MAKNA LUHUR YANG MELEKAT PADA KATA SANNIPATA

Masih banyak umat Buddha yang belum mengetahui apa sesungguhnya arti kata dan makna yang terkandung di dalam kata “Sannipata” sehingga membuat publik menjadi bingung dengan pemakaian kata tersebut di luar dari kebiasaan pemahaman makna yang selama ini dipahaminya.

Di bawah ini akan dikupas arti kata serta makna luhur dari kata “Sannipata” dalam Buddhisme.

I. ARTI KATA SANNIPATA DALAM HINDUISME.

Mengutip dari https://www.wisdomlib.org/definition/samnipata disebutkan dalam Hinduisme kata Sannipāta mempunyai arti :

1. Salah satu dari 20 aspek Tāla ( Pengukur Waktu ) yaitu ketukan atau pukulan ritmis yang mengukur waktu musik.

2. Kontak atau hubungan antara 2 hal.

3. Berkumpul.

4. Penyakit tipus yang merupakan salah satu dari berbagai penyakit yang disebutkan dalam Yogasārasaṅgraha karya Vāsudeva.

5. Demam yang disebabkan oleh kerusakan dari 3 macam Doṣa.

II. ARTI KATA SANNIPATA DALAM BUDDHISME.

Mengutip dari https://www.wisdomlib.org/definition/samnipata disebutkan dalam Buddhisme kata Sannipāta mempunyai arti :

1. Bertemunya berbagai sebab dan kondisi ( Kitab “Mahāprajñāpāramitāśāstra” Bab 2 ).

2. Kumpulan ( Kitab “Gaganagañjaparipṛcchā” Bab 8 dari “Mahāsaṃnipāta” ).

3. Pertemuan Sangha ( Kitab “Vajratuṇḍasamayakalparāja” ).

4. Perhimpunan.

5. Demam hebat.

6. Sejenis waktu atau ukuran musik.

7. Perang.

8. Konjungsi planet-planet.

III. MAKNA LUHUR SANNIPATA DALAM AJARAN BUDDHA.

Dalam kitab “The Great Chronicle of Buddhas” penulis Tipitakadhara Mingun Sayadaw terjemahan bahasa Indonesia “Riwayat Agung Para Buddha” oleh Indra Anggara disebutkan “Sannipata” sebagai “Pertemuan Para Siswa”.

“Pertemuan Para Siswa” yang dimaksud bukan hanya pertemuan biasa oleh para bhikkhu atau oleh umat Buddha tetapi pertemuan yang memiliki 4 karakteristik dari para peserta yaitu :

1. Pesertanya adalah para bhikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian tertinggi yaitu Arahat.

2. Semua bhikkhu yang hadir dalam pertemuan tersebut ditahbiskan sendiri oleh Buddha dengan hanya mengatakan “Ehi bhikkhu”.

3. Semua bhikkhu itu memiliki kemampuan Chalabhiñña.

4. Para bhikkhu itu hadir dalam pertemuan secara sendiri-sendiri tanpa diundang terlebih dahulu.

Selain 4 karakteristik dari para peserta, Sannipata juga mempunyai keistimewaan dengan dibabarkannya Ovada Patimokkha oleh Buddha.

Ovada Patimokkha merupakan intisari pedoman tuntunan kepada umat dan bhikkhu.

Sannipata ( Pertemuan Para Siswa ) hanya terjadi jika ada kemunculan seorang Samma Sambuddha.

Setiap Samma Sambuddha dapat mengadakan Sannipata antara 1-3 kali sepanjang kehidupan-Nya.

Seperti telah diketahui di bumi yang kita tempati saat ini telah pernah mengalami kemunculan 4 orang Samma Sambuddha yaitu : Buddha Kakusandha, Buddha Konagamana, Buddha Kassapa, dan Buddha Gautama.

Masing-masing dari Buddha tersebut hanya mengadakan Sannipata 1 kali saja.

Dengan demikian sejak bumi ini terbentuk hingga sekarang hanya ada 4 Sannipata saja di bumi yang kita tempati ini dan kelak baru akan ada Sannipata lagi saat kemunculan Buddha Maitreya setidaknya dalam kurun waktu 576 juta tahun mendatang.

Selama Buddha Maitreya belum muncul maka tidak mungkin ada Sannipata.

Peristiwa Pertemuan Para Siswa itu ada juga yang menyebutnya sebagai Savaka Sannipata dengan merujuk pada pesertanya adalah siswa Buddha yang telah mencapai Arahat ( Savaka Buddha ).

Ada juga yang menyebutkan sebagai Caturangga Sannipata dengan merujuk pada 4 kriteria yang dimiliki oleh seluruh pesertanya ( Caturangga ).

Istilah yang umum dan yang selama ini telah digunakan untuk menyebutkan peristiwa agung tersebut adalah hanya dengan menyebutkan “Sannipata” saja.

Dengan hanya menyebut Sannipata maka siapa pun praktisi Buddhis pasti persepsinya akan tertuju pada peristiwa agung yang diperingati saat Hari Magha Puja.

IV. KATA / FRASA MEMPENGARUHI PANDANGAN PEMIKIRAN.

Bahasa sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan pemikiran seseorang kepada orang lain harus menggunakan kata-kata yang tepat agar persepsi antara pemberi dan penerima dapat sama.

Dalam bentuk tulisan sangat penting menuliskan dan menggunakan istilah kata yang sesuai karena suatu kata yang sama dapat berbeda maknanya jika digunakan dalam komunitas dan lingkungan yang berbeda.

Suatu kata yang memiliki makna biasa-biasa saja akan menjadi luar biasa ketika digunakan dalam komunitas dan lingkungan tertentu.

Begitu pula dengan kata “Sannipata” yang sebetulnya mempunyai makna umum dan digunakan juga dalam lingkungan Hinduisme tetapi jika digunakan dalam lingkungan Buddhis maka kata “Sannipata” menjadi memiliki makna yang tidak umum lagl.

Dalam Buddhisme kata “Sannipata” mempunyai makna spiritual yang sakral.

Ketika seorang praktisi Buddhisme mengucapkan kata “Sannipata” ( tanpa perlu mengucapkan dengan lengkap “Savaka Sannipata” ataupun “Caturangga Sannipata” ) maka secara otomatis pasti akan tertuju pada peristiwa yang terjadi saat Magha Puja.

Dalam Kitab “The Great Chronicle of Buddhas” ( yang telah dimasukkan sebagai bagian dari Tripitaka dalam Khuddaka Nikaya ) oleh penulis ditemukan setidaknya ada penyebutan “Sannipata” sebanyak 67 kali, penyebutan “Savaka Sannipata” sebanyak 1 kali, dan untuk penyebutan “Caturangga Sannipata” belum ditemukan.

Sannipata tidak hanya dapat diartikan sebagai “pertemuan besar” saja tetapi harus secara lengkap diartikan sebagai “Pertemuan Besar Para Siswa Buddha yang Memenuhi 4 Kriteria”.

V. JANGAN MEN-DEGRADASI-KAN MAKNA LUHUR DARI SUATU PERISTIWA AGUNG.

Penulis masih ingat pada tahun 1980-an pernah ada sekelompok komunitas Buddhis yang menggunakan kata “Hari Balas Budi” untuk menyandingkan kata “Hari Waisak” sehingga makna Hari Waisak menjadi bias.

Pada saat itu komunitas Buddhis di luar kelompok tersebut bersatu-padu menolak pembiasan makna Waisak yang seharusnya untuk memperingati kelahiran Sidharta Gautama, pertapa Gautama menjadi Buddha, dan Buddha Gautama Parinibbana menjadi hanya bermakna sebagai balas budi saja.

Komunitas Buddhis menolak pen-degradasi-an makna Waisak menjadi hanya sebatas Balas Budi saja.

Jika melihat dari sisi penggunaan kata “balas budi” terlihat sebagai istilah kata yang digunakan oleh umum dan biasa-biasa saja bahkan memiliki makna positif.

Demikian juga dengan kata “Waisak” inipun memiliki makna umum karena tidak hanya mengacu pada pengertian terhadap 3 peristiwa agung saja tetapi juga dipakai untuk menamakan bulan dalam penanggalan Pali / Sanskerta.

Namun ketika kata “Waisak” digunakan dalam Buddhisme maka tidak dapat lagi dimaknai sebagai makna umum dan biasa-biasa saja karena kata “Waisak” memiliki nilai spiritual serta kesakralan bagi umat Buddha.

Begitu menyebut “Waisak” secara otomatis persepsi tertuju pada makna yang memperingati 3 peristiwa agung pada diri seorang Buddha.

Pengalaman sejarah Ini membuktikan bahwa penggunaan istilah kata / frasa harus tepat dalam sesuatu komunitas maupun lingkungan.

Penulis menghimbau hendaknya praktisi Buddhis yang sudah “expert”, ulama Buddhis, aktivis Buddhis, beserta para pengayom umat Buddha dapat secara arif bijaksana menggunakan istilah kata / frasa dalam Buddhisme demi untuk kelanggengan Buddha Sasana.

Janganlah sembarangan menggunakan istilah kata dalam Buddhisme sehingga nilai-nilai kesakralan yang terkandung di dalam kata tersebut menjadi ter-degradasi sebagai istilah kata yang bernilai biasa saja apalagi dipakai pada sembarang kondisi yang tidak berhubungan dengan peristiwa yang ada di balik istilah kata / frasa tersebut.

Jangan sampai makna luhur dari peristiwa-peristiwa agung yang terjadi dalam riwayat para Buddha menjadi ter-degradasi dengan digunakannya kata / frasa yang tidak pada tempatnya.

Jikalaupun ingin mengganti penamaan istilah sesuatu kata hendaknya memilih perbendaharaan kata yang tidak menyentuh kesakralan peristiwa yang dialami oleh seorang Buddha.

Tatabahasa Pali / Sanskerta tidak akan kekurangan perbendaharaan kata jika memang serius menggali di dalamnya.

Jangan sampai kelak konser lagu Buddhis disebut juga Sannipata.

Referensi :

1. Kitab “The Great Chronicle of Buddhas” penulis Tipitakadhara Mingun Sayadaw terjemahan bahasa Indonesia “Riwayat Agung Para Buddha” oleh Indra Anggara.

2. https://www.wisdomlib.org/definition/samnipata

#ArtikelDharmaVKL

(format facebook)

VI. KUTIPAN TRIPITAKA.

ANGUTTARA NIKAYA 2:20

DUKANIPĀTA

ADHIKARAŅA VAGGA

SADDHAMMA SUTTA

“Dve me bhikkhave dhammā Sad’Dhammassa sammosāya antara-dhānāya saṅvantanti.

Katame dve ?

Dunnikkhittañ ca pada-vyañ janaṃ,

attho ca dunnīto.

Dunnikakhittassa bhikkhave pada-vyañ janassa attho pi dunnayo hoti.

Ime kho bhikkhave dve dhammā Sad’Dhammassa sammosāya antara-dhānāya saṃvaṭṭantī.”

 

“Dve me bhikkhave dhammā Sad’Dhammassa ṭhitiyā asammosāya anantara-dhān saṅvantanti.

Katame dve ?

Sunikkhittañ ca pada-vyañ janaṃ,

attho ca sunīto.

Sunikkhittassa bhikkhave pada-vyañ janassa attho pi sunayo hoti.

Ime kho bhikkhave dve dhammā Sad’Dhammassa ṭhitiyā asammosāya anantara-dhān saṃvaṭṭantī” ti.”

 

“Para bhikkhu, ada 2 hal yang mengarah pada kemunduran dan lenyapnya Dhamma Sejati.

Apakah 2 hal ini ?

Kata-kata dan frasa-frasa yang ditata dengan buruk dan makna yang diinterpretasikan dengan buruk.

Ketika kata-kata dan frasa-frasa

ditata dengan buruk, maka makna diinterpretasikan dengan buruk.

Kedua hal ini mengarah pada kemunduran dan lenyapnya Dhamma Sejati.”

 

“Para bhikkhu, ada 2 hal yang mengarah pada ketidakmunduran dan ketidaklenyapan Dhamma Sejati.

Apakah 2 hal ini ?

Kata-kata dan frasa-frasa yang ditata dengan baik dan makna yang diinterpretasikan dengan baik.

Ketika kata-kata dan frasa-frasa

ditata dengan baik, maka makna diinterpretasikan dengan baik.

Kedua hal ini mengarah pada ketidakmunduran dan ketidaklenyapan Dhamma Sejati.”

Related Post