Artkel Dhamma

HARI ASADHA MEMPERINGATI APA ?

Hari Asadha terjadi 2 bulan setelah Hari Waisak untuk memperingati 2 Peristiwa Agung yang terjadi pada bulan purnama Asadha yaitu : 1. PEMUTARAN RODA DHARMA. Buddha Gautama memutar Roda Dharma dengan membabarkan Dhammacakka Pavattana Sutta di Taman Rusa Isipatana, dekat Varanasi ( sekarang India ) kepada 5 orang pertapa yang pernah bersama-sama Beliau melakukan pertapaan…

Artkel Dhamma

MAKNA PENTING HARI ASADHA

Hari Asadha adalah salah satu hari yang penting bagi umat Buddha selain hari Waisak. Seperti yang sudah diketahui secara luas, hari Asadha itu adalah untuk memperingati saat pemutaran Roda Dharma oleh Buddha Gautama. Selain memberikan kotbah Dharma-Nya yang pertama, pemutaran Roda Dharma juga sarat dengan nilai dan maksud yang agung dan mulia. Seorang Samma Sambuddha…

Artkel Dhamma

Indonesia Tipiṭaka Chanting (ITC) & Āsālha Mahāpūja 2569/2025

Asalha puja (Asadha puja) adalah puja kepada Buddha pada saat purnama di bulan Asalha. Asalha adalah nama bulan dalam penanggalan Buddhis, dua bulan setelah bulan Waisak. Asalha puja memperingati saat pertama kalinya Buddha membabarkan Dhamma dan terbentuknya Tiga Permata (Tiratana), yaitu Permata Buddha, Permata Dhamma dan Permata Sangha. Sejarah Peristiwa Suci Asalha Dua bulan setelah…

Artkel Dhamma

Mahiḷāmukha Jātaka (Wajah Wanita)

“Melalui mendengar pertama kali.” – Kisah ini diceritakan oleh Guru saat berada di Hutan Bambu (Veḷuvana), tentang Devadatta, yang setelah dapat meyakinkan Pangeran Ajātasattu, memperoleh keuntungan maupun kehormatan. Pangeran Ajātasattu membuat Vihāra yang dibangun untuk Devadatta di Gayāsīsa, dan setiap hari membawakan kepadanya lima ratus mangkuk nasi berusia tiga tahun yang wangi yang dibumbui dengan…

Artkel Dhamma

Pengaruh Pengendalian Pikiran Dalam Kehidupan

“Tak ada sesuatupun yang tidak bermanfaat seperti halnya pikiran yang tidak terkendali. Sesungguhnya pikiran yang tak terkendali tidak bermanfaat. Tak ada sesuatupun yang bermanfaat seperti halnya pikiran yang terkendali. Sesungguhnya pikiran yang terkendali adalah yang bermanfaat.” (Anguttara Nikaya I,4). A. PIKIRAN, CORAK MAUPUN SIFATNYA. Pikiran merupakan proses psikis yang menurut ajaran Buddha terdiri dari empat…

Artkel Dhamma

Menyiksa Diri Sendiri – Aku Mau Rasa Sakitku

Oleh : Dr. Phang Cheng Kar Pernahkah anda berjumpa dengan orang-orang yang menolak memakai obat penghilang rasa sakit dengan alasan atas nama ajaran Buddha? Tentu saja, tak ada salahnya menolak obat itu jika kita masih bisa menoleransikan rasa sakit — tetap itu lebih baik. Bagaimanapun juga obat penghilang rasa sakit mungkin memiliki efek samping seperti…

Artkel Dhamma

BESARNYA BUAH DARI KAMMA BAIK BERDĀNA

“Di sini, Ānanda, jika seseorang memberikan dana kepada makhluk-makhluk yang berada di alam binatang (tiracchānagata), maka pemberian itu akan menghasilkan buah (dakkhiṇā) yang dapat diharapkan berlipat seratus kali. Jika seseorang memberikan dana kepada makhluk duniawi (puthujjana) yang tidak bermoral (dussīla), maka buahnya seribu kali lipat dapat diharapkan. Jika dana diberikan kepada makhluk duniawi yang bermoral…

Artkel Dhamma

Kelahiran Kembali

(Patisandhi/punabhava) bukan berarti pemindahan atau penjelmaan, dalam agama Buddha tidak dikenal pemindahan atau penjelmaan dari nama (bathin /jiwa) setelah seseorang meninggal dunia.tetapi dikenal dengan istilah “penerusan”(patisandhi)vinnana.ketika seseorang akan meninggal dunia,kesadaran ajal (cuti citta) mendekati kepadaman dan didorong oleh kekuatan-kekuatan kamma. kemudian,kesadaran ajal (cuti-citta) padam dan langsung menimbulkan kesadaran penerusan (patisandhi-vinnana) untuk timbul pada salah satu…

Artkel Dhamma

BESARNYA BUAH DARI KAMMA BAIK BERDĀNA  

“Di sini, Ānanda, jika seseorang memberikan dana kepada makhluk-makhluk yang berada di alam binatang (tiracchānagata), maka pemberian itu akan menghasilkan buah (dakkhiṇā) yang dapat diharapkan berlipat seratus kali. Jika seseorang memberikan dana kepada makhluk duniawi (puthujjana) yang tidak bermoral (dussīla), maka buahnya seribu kali lipat dapat diharapkan. Jika dana diberikan kepada makhluk duniawi yang bermoral…

Artkel Dhamma

Apakah Faktor-faktor yang Mengotori Pāramī?

Atas pertanyaan, “Apakah faktor-faktor yang mengotori Pāramī?” jawabannya secara umum adalah: menganggap Pāramī sebagai “aku,” “milikku,” “diriku” karena kemelekatan, keangkuhan, dan pandangan salah adalah penyebab kotornya Pāramī. Jawaban yang sebenarnya, (dalam masing-masing Pāramī) adalah sebagai berikut:   (i) Berpikir untuk membeda-bedakan antara benda-benda yang didanakan dan antara penerima-penerima dāna adalah penyebab kotornya Kesempurnaan Kedermawanan. (Bodhisatta…