia melatih dirinya: “Aku akan menghembuskan napas dengan menyadari seluruh tubuh.”

• Ia melatih dirinya: “Aku akan menarik napas dengan menyadari kegembiraan (pīti).” Ia melatih dirinya: “Aku akan menghembuskan napas dengan menyadari kegembiraan.”

• Ia melatih dirinya: “Aku akan menarik napas dengan menyadari kebahagiaan (sukha).” Ia melatih dirinya: “Aku akan menghembuskan napas dengan menyadari kebahagiaan.”

• Ia melatih dirinya untuk menarik napas yang menggembirakan pikiran, menghembuskan napas yang menenangkan pikiran, dan menghembuskan napas yang membebaskan pikiran.

• Ia melatih dirinya: “Aku akan menarik napas sambil merenungkan ketidakkekalan… merenungkan ketidaklekatan… merenungkan penghentian… dan merenungkan pelepasan diri.” Ia melatih dirinya: “Aku akan menghembuskan napas sambil merenungkan pelepasan.”

Ini, Ānanda, disebut Perhatian penuh pada Napas.

 

Kesimpulan

 

“Ānanda, jika engkau pergi kepada bhikkhu Girimānanda dan berbicara kepadanya tentang sepuluh persepsi ini, mungkin saja penderitaannya akan segera mereda setelah mendengarnya.”

 

Kemudian, Yang Mulia Ānanda mempelajari sepuluh persepsi ini dari Buddha dan pergi kepada Yang Mulia Girimānanda untuk melafalkannya. Ketika Yang Mulia Girimānanda mendengar sepuluh persepsi ini, penderitaannya segera sembuh. Yang Mulia Girimānanda sembuh dari penyakit itu, dan dengan cara itu, penderitaannya benar-benar hilang.

 

Pikiran kita, yang terbawa dalam siklus saṃsāra, menderita penyakit melekat akan keinginan indriya—penyakit yang obat penyembuhnya bukan biasa.

 

Semoga kita, dengan setiap hari mengikuti dan mempraktikkan Sepuluh Persepsi yang diajarkan oleh Buddha, pasti mencapai Nibbāna Agung: akhir sejati dari semua penderitaan, penghentian mutlak dari semua penyakit, dan alam kedamaian abadi.

Related Post