“Samantacakkhu” — Dalam hal ini, cakkhu (mata/penglihatan) terdiri atas lima jenis:
1.Buddhacakkhu: “Para bhikkhu, aku memandang dunia dengan mata Buddha” — inilah yang disebut buddhacakkhu.
2. Dhammacakkhu: “Penglihatan Dhamma yang bebas dari debu dan noda” — ini adalah penglihatan awal terhadap jalan, disebut dhammacakkhu.
3. Ñāṇacakkhu: “Mata kebijaksanaan muncul” — ini disebut ñāṇacakkhu.
4. Samantacakkhu: Ini disebut pengetahuan sempurna atas semua hal (sabbaññutañāṇa).
5. Dibbacakkhu: “Para bhikkhu, aku melihat dengan mata dewa yang murni” — ini disebut dibbacakkhu.
Di sini, yang dimaksud adalah samantacakkhu, yaitu pengetahuan menyeluruh atas semua dhamma yang patut diketahui. Artinya, ia melihat seluruh dhamma dari segala arah dengan pengetahuan serba tahu (sabbaññutañāṇa).
Secara kata-kata, samantacakkhu berarti “melihat semua dhamma yang patut diketahui dari segala arah.” Akar katanya adalah cakkh, yang berarti melihat.
Karena itu, dalam Mahāniddesa disebut: “Samantacakkhu berarti sabbaññutañāṇa.”
“Samantacakkhu assa atthīti samantacakkhu, buddho” — artinya, karena Buddha memiliki samantacakkhu, maka beliau disebut demikian.
Seperti yang disebutkan dalam Paṭisambhidāmagga:
“Tidak ada satu pun yang tidak dilihat oleh-Nya di dunia ini, Demikian pula, tidak ada yang tidak diketahui atau tak patut diketahui;
Semua dhamma yang patut dipahami telah Ia ketahui seluruhnya,
Maka oleh karena itu Ia disebut Samantacakkhu.”
Maknanya: Bagi Sang Tathāgata, tidak ada satu pun jenis dhamma di dunia ini yang tidak dilihat. Tidak ada pula dhamma yang tidak diketahui, tidak dipahami, atau tidak boleh diketahui. Segala jenis dhamma yang patut diketahui — semua itu telah diketahui dan ditembus oleh Sang Tathāgata. Karena itu, Ia disebut Samantacakkhu.
Itulah Samantacakkhu.



