Artkel Dhamma

Bimbisāra Raja Penyantun yang Pertama

Dari Gayāsīsa, diiringi oleh Kassapa bersaudara dan seribu orang bhikkhu yang dulunya merupakan petapa berambut pilin, Yang Terberkahi melanjutkan perjalanan menuju Rājagaha, ibukota Magadha. Ia mengunjungi kota ini terlebih dahulu untuk memenuhi janji-Nya kepada Raja Bimbisāra. Ketika tiba, mereka tinggal di Hutan Palma Muda (Laṭṭhivana) yang lebat di Cetiya Supatiṭṭha.   Ketika mendengar kabar gembira…

Artkel Dhamma

MENGHADAPI KETAKUTAN DENGAN KESUCIAN BATIN

(Refleksi atas Bhayabherava Sutta, MN 4) Pendahuluan Dalam gelapnya malam hutan, bahkan suara ranting patah bisa menjadi teror. Ketika sendiri, jauh dari manusia, berbagai ketakutan muncul dalam batin. Namun dalam Bhayabherava Sutta, Sang Buddha menunjukkan bahwa ketakutan bukan di luar, melainkan berakar dari dalam. Ketenangan sejati datang bukan dari menghindari kegelapan, melainkan dari pemurnian batin. Kisah…

Artkel Dhamma

MENGHANCURKAN NODA BATIN

(Refleksi atas Sabbasava Sutta, MN 2) Pendahuluan Pernahkah kita merasa bahwa meski telah berbuat baik, hati ini masih mudah terseret oleh nafsu, kemarahan, atau kebingungan? Itulah Asava—kekotoran batin halus yang terus merembes, membasahi pikiran, dan menyuburkan penderitaan.  Dalam Sabbasava Sutta, Sang Buddha menunjukkan tujuh cara untuk “Mengendalikan dan menghancurkan semua noda batin”, yaitu cara-cara untuk…

Artkel Dhamma

PERUMPAMAAN LIMA JENIS GELAS

Gelas Pertama adalah gelas yang tertutup. Karena tertutup, gelas ini tidak tidak dapat diisi dengan apapun. Gelas ini menggambarkan sikap seseorang yang tidak mau menerima kebenaran apapun dari orang lain. Orang ini menganggap ajaran orang lain adalah salah, meskipun dirinya sendiri tidak tahu mana yang benar. Ia tak mau menimbang dan merenungkan kata-kata orang lain….

Artkel Dhamma

BUDDHISME 4.0

“Paññavanto ayaṃ dhammo, nāyaṃ dhammo duppaññassā’ti.” Dhamma sesungguhnya untuk orang bijaksana, bukan untuk orang tidak bijaksana. (Anuruddha-mahāvitakka Sutta; AN 8.30) Dewasa ini, agama Buddha mendapat sambutan hangat di berbagai belahan dunia, jauh melebihi di tanah asalnya. Masyarakat luas sangat tertarik mempelajari dan mempraktikkan ajaran Buddha walaupun statusnya bukanlah seorang buddhis. Ajaran yang sudah berumur lebih…

Artkel Dhamma

Kamma Penentu Kelahiran Kembali

Attā hi attano nātho, ko hi nātho paro siyā Attan’āva sudantena, nāthaṁ labhati dullabhaṁ Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri, karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari. (Dhammapada 160) Dalam kehidupan kita sebagai manusia tentunya…

Artkel Dhamma

Damai tak Tergoyahkan

Sang Buddha mengajarkan kita untuk merenung-kan kondisi yang mengacaukan pikiran itu. Kapan pun pikiran bergerak, ia menjadi tidak stabil dan tak permanen (anicca), tak memuaskan (dukkha) dan bukan sebuah diri (anattâ). Ini merupakan tiga corak universal dari semua fenomena yang terkondisi. Sang Buddha mengajarkan kita mengamati serta mengkontemplasikan pergerakan pikiran ini. Demikian pula halnya dengan…

Artkel Dhamma

Kisah Arahat Ekudana

Bhikkhu dalam cerita ini hidup di sebuah hutan kecil di dekat Savatthi. Ia dikenal dengan nama Ekudana, sebab ia hanya hafal satu bait saja dari Kitab Udana. Tetapi Thera tersebut mengerti sepenuhnya makna Dhamma yang terkandung dalam bait tersebut. Pada setiap hari uposatha, dia mendesak orang lain untuk mendengarkan Dhamma, dan dia sendiri akan mengucapkan…

Artkel Dhamma

ĀNĀPĀNASSATI

Maka yang dimaksud dengan ānāpānassati adalah: Mengamati masuk dan keluarnya napas, lalu membangkitkan catukka-pañcaka-jhāna (empat atau lima tingkat konsentrasi), kemudian mengembangkan vipassanā hingga mencapai tingkat Arahat — demikian yang dimaksudkan.   Seberapa besar buah dari ānāpānassati? Mahapphalā hoti – ‘Besar buahnya’ itu seberapa besar?   Dijelaskan:   1. Seorang bhikkhu yang berlatih ānāpānassati dengan tekun,…

Artkel Dhamma

Anguttara Nikaya IV – 216

Bhagawa berkata kepada para bhikkhu, “Anggaplah benar bahwa Hatthaka dari Alavi diberkahi dengan tujuh kelebihan yang menakjubkan. Apakah ketujuh hal itu? Ia memiliki keyakinan, kebajikan, kesadaran, takut tercela, terpelajar, kemurahan hati, dan Kebijaksanaan.” Setelah berkata demikian, Bhagawa bangkit dari tempat duduknya dan memasukki tempat tinggal-Nya. Lalu seorang bhikkhu datang ke tempat Hatthaka berada dan memberitahukan…