Bilamana Bhagavā tengah berdiam di Vihāra Jetavana, Anāthapiṇḍika akan mengunjungi-Nya secara teratur dua kali sehari—kadang-kadang dengan banyak temannya—dan selalu memberikan dana bagi para sāmaṇera muda. Akan tetapi, karena khawatir Bhagavā menjadi letih oleh dirinya, ia tak pernah bertanya kepada-Nya. Namun atas kehendak-Nya sendiri, Bhagavā membabarkan kepadanya pelbagai khotbah, yang beberapa di antaranya tercantum di dalam Aṅguttara Nikāya.
Suatu ketika, Bhagavā membabarkan Pattakamma Sutta kepada Anāthapiṇḍika: “Perumah Tangga, terdapat empat kondisi berikut yang diminati, yang menyenangkan, dan yang sulit diperoleh di dunia ini. Apakah keempat kondisi itu? Pengharapan: ‘Semoga aku memperoleh kekayaan dengan jalan yang sah!’, ‘Semoga aku memiliki reputasi baik di mata sanak keluarga dan para guruku!’ ‘Semoga aku hidup lama dan mencapai umur panjang!’ ‘Saat tubuhku hancur, setelah meninggal, semoga aku terlahir kembali di alam surgawi!’”
“Perumah Tangga, untuk mencapai keempat kondisi ini, terdapat empat kondisi yang harus dipenuhi. Apakah keempat kondisi itu? Kesempurnaan kebajikan (sīlasampadā), kesempurnaan keyakinan (saddhasampadā), kesempurnaan kedermawanan (cāgasampadā), dan kesempurnaan kebijaksanaan (paññāsampadā).”
Pada kesempatan lainnya, Bhagavā membabarkan kepadanya Ānaṇya Sutta:
“Perumah Tangga, terdapat empat jenis kebahagiaan yang bisa dicapai seorang perumah tangga, yaitu: kebahagiaan karena memiliki (atthisukha), kebahagiaan karena kekayaan (bhogasukha), kebahagiaan karena bebas hutang (ānaṇyasukha), dan kebahagiaan karena tindakan benar (anavajjasukha).”
“Apakah kebahagiaan karena memiliki itu? Di sini, Perumah Tangga, seorang pemuda dari keluarga yang baik memperoleh kekayaan dengan usaha yang penuh semangat, yang dikumpulkan dengan kekuatan tangannya sendiri, yang dicapai melalui keringat di keningnya, yang diperoleh dengan sepantasnya dengan cara yang dibenarkan. Saat berpikir: ‘Kekayaan ini milikku, yang kuperoleh dengan usaha yang penuh semangat, yang diperoleh dengan cara yang dibenarkan,’ muncullah kebahagiaan dalam dirinya, muncullah kepuasan dalam dirinya. Inilah, Perumah Tangga, yang disebut kebahagiaan karena memiliki.”
“Apakah kebahagiaan karena kekayaan itu? Di sini, Perumah Tangga, seorang pemuda dari keluarga yang baik, dengan kekayaan yang diperoleh dengan usaha yang penuh semangat, menikmati kekayaannya dan juga melakukan perbuatan jasa. Saat berpikir: ‘Dengan kekayaan yang diperoleh, aku menikmati kekayaanku dan juga melakukan perbuatan jasa,’ muncullah kebahagiaan dalam dirinya, muncullah kepuasan dalam dirinya. Inilah, Perumah Tangga, yang disebut kebahagiaan karena kekayaan.”
“Apakah kebahagiaan karena bebas hutang itu? Di sini, Perumah Tangga, seorang pemuda dari keluarga yang baik tidak berhutang, besar maupun kecil, pada siapa pun. Saat berpikir: ‘Aku tidak berhutang, besar maupun kecil, pada siapa pun,’ muncullah kebahagiaan dalam dirinya, muncullah kepuasan dalam dirinya. Inilah, Perumah Tangga, yang disebut kebahagiaan karena bebas hutang.”
“Apakah kebahagiaan karena tindakan benar itu? Di sini, Perumah Tangga, seorang siswa suci terberkahi dengan perbuatan, perkataan, dan pikiran yang benar. Saat berpikir: ‘Aku terberkahi dengan perbuatan, perkataan, dan pikiran yang benar,’ kebahagiaan muncul dalam dirinya, muncullah kepuasan dalam dirinya. Inilah, Perumah Tangga, yang disebut kebahagiaan karena tindakan benar.”
Inilah keempat jenis kebahagiaan yang bisa dicapai oleh seorang perumah tangga.🙏


