Atas pertanyaan, “Apakah faktor-faktor yang mengotori Pāramī?” jawabannya secara umum adalah: menganggap Pāramī sebagai “aku,” “milikku,” “diriku” karena kemelekatan, keangkuhan, dan pandangan salah adalah penyebab kotornya Pāramī. Jawaban yang sebenarnya, (dalam masing-masing Pāramī) adalah sebagai berikut:
(i) Berpikir untuk membeda-bedakan antara benda-benda yang didanakan dan antara penerima-penerima dāna adalah penyebab kotornya Kesempurnaan Kedermawanan. (Bodhisatta yang hendak memenuhi Kesempurnaan Kedermawanan harus memberikan dengan tanpa diskriminasi terhadap apa pun yang ia miliki dan siapa pun yang akan menerimanya. Ia tidak boleh memikirkan kualitas dari benda-benda yang akan didanakan tersebut, “Ini terlalu jelek untuk diberikan; ini terlalu bagus untuk disumbangkan;” atau berpikir mengenai si penerima, “Orang ini adalah orang yang tidak bermoral; aku tidak akan memberikan kepadanya.” Pikiran yang membeda-bedakan ini menyebabkan Kesempurnaan Kedermawanan tersebut menjadi tidak murni.
(ii) Berpikir untuk mendiskriminasikan antara makhluk-makhluk dan antara situasi tertentu menyebabkan kotornya Kesempurnaan Moralitas. (Kesempurnaan Moralitas harus dipenuhi terlepas dari makhluk dan situasinya, dengan berpikir, “Aku harus menghindari pembunuhan makhluk ini dan itu; aku tidak perlu menghindari pembunuhan makhluk-makhluk lainnya. Aku akan menjalani Moralitas pada situasi ini dan itu, tidak pada situasi lainnya,” pikiran yang membeda-bedakan ini menyebabkan Kesempurnaan Moralitas menjadi tidak murni.
(iii) Berpikir bahwa dua jenis sensualitas: objek indria (vatthu kāma) dan kenikmatan indria (kilesa kāma), serta tiga alam kelahiran sebagai sesuatu yang menyenangkan, dan berpikir bahwa mengakhiri sensualitas dan kelahiran sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan adalah penyebab kotornya Kesempurnaan Melepaskan keduniawian.
(iv) Pandangan salah tentang “aku,” “milikku” adalah penyebab kotornya Kesempurnaan Kebijaksanaan.
(v) Pikiran yang lamban yang mengarah kepada kemalasan dan kelambanan dan kegelisahan adalah penyebab kotornya Kesempurnaan Usaha
(vi) Pikiran yang membeda-bedakan antara diri sendiri dan makhluk lain (orangku dan orang mereka) adalah penyebab kotornya Kesempurnaan Kesabaran.
(vii) Mengaku melihat, mendengar, menyentuh dan mengetahui padahal tidak melihat, tidak mendengar, tidak menyentuh dan tidak mengetahui; atau sebaliknya adalah penyebab kotornya Kesempurnaan Kejujuran.
(viii) Menganggap bahwa prasyarat Kebuddhaan, Pāramī, cāga, cariya adalah tidak bermanfaat sedangkan lawannya adalah bermanfaat adalah penyebab kotornya Kesempurnaan Tekad.
(ix) Berpikir siapa yang menguntungkan dan siapa yang tidak (siapa yang bersahabat dan siapa yang tidak bersahabat) adalah penyebab kotornya Kesempurnaan Cinta Kasih.
(x) Membedakan antara objek indria yang disukai dan yang tidak disukai yang ditemui adalah penyebab kotornya Kesempurnaan Ketenangseimbangan.
RAPB – Miṅgun Sayadaw


