Kisah Sepasang Brahmana yang dahulunya Adalah Orangtua Buddha Pada Masa Lampau

Pada suatu ketika, setelah menetap di Sāvatthī selama masa vassa, Bhagavā melakukan perjalanan, dengan mempertimbangkan bahwa perjalanan itu akan membantu memelihara kesehatanNya, menetapkan peraturan-peraturan baru bagi para bhikkhu, menjinakkan (melalui percakapan dan khotbah) mereka yang layak dijinakkan, membabarkan kisah-kisah kelahiran Buddha jika situasinya tepat. Dalam perjalanan itu, Bhagavā sampai di Sāketa pada suatu senja dan memasuki Hutan Añjana (untuk bermalam).

 

Mendengar berita kedatangan Buddha, para penduduk Sāketa berpikir bahwa adalah tidak tepat untuk mengunjungi Bhagavā pada malam hari. Mereka menunggu hingga keesokan paginya, dengan membawa bunga, dupa, dan persembahan lainnya mereka mendatangi Bhagavā, dan memberikan persembahan itu kepada Bhagavā, mereka bersujud, dan saling menyapa dengan Bhagavā. Mereka berada di sana hingga tiba waktunya bagi Buddha untuk pergi mengumpulkan dāna makanan.

 

Ketika tiba waktunya untuk mengumpulkan dāna makanan, Bhagavā disertai oleh para bhikkhu memasuki Sāketa untuk menerima dāna makanan. Pada saat itu, seorang Brahmana Sāketa yang kaya raya keluar melalui gerbang kota ketika ia melihat Bhagavā di dekat gerbang kota. Saat melihat Bhagavā, brahmana itu merasakan kasih sayang yang besar terhadap Bhagavā dan menangis gembira dan berkata, “O putraku, telah lama aku tidak melihat-Mu!” ia mendekati Bhagavā.

 

Ketika brahmana itu mendekati-Nya, Bhagavā berkata kepada para bhikkhu, “Para bhikkhu, biarkan Brahmana Sāketa melakukan apa pun yang ia suka.” Dan bagaikan seekor induk sapi memperlakukan anaknya, brahmana itu mengamati Bhagavā dari arah depan, belakang, kiri, dan kanan. Kemudian ia merangkul Bhagavā, dan berkata, “Oh, putraku, putraku! Telah lama aku tidak melihat-Mu! Lama sekali Engkau pergi!”

 

(Harus dimengerti bahwa jika brahmana itu dicegah mencurahkan kasih sayangnya, ia tidak akan dapat mencurahkan perasaan cintanya itu dan mungkin akan meninggal karena patah hati.)

 

Brahmana Sāketa berkata kepada Bhagavā, “Yang Mulia, saya mampu mempersembahkan makanan kepada Bhagavā beserta para bhikkhu. Sudilah Bhagavā, dengan welas asih-Mu, menerima persembahanku.” Bhagavā memberikan persetujuan dengan berdiam diri. Sang brahmana menunjukkan jalan ke rumahnya sambil membawakan mangkuk Bhagavā di tangannya. Ia mengirim pesan kepada istrinya di rumah, “Putraku pulang! Siapkan tempat tinggal untuk-Nya.” Sang istri melakukan perintah suaminya dan berdiri dengan bergairah menerima kedatangan Bhagavā. Ketika ia melihat Bhagavā mendekati rumahnya, ia menyambut Bhagavā dan berkata, “Putraku, sudah lama sekali aku tidak melihat-Mu,” ia merangkul kaki Buddha dan menangis gembira. Ia memohon agar Buddha melanjutkan jalan-Nya menuju rumahnya di mana pasangan brahmana itu dengan penuh hormat mempersembahkan makanan kepada Bhagavā dan para bhikkhu. Setelah Bhagavā selesai makan, brahmana itu mengambil mangkuk-Nya dan mencucinya.

 

Bhagavā kemudian membabarkan khotbah kepada pasangan brahmana itu dengan cara yang sesuai bagi mereka dan pada akhir khotbah itu, mereka menjadi Pemasuk Arus, menjadi Ariya. Mereka memohon kepada Bhagavā, “Sudilah Bhagavā dan para bhikkhu selama menetap di Sāketa menerima persembahan makanan hanya di rumah kami.” Bhagavā menjawab, “Brahmana, bukanlah kebiasaan para Buddha menerima persembahan makanan dari satu tempat yang tetap seperti permohonanmu.” Selanjutnya pasangan brahmana itu memohon kepada Bhagavā, “Kalau begitu, Yang Mulia, sudilah Bhagavā dan para bhikkhu mengumpulkan dāna makanan (dari tempat lain) tetapi memakannya di rumah kami, kemudian pulang ke vihāra setelah membabarkan khotbah Dhamma kepada kami.” Buddha mengabulkan permohonan ini.

 

Sejak saat itu brahmana itu dikenal oleh para penduduk sebagai ‘ayah Buddha’ dan istri brahmana itu sebagai ‘ibu Buddha.’ Dan suku Brahmana Sāketa juga disebut ‘suku Buddha’.

 

Yang Mulia Ānanda bertanya kepada Bhagavā, “Yang Mulia, aku mengenal orangtua-Mu (yaitu Ratu Mahāmāyā Devī dan Raja Suddhodana) tetapi mengapa Brahmana Sāketa dan istrinya disebut sebagai orangtua Buddha?” dan Buddha menjelaskan, “Ānanda, pasangan brahmana itu telah menjadi orangtua-Ku pada masa lampau selama lima ratus kehidupan berturut-turut, di samping itu, mereka juga pernah menjadi paman tua dan bibi tua-Ku (kakak dari ayah dan ibu Bodhisatta) selama lima ratus kehidupan berturut-turut. Mereka juga pernah menjadi paman muda dan bibi muda-Ku (adik dari ayah dan ibu Bodhisatta) selama lima ratus kehidupan berturut-turut. Pasangan brahmana itu menyebut-Ku sebagai anak mereka karena kasih sayang mereka yang luar biasa terhadap-Ku pada masa lampau.” Kemudian Bhagavā mengucapkan syair berikut.

 

Pubbeva sannivāsena paccuppannahitena vā evaṁ taṁ jāyate pemaṁ uppalaṁva yathodake.

 

“Karena telah hidup bersama dalam kehidupan lampau dan telah saling melakukan hal-hal yang menguntungkan satu sama lain, muncullah cinta antara dua pribadi. Bagaikan bunga teratai (atau tanaman air lainnya) yang tumbuh di rawa-rawa tempat lumpur dan air bercampur.”

 

Bhagavā menetap selama beberapa hari di Saketā karena banyak orang di kota itu yang layak mencapai Pencerahan. Kemudian Beliau melanjutkan perjalanan-Nya menuju Sāvatthī. Pasangan brahmana itu memohon petunjuk dari para bhikkhu yang mengajari mereka dan akhirnya berhasil mencapai tiga Magga yang lebih tinggi dan setelah itu mereka berhasil menembus Nibbāna tanpa sisa yaitu Anupādisesa Parinibbāna.

Related Post