Attā hi attano nātho, ko hi nātho paro siyā
Attan’āva sudantena, nāthaṁ labhati dullabhaṁ
Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri, karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari.
(Dhammapada 160)
Dalam kehidupan kita sebagai manusia tentunya banyak sekali kamma atau tindakan yang disertai kehendak yang telah kita lakukan.Apabila kita mau merenungkan setiap tindakan yang dilakukan dengan disertai kehendak, maka biasanya tindakan yang disertai kehendak buruklah yang sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu juga banyak tindakan yang disertai kehendak baik yang sudah dilakukan. Oleh sebab itu, ada kamma di arus batin yang dikategorikan sebagai empat jenis berdasarkan hak yang lebih tinggi dalam memerankan tugasnya, Menghasilkan kelahiran kembali di kehidupan berikutnya pada saat menjelang kematian.
<Garuka Kamma>
(Kamma Berat)
Kuatnya perbuatan yang tidak bisa dihentikan ataupun digantikan dengan kamma lain adalah sebagai penentu kelahiran berikutnya. Dengan kata lain, kamma ini pasti akan membuahkan hasilnya untuk terlahir di kehidupan berikutnya. Kamma berat ini dibagi menjadi dua yaitu;
a.Kamma berat yang buruk yaitu lima kejahatan yang paling berat.
Lima kejahatan ini menghalangi seseorang untuk mencapai alam kebahagiaan dan juga Nibbāna.
Lima kamma buruk tsb yaitu;
1)Mātughāta:’ membunuh Ibu
2)Pitughāta: membunuh Ayah
3)Arahantaghāta: membunuh seorang Arahat
4)Lohituppāda: melukai seorang Buddha
5)Saṅghabheda: memecah belah Saṅgha
Aṅguttara Nikāya 5.129 (AN 5.129) – Sutta Upakkilesa: Sang Buddha menyebutkan lima tindakan ini sebagai “perbuatan yang akibatnya pasti” (ānantarika-kamma) yang merupakan penghalang dan rintangan yang menyebabkan seseorang terlahir di alam sengsara, di neraka, untuk satu kappa (satu siklus dunia). Lima perbuatan itu adalah:
- Membunuh ibu (
Mātughāta) - Membunuh ayah (
Pitughāta) - Membunuh seorang Arahat (
Arahantaghāta) - Dengan niat jahat melukai seorang Tathāgata (Buddha) hingga berdarah (
Lohituppāda) - Menyebabkan perpecahan dalam Saṅgha (
Saṅghabheda)
b. Dari sisi baiknya, lima kamma baik bermateri halus (rūpāvacarakusala kamma) dan empat kamma baik tidak bermateri (arūpāvacarakulasa kamma) adalah kamma berat yang baik. Orang yang mencapai jhāna dan bisa mempertahankannya sampai dia mati akan terlahir kembali di alam brahmā.
Orang-orang yang mencapai Sotāpanna yang diperoleh dalam meditasi pandangan terang mendapatkan kamma baik di duniawi (lokuttara kusala kamma) yang juga berfungsi sebagai kamma berat yang baik. Kamma ini akan menutup pintu empat alam menderita selamanya. Jadi hanya akan terlahir kembali di alam bahagia.
Kalau seseorang mencapai jhāna dan kemudian melakukan salah satu dari lima kejahatan berat, kamma baiknya akan terkalahkan dengan tindakan jahatnya dan tindakan jahat ini akan menyebabkan kelahiran kembali di alam neraka. Contohnya, sepupu Sang Buddha yang ambisius, Devadatta kehilangan kekuatan batinnya dan terlahir kembali di neraka Avīci karena melukai Sang Buddha dan menyebabkan perpecahan Saṅgha.
<Āsañña Kamma>
(kamma menjelang kematian)
Perbuatan baik ataupun perbuatan buruk yang kuat dilakukan atau diingat beberapa saat menjelang kematian. Apabila selama hidup tidak melakukan kamma berat, maka kamma terdekat saat kematian inilah yang pada umumnya akan berperan dalam kelahiran kembali.
Apabila seseorang mempunyai karakter buruk melakukan perbuatan baik sesaat sebelum meninggal atau mengingat perbuatan baik yang pernah dilakukannya pada saat-saat terakhir, maka akan terlahir kembali di alam bahagia.
Sebaliknya, apabila seseorang memikirkan perbuatan buruk sesaat sebelum kematian, maka akan mengalami kelahiran kembali yang tidak membahagiakan.
Dalam Suttapitaka
- Majjhima Nikāya 136 (MN 136) – Mahākammavibhaṅga Sutta: Sutta ini secara tidak langsung mendukung konsep Āsanna Kamma. Dijelaskan bahwa seseorang yang berbuat buruk seumur hidupnya bisa saja terlahir di alam bahagia. Penjelasannya adalah karena pada saat kematian, ia mungkin memiliki pandangan benar atau pikiran baik yang muncul (
kusala kammayang muncul saatmaranakale). Sebaliknya, orang baik bisa terlahir di alam sengsara karena pikiran buruk atau pandangan salah muncul sesaat sebelum meninggal. - Saṃyutta Nikāya 42.6 (SN 42.6) – Sutta Maniculaka: Dalam sutta ini, seorang kepala desa bertanya kepada Sang Buddha bagaimana mungkin seseorang yang jahat seperti pemburu bisa terlahir di surga. Sang Buddha menjelaskan bahwa nasib seseorang pada saat kematian bergantung pada kondisi batinnya pada saat itu. Jika seseorang, meskipun pernah berbuat buruk, bertemu dengan ajaran yang benar dan mengembangkan keyakinan di saat-saat terakhirnya, pikirannya yang terangkat itu dapat menuntunnya ke kelahiran yang baik.
Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mengingatkan orang yang sedang meregang nyawa akan perbuatan baiknya atau mendorongnya membangkitkan pikiran-pikiran baik selama saat-saat terakhirnya.
<Āciṇṇa Kamma>
(kamma kebiasaan)
Perbuatan baik ataupun buruk yang dilakukan secara terus-menerus atau sudah menjadi kebiasaan, bisa juga sebuah perbuatan yang dilakukan sekali dan sangat sering diingat kembali.
• Bagi seseorang yang memasak makanan setiap hari untuk didanakan kepada para bhikkhu, maka perbuatan baik ini menjadi kamma kebiasaan yang baik untuk orang itu.
• Begitu pula bagi seseorang yang menjalankan atau melaksanakan ajaran moral setiap hari dan merenungkan moralitasnya dengan teratur, pengamatannya pada moralitas menjadi kamma kebiasaan baiknya.
• Untuk orang yang menjalani meditasi secara teratur, latihan meditasi ini akan menjadi kamma kebiasaan yang baik.
Dalam Suttapitaka di jelaskan sebagai berikut
- Saṃyutta Nikāya 22.101 (SN 22.101) – Sutta Bīja (Benih): Sutta ini menggunakan perumpamaan benih yang ditanam di ladang. Kamma diibaratkan sebagai ladang, kesadaran sebagai benih, dan nafsu keinginan sebagai airnya. Bagi makhluk yang terhalang oleh ketidaktahuan dan terbelenggu oleh nafsu keinginan, kesadaran mereka akan “bertunas” di alam yang sesuai dengan kualitas kamma mereka (rendah, sedang, atau unggul). Kebiasaan (
āciṇṇa) membentuk kualitas “ladang kamma” ini. - Aṅguttara Nikāya 3.76 & 3.77 (AN 3.76 & 3.77): Sutta-sutta ini berbicara tentang bagaimana kecenderungan atau kebiasaan seseorang (
dhātu) akan menuntunnya untuk bergaul dengan orang-orang yang memiliki kecenderungan serupa. Orang yang bermoralitas buruk akan cenderung berkumpul dengan sesamanya, demikian pula yang bermoralitas baik. Kebiasaan ini memperkuat kamma yang sesuai dan akan memengaruhi kelahiran kembali.
Inilah kamma kebiasaan yang pada umumnya akan berperan dalam menghasilkan kelahiran kembali, apabila tidak ada kamma berat dan kamma menjelang kematian yang kuat.
<Kaṭattā Kamma>
(kamma yang tidak tentu)
Perbuatan apa saja yang tidak termasuk dalam kategori yang sebelumnya, yang sudah dilakukan sebelumnya dan sudah dilupakan, tetapi yang cukup kuat untuk menghasilkan kelahiran kembali. Kamma jenis ini menjadi berlaku ketika tidak ada ketiga jenis kamma lain untuk melakukan fungsinya.
Oleh sebab itu, kita tidak seharusnya meremehkan dan membiarkan kamma yang tidak tentu yang buruk menentukan kelahiran kembali.
Kita bisa membentuk dan menentukan tujuan sesuai keinginan kita.
Jadi kita seharusnya mengembangkan kamma kebiasaan yang baik.
Penting bagi kita untuk hidup dengan baik, tetapi lebih penting lagi untuk mati dengan baik.
• Saat sekarang adalah waktu terbaik untuk mempersiapkan kematian kita.
• Cara terbaik mempersiapkan kematian kita adalah dengan mengembangkan kamma kebiasaan yang baik.
• Kita bisa memilih perbuatan baik apapun yang kita suka seperti berdana, menjaga moral yang baik atau bermeditasi.
• Apabila kita melakukannya dengan teratur, perbuatan itu akan menjadi kamma kebiasaan dan akan menghasilkan kelahiran kembali yang baik.
Dalam Suttapitaka di jelaskan sebagai berikut:
- Aṅguttara Nikāya 3.101 (AN 3.101) – Sutta Loṇakapalla (Gumpalan Garam): Sutta ini memberikan analogi yang sangat baik. Sang Buddha menjelaskan bahwa akibat dari perbuatan buruk yang sama bisa dirasakan sangat berbeda oleh dua orang. Bagi orang yang tidak mengembangkan batinnya (tidak memiliki banyak kamma baik), perbuatan buruk kecil ibarat segumpal garam yang dimasukkan ke dalam secangkir air kecil, membuatnya sangat asin dan tidak bisa diminum. Bagi orang yang telah mengembangkan batinnya (memiliki banyak kamma baik), perbuatan buruk yang sama ibarat segumpal garam yang dilempar ke Sungai Gangga, yang rasanya tidak akan berubah. Ini menunjukkan adanya “cadangan” kamma baik (
Kaṭattā kammayang baik) yang bisa mengurangi dampak kamma buruk yang tidak terlalu berat. - Cūḷakammavibhaṅga Sutta (MN 135): Sutta ini sendiri adalah bukti adanya
Kaṭattā Kamma. Berbagai tindakan seperti berdana, menghormat, tidak iri hati, dsb., yang mungkin bukanGarukaatauĀciṇṇa, tetap memiliki potensi untuk berbuah menjadi kekayaan, kelahiran yang luhur, dan kebijaksanaan di kehidupan mendatang.
Semoga semua makhluk berbahagia



