(Dhammapada I : 19)
Biarpun seseorang banyak membaca Kitab Suci, tetapi tidak berbuat sesuai dengan Ajaran, maka orang yang lengah itu sama seperti gembala sapi yang menghitung sapi milik orang lain; ia tak akan memperoleh manfaat kehidupan suci.
Membaca paritta itu sebenarnya tidak sulit dan tidak memakan waktu yang terlalu lama, cukup hanya sepuluh menit atau lima belas menit, seperti :
NAMAKARA PATHA ,
VANDANA,
TISARANA,
PANCASILA,
BUDDHANUSSATI,
DHAMMANUSSATI,
SANGHANUSSATI,
SACCAKIRIYA GATHA,
KARANIYAMETTA SUTTA,
Dan di akhiri dengan ETTAVATA.
Apabila mau menambah paritta yang lain juga lebih baik.
Di masa-masa lampau, para Arahat mengumpulkan beberapa Sutta dari Sutta Pitaka dan menyatukannya menjadi sebuah buku Paritta tersendiri yang disebut, Catubhanavara Pali.
Dalam bahasa Sinhala/SriLanka disebut sebagai Mahapirith Potha
Dalam kumpulan- kumpulan Paritta ini, terdapat 29 bagian mulai dari Saranagamana hingga Atanatiya Sutta kesemuanya tercantum atau terdapat dalam Catubhanavara Pali ini.
Sutta-sutta ini, yang dikumpulkan dari Sutta Pitaka, adalah sebagai berikut:
1). Digha nikaya – Mahasamaya-Atanatiya
2). Majjhima nikaya – Isigili Sutta – Sacca Vibhanga Sutta
3). Samyutta nikaya – Dhajagga Sutta, Bojjhanga Suttas, Dhamma Cakkappavattana Sutta
4). Anguttara nikaya – Dasadhamma Sutta, Khandha Paritta, Girimananda Sutta
5). Khuddaka nikaya – Mora Paritta, Mangala, Ratana, Karaniya Meta, Parabhava, Alavaka dan Vasala Sutta.
Dalam buku Maha Paritta, terdapat berbagai macam syair yang digubah oleh para Arahat dan Guru- guru masa lampau. Karenanya tidaklah heran apabila menemukan berbagai tipe syair-syair dan prosa-prosa yang berbeda di dalamnya.
Sudah merupakan pengetahuan yang umum dalam lingkungan Umat Buddha, bahwa Paritta- paritta itu pernah diucapkan oleh Sang Buddha sepanjang masa hidup Beliau.
Berbagai kejadian/peristiwa menarik yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari Beliau menjadi penyebab munculnya berbagai Parittta yang kemudian dibabarkan oleh Sang Buddha untuk tujuan perlindungan tidak hanya untuk kehidupan sekarang, akan tetapi juga dalam kehidupan berikutnya.
Membaca paritta, hal yang sesungguhnya adalah merupakan pengulangan kotbah Sang Buddha.
Selama orang membaca paritta, ia memiliki kesempatan berbuat baik melalui ucapan, pikiran dan perbuatannya.
Hal ini karena selama membaca paritta, seseorang akan dapat memusatkan perhatian pada paritta yang sedang dibacanya sehingga pikiran tidak banyak memiliki kesempatan untuk memikirkan hal yang lain, demikian pula dengan ucapan dan perbuatannya.
Oleh karena itu, semakin banyak waktu yang dipergunakan orang untuk membaca paritta setiap harinya, maka semakin banyak pula kebajikan yang ia timbun melalui pikiran, ucapan dan perbuatannya.
Apabila ia membaca paritta selama 15 menit setiap hari, maka dalam satu bulan yang 30 hari, ia telah melakukan kebajikan dengan ucapan, perbuatan dan pikiran selama 7,5 jam.
Kebajikan ini tentu akan semakin berlipat ganda apabila kebiasaan membaca paritta tersebut dilakukan rutin selama bertahun-tahun.
Namun demikian, adalah hal yang jauh lebih baik apabila orang mengerti isi paritta yang dibacanya. Hal ini karena isi paritta sebagian besar adalah khotbah Sang Buddha tentang pelaksanaan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, selama ia membaca paritta, ia dapat pula merenungkan arti khotbah Sang Buddha tersebut.
Ia kemudian dapat bertekad untuk melaksanakan Ajaran Sang Buddha itu dalam kehidupannya sehari-hari sesuai dengan hasil perenungannya.
Dengan demikian, ia akan menjadi orang yang lebih baik dan terus bertambah baik setiap harinya
Semakin banyak kita melakukan kebajikan, maka akan mengkondisi- kan kamma baik kita berbuah sesuai dengan harapan
Dhammapada XI, 7 :
Orang yang tidak mau belajar akan menjadi tua seperti sapi; dagingnya bertambah tetapi kebijaksanaannya tidak berkembang.
Semoga hal ini dapat direnungkan.
Semoga hal ini dapat memberikan kebahagiaan.
Sadhu….Sadhu……Sadhu


