Lahir Dalam Kasta Budak —
Upāli dan Buddha Sakyamuni sama-sama dilahirkan di Kerajaan Kapilavatthu. Namun, sementara Buddha dilahirkan di istana dan tergolong kasta Ksatriya, Upāli tergolong dalam kasta Sudra.
Sudra adalah kasta terbawah di India yang terdiri dari para budak pada masa itu. Jika budak dari kasta Sudra melihat orang dari kasta Brahma dan kasta Ksatriya di jalan, mereka harus berlutut di tepi jalan untuk memberi jalan dan bahkan mereka tidak boleh diam-diam melihat ke mereka yang berkasta lebih tinggi. Jika mereka berani melirik ke mereka yang berkasta lebih tinggi, matanya akan dicukil. Jika mereka berani berdebat dengan orang dari kasta Brahma dan Ksatriya, lidah mereka akan dipotong.
Ketika Upāli masih muda, ia tidak dapat belajar banyak karena kastanya yang rendah. Agar dapat memiliki mata pencaharian ketika ia besar, ia belajar menjadi tukang cukur rambut.
Upāli sangat cermat dalam melakukan tugasnya. Ia juga sangat rendah hati dalam belajar, sehingga dengan segera ia menguasai keahliannya dan dapat memotong berbagai jenis rambut dengan sangat baik.
Pada waktu itu, istana raja di Kapilavatthu memerlukan seorang tukang cukur. Melalui saran seseorang. Upāli akhirnya diberikan izin pergi ke istana untuk memotong rambut dari beberapa pangeran muda.
Para pangeran muda menyukai keahlian Upāli. Upáli memotong rambut mereka dengan sangat baik. Lebih dari itu, Upāli sangat terampil dan tidak menyakiti kepala mereka selama pemotongan rambut, sehingga pangeran-pangeran muda sangat menyukainya.
Memotong Rambut Buddha —
Tiga tahun setelah Buddha mencapai pencerahan, Beliau kembali ke kampung halaman-Nya untuk mengajarkan Dhamma kepada Ayah-Nya,Raja Shuddhodana, serta para pangeran dan para menteri. Seorang bhikkhu harus sering mencukur kepalanya. Buddha tidak terkecuali.
“Siapa yang pantas ditunjuk untuk memotong rambut Buddha?” semua orang mempertimbangkan hal ini. Akhirnya, semuanya setuju bahwa Upāli yang memiliki keterampilan terbaik, pantas ditunjuk untuk tugas ini.
“Buddha adalah yang telah mencapai pencerahan sempurna, sedangkan saya hanyalah budak dari kasta rendah. Bagaimana saya berani memotong rambut-Nya?” Upäli sangat ketakutan. Dengan dorongan dari ibunya. Upāli akhirnya mengumpulkan keberanian untuk memotong rambut Buddha.
Ketika tugas itu usal dilaksanakan, ibu Upāli bertanya kepada Buddha. “Apakah Upäli memotong rambut Buddha dengan baik?
Buddha menjawab dengan tersenyum, “Keahliannya cukup baik, tetapi badannya menunduk terlalu rendah. Upali sangat hormat kepada Buddha sehingga ia kelihatan seperti bongkok.”
Mengikuti Pangeran Meninggalkan Istana
—-
Setelah Buddha mengajarkan Dhamma di istana, Beliau meneruskan mengajar di berbagai tempat. Akhirnya, benih Dhamma yang telah Beliau tanam bersemi juga. Segera, banyak pangeran yang ingin menjadi bhikkhu.
Para pangeran berpikir untuk meninggalkan istana dan mengikuti Buddha. Namun, banyak dari orang tua mereka yang tidak mengerti Dhamma, sehingga mereka tidak setuju.
Oleh karena itu, begitu para pangeran menemukan kesempatan untuk keluar dari istana secara diam-diam, mereka lari ke Taman Nigrodha tempat Buddha sedang mengajar.
Dalam cerita sebelumnya tentang Anuruddha yang memiliki mata sakti, kita telah menyebut bahwa ada tujuh pangeran yang meninggalkan istana pada saat itu. Upali sangat dekat dengan para pangeran ini, karena la selalu memotong rambut mereka.
Sekarang, karena para pangeran ingin menjadi bhikkhu, mereka juga memerlukan seseorang untuk membantu mereka mencukur kepalanya, sehingga ketika mereka menyelinap keluar dari istana, mereka juga mengajak Upali.
Sambil mencukur kepala para pangeran, air mata berlinang di wajahnya.
Pangeran Anuruddha bertanya. “Kenapa kamu menangis?”
Upāli berkata dengan sedih, “Saya tidak akan dapat bermain dengan Anda semua lagi nantinya. Saya juga tidak akan dapat mencukur rambut Anda semua. Lebih-lebih, kalau saya pulang, orang tua kalian tentu akan menyalahkan saya dan mungkin akan memotong kepala saya.”
Begitu mendengar ini, para pangeran tidak tahu harus berbuat apa.
Sejenak kemudian, Upāli melanjutkan, “Kalian adalah para pangeran yang agung, tetapi kalian berkeinginan untuk belajar Dhamma. Saya hanyalah budak rendah, kenapa saya tidak berkeinginan untuk melatih Dhamma juga? Saya memutuskan untuk mengikuti kalian dan menjadi bhikkhu juga.”
Di tengah perjalanan, Upāli menangis sedih lagi. Para pangeran bertanya lagi kenapa ia menangis. Upāli menjawab, “Saya seorang tukang cukur yang tidak disukai oleh semua yang melihat saya. Bagaimana saya dapat menjadi bhikkhu bersama dengan kalian, para pangeran yang agung? Lebih lagi, saya tidak punya ilmu. Buddha mungkin tidak mau menerima saya!”
Kesetaraan Dalam Ajaran Buddha —-
Pada saat ini. Säriputta lewat.
Begitu mendengar percakapan mereka, Sariputta menenangkan Upāli. “Buddha mengajarkan kesetaraan. Beliau adalah orang yang paling baik dan paling penuh belas kasih. Pintu ajaran Buddha selalu terbuka lebar untuk semua. Siapapun yang ingin masuk silakan datang.” Dengan dorongan dari Sariputta, Upāli akhirnya berjalan dengan riang menuju Taman Nigrodha bersama para pangeran untuk menemui Buddha.
Buddha setuju untuk menerima para pangeran menjadi bhikkhu, tetapi Beliau ingin para pangeran terlebih dahulu melakukan perenungan diri selama tujuh hari di sebuah gubuk kecil, sehingga mereka dapat mengikis rasa bangganya sebagai pangeran. Di lain pihak, Buddha langsung menerima Upāli. Buddha berkata kepada Upāli, “Engkau memiliki banyak sekali sifat yang baik. Pada saat ini, engkau tidak punya banyak ilmu. tetapi jika engkau mau belajar dengan rendah hati, engkau akan menjadi orang yang berguna suatu hari.”
Tujuh hari setelah Upāli menjadi bhikkhu, ketujuh pangeran, termasuk Anuruddha dan Ānanda, ditahbiskan sebagai bhikkhu. Ketika mereka melihat Upali telah mengenakan jubah, mereka terkejut sampai-sampai mereka tidak tahu bagaimana menyapanya.
Buddha memberi tahu para pangeran, “Kalian seharusnya memanggilnya ‘senior’. Dalam jenjang ke-bhikkhu-an, siapa pun yang terlebih dahulu ditahbiskan adalah yang lebih senior.”
Begitu mendengar ini, para pangeran memanggil dengan penuh hormat, “Apa kabar, Senior?”
Ketika Upali mendengar ini, ia menangis gembira. la sangat berterima kasih pada kebaikan dan kasih sayang Buddha, yang membiarkan dirinya ditahbiskan terlebih dahulu, sehingga ia tidak akan dipandang rendah oleh para pangeran dan lainnya karena kastanya yang rendah. Karena para pangeran pun telah memanggilnya “senior” dengan hormat, akankah yang lain memandang remeh dirinya?
Disiplin Dalam Menjalankan Peraturan —-
Setelah Upăli menjadi bhikkhu, la sering berpikir bahwa bukanlah hal yang mudah untuk menjadi bhikkhu. sehingga ia menjadi lebih rajin dari yang lain.
la memperhatikan setiap perilakunya dengan baik dan sangat disiplin dengan dirinya sendiri dalam menjalankan peraturan ke-bhikkhu-an yang ditetapkan oleh Buddha. Karena Upali sangat hati-hati dan serius, cara ia berperilaku dan berbuat sesuatu selalu sesuai dengan peraturan murni yang dijalani oleh para bhikkhu. Semenjak beliau ditahbiskan sampai meninggal dunia. la tidak pernah melanggar satu pun peraturan, sehingga orang-orang memujinya sebagai “yang unggul dalam menjaga peraturan”.
Selain menjalankan peraturan dengan ketat, Upäli juga akan segera berkonsultasi dengan Buddha ketika ia punya pertanyaan tentang peraturan.
Pada suatu waktu, seorang wanita pelaku kejahatan dari Kerajaan Kapilavatthu melarikan diri ke kerajaan tetangga, Sävatthi. Raja Kapilavatthu meminta wanita ini segera dikirim kembali ke Kapilavatthu untuk dijatuhi hukuman sesuai dengan hukum. Tetapi, wanita ini menjadi bhikkhuni di Savatthī.
Dengan perintah dari Raja Pasenadi dari Sāvatthi, “Begitu pelaku kejahatan menjadi bhikkhu atau bhikkhunī, perbuatan salah pada masa lalu tidak akan diusut lagi dan tidak seorang pun diizinkan untuk menangkap bhikkhu atau bhikkhunī ini.”
Hal ini menyebabkan banyak perselisihan antara raja dari kedua kerajaan ini.
Upāli pergi bertanya kepada Buddha, “Dapatkah seorang yang telah melanggar hukum kerajaan ditahbiskan sebagai bhikkhu atau bhikkhuni?”
Buddha menjawab, “Seseorang tidak diizinkan untuk menjadi bhikkhu atau bhikkhuni, sebelum ia dinyatakan tidak bersalah oleh hukum.” Hal ini tidak berarti Buddha tidak mengasihani atau menolak menolong pelaku kejahatan, tetapi lebih karena seorang pelaku kejahatan harus berurusan dengan hukum yang adil, kalau tidak demikian, pelaku kejahatan akan mencoba melarikan diri dari hukuman dengan menjadi bhikkhu atau bhikkhuni”
Sebagian orang terbiasa nakal dan bermain-main. sehingga mereka tidak terbiasa dengan kedisiplinan Upall dalam menjalankan peraturan.
Mereka mengkritiknya sebagai orang yang keras kepala, terlalu kaku, dan kurang rasa kemanusiaannya.
Ketika Buddha mengetahui ini, Beliau memanggil semuanya untuk berkumpul dan mengatakan, “Bhikkhul Disiplin Upali terhadap peraturan-peraturan bukanlah sesuatu yang keras kepala atau tidak luwes. Walaupun ia kelihatan terlalu serius, cara ia membawa dirinya sendiri dalam berucap dan berbuat, sebenarnya adalah suri teladan bagi semua.
Jika seorang bhikkhu ceroboh dalam ucapannya dan tidak terkendali dalam perbuatannya, ia akan menyebabkan orang kehilangan keyakinan terhadap Dhamma. Bhikkhu, selama Saya masih di dunia ini, Saya dapat membetulkan kesalahan kalian, tetapi Saya tidak dapat bersama kalian selamanya. Peraturan-peraturan ini akan menjadi guru dan pembimbing kalian. Perbuatan dan ucapan sehari-hari kalian harus sesuai dengan peraturan-peraturan ini.”
Berperan Serta Dalam Sidang Buddhis Pertama —-
Setelah Buddha meninggal dunia, Kassapa mengundang lima ratus bhikkhu senior yang telah mencapai pencerahan, untuk mulai menghimpun ajaran Buddha. Ajaran Buddha dibagi dalam tiga kelompok, yaitu Sutta Pitaka, Vinaya Pitaka, dan Abhidhamma Pitaka.
Sutta Pitaka berisikan ceramah yang disampaikan Buddha selama empat puluh lima tahun mengajar.
Vinaya Pitaka berisikan peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Buddha untuk dijalankan. Peraturan-peraturan ini seperti peraturan di sekolah. Abhidhamma Pitaka berisikan penjelasan Dhamma oleh para siswa Buddha berdasarkan diskusi dan penelusuran mendalam.
Upali ditunjuk untuk berperan serta dalam menghimpun Vinaya Pitaka. la tidak berani menerima undangan, berkata dengan rendah hati, “Saya tidak cukup baik dalam perangai dan pengetahuan. Silakan Anda mengundang orang lain?”
Kassapa menjawab, “Yang Mulia Upāli. kepribadianmu sempurna dan tiada banding. Dalam Sangha, engkau unggul dalam menjaga peraturan!”
Upali tidak lagi menolak dan setuju untuk mengemban tugas ini. Untuk setiap peraturan yang diucapkannya, ia mampu menyebutkan dengan pasti waktu, tempat, dan orang yang Buddha ajarkan tentang peraturan itu. Jadi, kita dapat melihat bahwa Upāli sangat serius dengan peraturan. Apa yang dipelajarinya sangat dalam dan hebat



