Penulis berpendapat bahwa mungkin cerita dalam artikel ini berpotensi menyebabkan “goncangan iman” terhadap para pemeluk kepercayaan Īśvara-vāda, namun kebenaran tetaplah kebenaran yang tak dapat dibantah bagaimanapun juga. sebagaimana diibaratkan, sifat api yang adalah Panas dan Membakar, tidak menjadi persoalan bila ada orang yang tidak percaya bahwa api itu Panas dan Membakar dan orang tersebut kemudian memegang api dengan Tangan nya, maka orang tsb tetap akan terkena Bakar oleh Panas api tsb,. Begitulah perumpamaan akan kebenaran hakiki ini.
Di dalam Buddha Sāsana ini selalu ada penjelasan yang notabene “biasanya” tidak dapat dijelaskan oleh aliran kepercayaan lain namun mampu dijelaskan secara detail oleh Sang Bhagavā ; Sammāsambuddha Gotama. Maka tidak heran memang Beliau mendapat julukan Lokavidū yang artinya “Sang pengenal Alam Semesta.”
Mari disimak Sabda Beliau dalam Sutta berikut ini….
Brahmajālasutta
…. “Tetapi akan tiba waktunya, cepat atau lambat setelah rentang waktu yang panjang, ketika dunia ini mulai mengembang. Dalam dunia yang mengembang ini, sebuah istana Brahmā yang kosong muncul. Dan kemudian satu makhluk, karena habisnya masa kehidupannya atau jasa baik, jatuh dari alam Ābhassara dan muncul kembali di istana-Brahmā yang kosong. Dan di sana ia berdiam, dengan ciptaan-pikiran, dengan kegembiraan sebagai makanan, bersinar, melayang di angkasa, agung—dan ia hidup demikian selama waktu yang sangat lama.
“Kemudian dalam diri makhluk ini yang telah menyendiri sekian lama, muncullah kegelisahan, ketidakpuasan dan kekhawatiran, dan ia berpikir: “Oh, seandainya beberapa makhluk lain dapat datang ke sini!” Dan makhluk-makhluk lain, karena habisnya masa kehidupan mereka atau jasa-jasa baik mereka, jatuh dari alam Ābhassara dan muncul kembali di dalam istana-Brahmā sebagai teman-teman bagi makhluk ini. Dan di sana mereka berdiam, dengan ciptaan-pikiran, … dan mereka hidup demikian selama waktu yang sangat lama.
“Dan kemudian, para bhikkhu, makhluk yang pertama muncul di sana berpikir: “Aku adalah Brahmā, Mahā-Brahmā, Sang Penakluk, Yang Tak Tertaklukkan, Maha-Melihat, Maha-Kuasa, Yang Termulia, Pembuat dan Pencipta, Penguasa, Pengambil Keputusan dan Pemberi Perintah, Ayah dari semua yang telah ada dan yang akan ada.makhluk-makhluk ini diciptakan olehku. Mengapa demikian? Karena pertama-tama aku memiliki pikiran: “Oh, jika beberapa makhluk lain dapat datang ke sini!” itu adalah keinginanku, dan kemudian makhluk-makhluk ini muncul!” Tetapi makhluk-makhluk lain yang muncul di belakangan berpikir: “Ini, teman-teman, adalah Brahmā, Mahā-Brahmā, Sang Penakluk, Yang Tak Tertaklukkan, Maha-Melihat, Maha-Kuasa, Yang Termulia, Pembuat dan Pencipta, Penguasa, Pengambil Keputusan dan Pemberi Perintah, Ayah dari semua yang telah ada dan yang akan ada. Mengapa demikian? Kita telah melihat bahwa dia adalah yang pertama di sini, dan bahwa kita muncul setelah dia.”
“Dan makhluk yang muncul pertama kali ini hidup lebih lama, lebih indah dan lebih berdaya daripada makhluk lainnya. Dan mungkin terjadi bahwa beberapa makhluk jatuh dari alam itu dan muncul di dunia ini. Setelah muncul di dunia ini, ia pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah. Setelah meninggalkan keduniawian, ia melalui usaha, upaya, penerapan, ketekunan dan perhatian benar telah mencapai suatu kondisi tertentu dari konsentrasi pikiran hingga mampu mengingat kehidupan masa lalu yang terakhir, tetapi tidak mampu mengingat yang sebelumnya. Dan ia berpikir: “Brahmā itu, … ia menciptakan kami, dan ia kekal, stabil, abadi, tidak mengalami perubahan, sama selamanya.Tetapi kami yang diciptakan oleh Brahmā itu, kami tidak kekal, tidak stabil, berumur pendek, ditakdirkan terjatuh, dan kami datang ke dunia ini.” Ini adalah kasus pertama di mana beberapa pertapa dan Brahmana menganut sebagian abadi dan sebagian tidak abadi.”
(dikutip dari : Tipiṭaka, Suttapiṭaka, Dīghanikāya, Sīlakkhandhavagga, DN 1)
Sādhu…Sādhu…
Demikianlah Sabda Sang Bhagavā diatas, bagaimana dijelaskan oleh Beliau mengenai sesosok Makhluk yang hanya karena Jasa Kebajikan nya yang besar di kehidupan-kehidupan lampau nya dan menerima Akibat dari Jasa kebajikan nya dengan terlahir di alam dewa (Surga) Brahmā, namun secara kebetulan terjadi seperti yang diceritakan di Sutta tersebut.
Jika kita telisik lagi dengan teliti, sepertinya memang benar adanya bahwa sesosok yang selama ini dianggap oleh mayoritas manusia bahwa yang dianggap “Maha Super Power” itu tak lain hanyalah sesosok Makhluk yang tak ada bedanya dengan kita, masih bisa terlahir kembali ke alam rendah bila kebajikan nya habis di alam tersebut, dan kembali lagi mengarungi saṃsāra tiada akhir ini.
hebatnya di Buddha Sāsana ini kita juga “mengetahui” cara untuk dapat menjadi sosok “Maha Super Power” tersebut. jadi dapatlah diambil sebuah kesimpulan bahwa di hadapan Buddha Sāsana, makhluk “Maha Super Power” seperti itu tak ada SPESIAL nya sama sekali!.
Bodhisatta kita (Sang Buddha) sebelum mencapai pencerahan sempat berguru pada guru-guru paling berkualitas saat itu, dan Bodhisatta kita mampu mencapai Pencapaian tertinggi sebagaimana yang diajarkan para Guru tsb. Salah satu guru tsb sangat mahir dalam meditasi Arupa Jhana yang diketahui oleh Bodhisatta kita akan mampu membawa ke kelahiran di alam dengan tingkat paling tinggi di Saṃsāra yaitu alam surga N’evaSaññãN’ãsaññãyatana, yang para makhluk disini berusia 84.000 Maha Kappa yang adalah ukuran waktu yang sangat panjang tak terukur lagi…
Namun, Bodhisatta kita mengetahui itu bukanlah Pencapaian terunggul dan tidak membawa pada lenyapnya Penderitaan yaitu meninggalkan Saṃsāra, maka Sang Bodhisatta pergi dari para guru tersebut dan mulai menjalani pertapaan sendiri guna mencari “cara untuk lenyapnya Penderitaan,” seperti yang kita telah ketahui sekarang.
Perlu diketahui bahwa surga Brahmā tempat berdiam sosok “Maha Super Power” tsb belum ada apa-apanya di banding alam Brahmā tertinggi tadi yaitu surga N’evaSaññãN’ãsaññãyatana, bahkan sosok “Maha Super Power” tsb memiliki kemampuan terbatas yang bahkan tak mengetahui bahwa ada surga yang lebih tinggi tingkatannya dari tempat tinggalnya. Kalau begitu apakah pantas sosok tersebut menyandang predikat : “Ayah dari semua yang telah ada dan yang akan ada.???”
Demikianlah asal mula Pandangan Salah Īśvara-vāda.


