Namo Buddhaya
Untuk menambah wawasan kita
Prajapati – Biksuni Pertama —-
Pada tahun kelima setelah Pencerahan Sempurna, ketika Buddha tinggal di sebuah wihara dekat Wesali, la menerima betita bahwa ayah-Nya sakit keras. Segera la kembali ke Kapilawastu bersama para murid-Nya.
Menjelang ayah-Nya meninggal, Buddha menyampaikan khotbah tentang ketidakkekalan segala sesuatu.
Pada akhir khotbah-Nya itu. Ia berkata, “Tak ada yang perlu ditakuti, Ayah.
Anda memiliki kebajikan sejati dan Anda tak memiliki pikiran jahat. Ingatlah Dharma dan tenangkan batin Anda.” Mendengar jaminan Buddha, raja meninggal dalam kedamaian setelah menjadi seorang Arahat.
Setelah mengikuti pemakaman ayah-Nya, Buddha masih tinggal di Hutan Beringin. Pada masa inilah bibi-Nya, Prajapati. memutuskan untuk menjadi seorang biksuni. Buddha menolak pemohonannya dan kembali ke Wesali.
Berkukuh pada tekadnya, Prajapati memotong rambutnya, mengenakan jubah kuning, kemudian disertai oleh Yasodhara dan wanita-wanita Sakya yang lain, berjalan ke Wesali.
Perjalanan panjang membuat kaki mereka bengkak. Dengan wajah yang menampakkan keletihan dan dengan pakaian yang kotor berdebu, mereka akhirnya tiba di wihara di mana Buddha tengah berkhotbah, Ananda melihat keadaan mereka yang sedemikian menyedihkan.
Memahami keteguhan hati mereka untuk bergabung ke dalam Sanggha, ia bertanya kepada Buddha apakah perempuan sanggup menempuh kehidupan suci dan menjadi Arahat apabila mereka menolak kehidupan duniawi dan mempraktikkan Ajaran. Buddha menyatakan dengan tegas bahwa mereka bisa.
Ananda mengemukakan bahwa kalau begitu, mereka seharusnya diperkenankan bergabung ke dalam Sanggha. Prajapati dan sahabat-sahabatnya kemudian ditahbiskan dan dengan demikian terbentuklah Sanggha Biksuni.
Khema —-
Khema adalah seorang ratu yang cantik pendamping Raja Bimbisara.
Meskipun raja telah seringkali mendorongnya untuk menemui Buddha, ia selalu menolak. Mengetahui bahwa ia tertarik pada hal-hal yang indah, raja mengatur para penyair untuk menyusun pelbagai puisi tentang keindahan Hutan Bambu tempat Buddha tinggal, dan menampilkan para pembaca puisi untuk melagukan syair-syair ini di istana.
Terpesona oleh syair-syair itu, Khema memutuskan untuk pergi ke Hutan Bambu dan melihat sendiri keindahannya.
Sewaktu mengagumi pemandangan di sana, ia melihat ada seorang gadis yang luar biasa cantiknya, berdiri di samping Buddha dan mengipasi-Nya.
Khema mengamati bahwa gadis itu jauh lebih cantik dari dirinya dan tertarik untuk melihatnya lebih dekat.
Ia bergeser dan bergeser terus mendekati Buddha
Sebenarnya, gadis cantik itu hanyalah suatu visiun yang diciptakan oleh Buddha dengan daya adikodrati-Nya.
Sewaktu Khema menatapnya, gadis itu berubah menjadi wanita tua yang ompong, beruban, dan berkeriput kulitnya Wanita itu terlihat semakin lemah dan akhirnya roboh dan mati.
Khema terkejut. Lalu Sang Buddha berkata, “Khema, kecantikan tidaklah kekal.”
Saat itu dan di tempat itu juga, Khema menyadari fakta kehidupan ini.
Buddha menambahkan. “Mereka yang diperbudak oleh nafsu keinginan adalah seperti laba-laba yang terjerat di dalam sarang yang telah ia buat bagi dirinya sendiri. Mereka yang bebas dan telah menghancurkan ikatan nafsu keinginan, tak tegiur dalam kenikmatan indra.”
Sewaktu mendengar kata-kata ini, Khema menjadi Arahat dan atas izin raja, memasuki Sanggha Biksuni.
Kemudian, ia menjadi murid perempuan yang terkemuka. Terkenal karena kebijaksanaannya, ia sering membantu Buddha dalam mengajar para biksuni.
Uppalawanna —-
Uppalawanna, murid perempuan terkemuka yang kedua terkenal karena kekuatan supernaturalnya.
Terlahir sebagai putri seorang bankir di Srawasti, yang diberi nama Uppalawanna (warna sekuntum teratai) karena kulitnya seindah teratai.
la menikah dengan seorang pedagang namun perkawinannya mengalami kegagalan. Setelah itu, ia menikah dua kali lagi namun kedua perkawinannya itu pun gagal.
Karena kecewa dengan kehidupannya, ia menjadi seorang pelacur di Rajagriha.
Suatu hari, ketika ia sedang bertamasya bersama sekelompok pemuda, Moggallana kebetulan lewat.
Dalam senda gurau, para pemuda itu menyuruhnya menggoda sang biksu.
la menghampiri Moggallana dan mulailah ia menggelar perilakunya yang tak senonoh. Tak tergoda olehnya, Moggallana berkata, “Tubuhmu terdiri dari daging dan darah. Tanpa kebijaksanaan dan dalam kebodohan, engkau dikuasai oleh nafsu keinginan akan kenikmatan indra yang semakin lama semakin parah.”
Tergerak hatinya oleh kata-kata ini dan merasa malu atas perilakunya sendiri. Uppalawanna memberi hormat kepada Moggallana dan menyatakan kemauannya untuk menjadi seorang biksuni. Meskipun sebelumnya ia seorang pelacur, ia diperkenankan menjadi anggota Sanggha Biksuni. Beberapa waktu kemudian, ia dinyatakan oleh Buddha setara dengan Khema dalam perilakunya yang patut dicontoh.
Wisakha yang Penuh Pengabdian —-
Wisakha dinyatakan oleh Buddha sebagai pengikut yang terkemuka di antara mereka yang telah mengabdikan dirinya melayani Sanggha.
Ketika ia berumur tujuh tahun, Buddha kebetulan mengunjungi tempat kelahirannya. Kakeknya seorang pengikut Buddha, membawanya untuk mendengarkan khotbah.
Setelah mendengarkan khotbah, ia menaruh keyakinan dan percaya kepada Buddha.
Ketika masih muda, ia kawin dengan putra seorang kaya di Srawasti.
Mertua lakinya, adalah pengikut setia agama lain, dan tidak menghormati murid-murid Buddha.
Kendati demikian melalui kesabaran dan kecerdasannya, ia berhasil mengubah pendirian mertuanya dan seluruh keluarga hingga menjadi penganut Agama Buddha. Sejak saat itu, ia bebas melakukan kegiatan-kegiatan religiusnya dan bisa memberikan dana harian kepada Sanggha sewaktu mereka datang ke rumahnya. Setiap pagi dan sore, ia pergi ke wihara untuk mengurus kebutuhan-kebutuhan para biksu dan biksuni, dan juga untuk mendengarkan khotbah Buddha.
Suatu hari, ia kebetulan mengunjungi wihara dengan mengenakan perhiasan kepala yang amat mahal.
Karena hormatnya kepada Buddha, ia menanggalkannya sebelum menemui Buddha dan menitipkannya kepada seorang pelayan. Setelah khotbah selesai, ia meninggalkan wihara bersama pelayan itu, yang lupa membawa pulang perhiasan itu. Ananda menemukan perhiasan tersebut dan memperlihatkannya kepada Buddha yang menginstruksikannya untuk menyimpankan perhiasan itu bagi Wisakha. Ketika Wisakha tahu bahwa perhiasan itu ada pada Ananda, ia memutuskan tidak mengambil kembali perhiasan itu tetapi hendak menjualnya demi kepentingan Sanggha.
Buddha menganjurkan agar ia membangun sebuah wihara di bagian timur Srawasti dengan hasil penjualan itu. Dan ia melakukannya. Wihara ini kemudian menjadi sama terkenalnya dengan Wihara Anathapindika.
Di sini Buddha menyampaikan beberapa khotbah penting, dalam salah satu khotbah-Nya Buddha menyebutkan empat sifat yang akan membuat para wanita bahagia dalam kehidupan ini dan empat sifat lainnya yang akan membuahkan kebahagiaan dalam kehidupan selanjutnya.
Buddha berkata:
“Berbahagialah di dalam kehidupan ini perempuan yang cakap dalam pekerjaannya, yang sopan dalam perilakunya, yang mengatur dengan baik para pembantunya, dan menjaga kekayaan suaminya.
Berbahagialah di dalam kehidupan yang akan datang perempuan yang teguh dalam keyakinan, kebajikan, kemurahan hati, dan kebijaksanaan.”
Sebagai seorang pengikut awam yang berbakti, Wisakha memainkan peranan penting dalam pelbagai urusan Sanggha Biksuni dan dari waktu ke waktu, ia diminta oleh Buddha untuk menyelesaikan pertikaian di antara para biksuni.
Ringkasan
Setelah kematian Raja Suddhodana, Prajapati diperkenankan masuk ke dalam Sanggha. Ia bertanggung jawab atas pendirian Sanggha Biksuni.
Wanita-wanita Sakya yang lain, termasuk Yasodhara, juga mengikutinya.
Khema dan Uppalawanna menjadi anggota-anggota Sanggha Biksuni yang terkemuka, sedangkan Wisakha menjadi pengikut perempuan yang terkemuka.
Panduan Agama Buddha Untuk Pemula
Sumber Utama : Buddhist Studies for Secondary 3 and 4 by Loke Siew Chan,
Dr. Peter Della Santina
Penerjemah : Mulyadi Nataprawira, Widyawati Jenna.
Dian Dharma 2022



