Artkel Dhamma

KEMELEKATAN

Ratiyā jāyati soko, ratiyā jāyati bhayam. Ratiyā vippamuttassa, natthi soko kuto bhayaṁ Dari kemelekatan timbul kesedihan, dari kemelekatan timbul ketakutan. Bagi orang yang telah bebas dari kemelekatan, tidak ada lagi kesedihan maupun ketakutan. (Dhammapada syair 240)   Sering kali kita terlalu melekat pada sesuatu yang tidak semestinya dan yang sebenarnya sudah tidak diperlukan, seperti pakaian,…

Artkel Dhamma

Tentang Nibbana

Dapatkah setiap orang mencapai kebahagiaan dan kebebasan Nibbana? Bila dapat, apakah setiap orang pada akhirnya akan mencapainya? Jawaban untuk hal yang pertama adalah jelas, yakni bahwa setiap orang dapat mencapai Nibbana, dan justru Sang Buddha senantiasa mendorong setiap orang untuk menjadikan Nibbana sebagai tujuan hidupnya serta agar berupaya sekuatnya untuk mencapainya. Senandung para wanita yang…

Artkel Dhamma

Lima Rintangan Batin

Pañca Nīvaraṇa: Lima Rintangan Batin Menurut Ajaran Buddha Dalam ajaran Buddha yang termuat di dalam Tipiṭaka, Pañca Nīvaraṇa (Lima Rintangan Batin) merujuk pada lima kondisi mental yang menghambat kemunculan ketenangan, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Kata nīvaraṇa berasal dari akar kata yang berarti “menghalangi” atau “menutupi”, sehingga kelima hal ini seperti awan yang menutupi cahaya matahari—mengaburkan kejernihan batin yang…

Artkel Dhamma

APAKAH BERMANFAAT MEMBERIKAN DANA PADA SEORANG BHIKKHU YANG TAK BERMORAL

Penanya menanyakan sebuah pertanyaan tambahan. “Jika dana diberikan pada seorang bhikkhu yang tak bermoral, apakah ini bisa membuahkan hasil yang besar, bermanfaat bagi si pendana?” Ini seharusnya dicatat bahwa bagi seorang pendana, seorang bhikkhu yang tak bermoral bisa layak menerima pemberian dengan sepuluh kemurnian yang dikenal sebagai “Dakkhiṇavisuddhi”, membuahkan manfaat besar bagi pendana. 1. Seorang…

Artkel Dhamma

Tahu Balas Budi yang Langka dalam Ajaran Buddha

 “Dullabho loke kataññū katavedī “Orang yang tahu balas budi dan membalas kebaikan adalah langka di dunia ini.” Aṅguttara Nikāya 2.118–129  Apa Itu Kataññū Katavedī ? – Kataññū: menyadari kebaikan yang pernah diterima. – Katavedī: merasa berterima kasih dan menunjukkannya—dengan ucapan, sikap, atau perbuatan. Sang Buddha menyebut ini sebagai ciri utama orang baik (sappurisa) Sebaliknya, akataññū akatavedī…

Artkel Dhamma

MENYELAMATKAN DIRI SENDIRI

Attadattham paratthena, bahunapi na hapaye; Attadatthamabhinnaya, sadatthapasuto siya. Jangan karena demi kesejahteraan orang lain lalu seseorang melalaikan kesejahteraan sendiri. Setelah memahami tujuan akhir bagi diri sendiri, hendaklah ia teguh melaksanakan tugas kewajibannya. (Dhammapada Syair 166) Sang Buddha sudah mencapai pencerahan sempurna dan menjadi Sammasambuddha sebagai hasil dari usahanya sendiri. Setelah mencapai pencerahan tertinggi Sang Buddha…

Artkel Dhamma

Kisah Mahānāma Pangeran Sakya 

(a) Cita-cita Masa Lampau Bakal Mahānāma terlahir dalam sebuah keluarga kaya di Kota Haṁsāvatī pada masa kehidupan Buddha Padumuttara. Ketika mendengarkan khotbah Buddha, ia menyaksikan seorang siswa awam yang dinyatakan sebagai yang terbaik di antara para siswa awam yang mempersembahkan makanan-makanan lezat, dan obat-obatan. Ia ingin menjadi seperti orang itu pada masa depan, dan setelah…

Artkel Dhamma

Manfaat Paritta Suci

(Dhammapada I : 19) Biarpun seseorang banyak membaca Kitab Suci, tetapi tidak berbuat sesuai dengan Ajaran, maka orang yang lengah itu sama seperti gembala sapi yang menghitung sapi milik orang lain; ia tak akan memperoleh manfaat kehidupan suci. Membaca paritta itu sebenarnya tidak sulit dan tidak memakan waktu yang terlalu lama, cukup hanya sepuluh menit…

Artkel Dhamma

Lima Kelompok Unsur Kehidupan

PANCAKKHANDHA Dalam ajaran Buddha, “diri” bukanlah entitas tetap, melainkan proses yang terus berubah, terdiri dari lima kelompok (khandha) yang saling bergantung. Kita mengira kelima ini adalah “aku”, “milikku”, atau “diriku”, padahal semuanya tidak kekal (anicca), menyebabkan penderitaan (dukkha), dan tanpa diri (anattā). Mari kita selami satu per satu. 1. RŪPAKKHANDHA (Kelompok Bentuk / Fisik /…

Artkel Dhamma

Buddha Kembali dari Surga Tāvatiṁsa

Tepat menjelang masa kediaman musim hujan-Nya yang ketujuh, pada hari bulan purnama bulan Āsāḷha, Bhagavā kembali melakukan Mukjizat Ganda (Yamaka Pāṭihāriya) di kaki pohon gaṇḍamba di gerbang Kota Sāvatthi untuk menghancurkan kesombongan dan gengsi dari kaum sesat. Kemudian, Bhagavā menuju ke Surga Tāvatiṁsa dan melewati masa kediaman musim hujan selama tiga bulan di sana.  …