Yasodharā Bhikkhunī yang Terkemuka dalam Melihat Kehidupan Lampau (Mahābhiññappattaṁ)
Setelah menjalani hidup berkeluarga selama tiga belas tahun bersama Pangeran Siddhattha, pada usia dua puluh sembilan tahun, Putri Yasodharā melahirkan putra tunggalnya, Rāhula. Pada hari itu pula suaminya yang tercinta, Pangeran Siddhattha, meninggalkan keduniawian, serta meninggalkan dirinya dan bayi yang baru lahir itu, untuk mencari jalan Pembebasan bagi semua makhluk. Tujuh tahun kemudian, Ia kembali sebagai sesosok Buddha yang agung dan mulia.
Seusai Bhagavā dan para siswa-Nya makan, seluruh keluarga dan anggota istana, kecuali Putri Yasodharā, datang dan memberi hormat pada-Nya. Akan tetapi, sang putri tetap tinggal di biliknya kendatipun para dayang membujuknya untuk menemui Bhagavā. Putri Yasodharā, yang juga dikenal sebagai Bhaddakaccānā, Bimbā, atau Rāhulamātā, berpikir: “Jika aku memang pernah memberikan layanan khusus yang layak disyukuri, Bhagavā akan datang menjumpaiku secara pribadi. Setelah itu barulah aku akan memberikan sembah hormat pada-Nya.”
Bhagavā menyadari bahwa Yasodharā tidak berada di antara anggota keluarga kerajaan. Segera Ia bertanya kepada raja: “Ayahanda, Saya tidak melihat Yasodharā. Di manakah ia berada?”
“Bhante, ia berada dalam biliknya,” jawab raja. Lalu Bhagavā menitipkan mangkuk dana-Nya pada raja. Disertai kedua siswa utama-Nya, Ia pergi menuju bilik tersebut. Sesampainya di sana, Ia berkata: “Jangan sampai ada seorang pun yang berusaha menghalangi Putri Yasodharā selagi ia memberikan sembah hormat pada-Ku! Biarlah ia melakukan apa saja sesuai keinginannya!” Ia lalu duduk di tempat yang telah disediakan bagi-Nya.
Mendengar bahwa Bhagavā telah tiba, Putri Yasodharā memerintahkan para dayangnya untuk berbusana kuning. Kemudian, Ia bergegas datang menjumpai Bhagavā dan menyungkurkan badan di kaki-Nya. Sambil menggenggam erat pergelangan kaki Yang Terberkahi, ia menempatkan dahinya di kaki-Nya, lalu menangis sampai air matanya membasahi kaki-Nya. Bhagavā duduk dengan tenang, dan tak seorang pun menahan sang putri, sampai akhirnya rasa rindunya terobati. Setelah itu ia membersihkan kaki Bhagavā dan duduk dengan hormat.
Raja Suddhodana lalu menceritakan pada Bhagavā mengenai kebajikan Putri Yasodharā: “Bhagavā, putriku mengenakan pakaian kuning sejak ia mendengar bahwa Engkau mengenakan jubah kuning. Tatkala mendengar bahwa Engkau hanya makan sekali sehari, ia juga makan sekali sehari. Ketika mendengar bahwa Engkau tidak lagi memakai tempat tidur yang tinggi dan mewah, ia tidur di tempat tidur yang rendah. Saat mendengar bahwa Engkau tidak lagi menggunakan bunga dan wewangian, ia berhenti meminyaki dirinya dengan ramuan wangi dan berhenti mengenakan bunga. Bhante, tatkala Engkau meninggalkan keduniawian, para pangeran kerabatnya mengirimkan ucapan untuk menyayangi, memuja, dan merebutnya, namun semuanya itu tak sedikit pun ia lirik. Demikianlah putriku terkaruniai kebajikan seperti itu.”
Bhagavā menjawab: “Ayahanda, tidaklah heran jika Yasodharā sekarang tetap mempertahankan kesetiaan dan martabatnya, karena dalam kehidupan yang lampau pun ia juga melindungi dirinya sendiri dan setia serta taat pada-Ku kendatipun masih belum matang dalam kebijaksanaan dan tiada yang melindunginya.” Kemudian, Ia membabarkan Candakinnara Jātaka untuk menunjukkan bagaimana pada masa lampau kesetiaannya juga sangat tinggi.
Pada kemudian hari, ketika Yang Terberkahi mengizinkan kaum wanita untuk memasuki Persamuhan, Yasodharā menjadi bhikkhunī di bawah bimbingan Mahāpajāpatī Gotamī. Ia berjuang keras dalam latihannya, dan akhirnya mencapai tataran Arahatta.
Suatu hari, ketika Bhagavā tengah berdiam di Vihāra Jetavana di Sāvatthi, Ia menyatakan: “Para Bhikkhu, di antara para siswi bhikkhunī yang terbekali kekuatan adibiasa (mahābhiññappattaṁ), Bhikkhunī Bhaddakaccānā (Yasodharā) adalah yang paling piawai.” Ini dinyatakan karena ia mampu mengingat kembali kehidupan-kehidupan lampaunya sejauh satu kurun waktu yang tak terhingga (asaṅkhyeyya kappa) dan seratus ribu siklus dunia (kappa) yang lalu.
Tepat sebelum Bhikkhunī Bhaddakaccānā parinibbāna pada usia tujuh puluh delapan tahun, ia memohon pamit kepada Bhagavā dan mempertunjukkan pelbagai mukjizat. Dalam Kitab Apadāna Pāḷi, disebutkan bahwa delapan belas ribu bhikkhunī Arahanta, yaitu para sahabatnya, juga parinibbāna pada hari yang sama.
KHB – Ashin Kusaladhamma
Ashin Vappa

