TIGA PERISTIWA AGUNG PADA HARI WAISAK

Hari Waisak memperingati 3 peristiwa agung yang dialami oleh seorang manusia bernama Sidharta Gautama yaitu :

1. Pangeran Sidharta Gautama lahir.

2. Pertapa Gautama menjadi Buddha.

3. Buddha Gautama Parinibbana ( mangkat ).

I. PANGERAN SIDHARTA GAUTAMA LAHIR.

==============================

 

Pangeran Sidharta Gautama ( yang kelak menjadi Buddha Gautama ) lahir pada tahun 623 SM di Taman Lumbini.

 

Setelah keluar dari rahim ibunya, bayi ( Pangeran Sidharta Gautama ) diterima oleh 4 Mahabrahma di atas sebuah jaring emas.

Berikutnya sang bayi diserahkan oleh 4 Mahabrahma kepada 4 Raja Dewa di atas sehelai kulit rusa hitam.

Selanjutnya sang bayi diserahkan oleh 4 Raja Dewa kepada manusia di atas sehelai kain putih.

 

Kemudian sang bayi turun dari tangan manusia dan berdiri tegak di atas kedua kakinya memandang ke arah Timur beserta 9 arah lainnya.

Walaupun sang bayi sesungguhnya berjalan di atas tanah tetapi bagi manusia terlihat seolah-olah sang bayi berjalan di atas udara.

Walaupun sang bayi sesungguhnya tanpa pakaian apapun di tubuhnya tetapi bagi manusia terlihat seolah-olah sang bayi berpakaian lengkap.

Walaupun sang bayi sesungguhnya berukuran tubuh normal layaknya seorang bayi tetapi bagi manusia terlihat seolah-olah sang bayi seperti anak berumur 16 tahun.

 

Setelah itu sang bayi dengan diikuti oleh para brahma dan para dewa dari 10.000 alam semesta berjalan 7 langkah ke arah Utara.

 

Sang bayi mengeluarkan seruan yang dapat didengar oleh semua makhluk di 10.000 alam semesta sebagai berikut :

“Aggo’ham asmi lokassa.

Jettho’ham asmi lokassa.

Settho’ham asmi lokassa.

Ayam antima jati.

Natthi dani punabhavo.”

( Akulah yang tertinggi di antara semua makhluk di alam semesta ini.

Akulah yang terbesar di antara semua makhluk di alam semesta ini.

Akulah yang termulia di antara semua makhluk di alam semesta ini.

Inilah kelahiranku yang terakhir kalinya.

Tidak ada kelahiran lainnya lagi bagiku. )

 

Beberapa peristiwa fenomena alam menakjubkan yang terjadi saat bayi Sidharta Gautama yang nantinya akan menjadi Buddha Gautama lahir :

1. Saat kelahirannya 10.000 alam semesta berguncang.

2. Para brahma dan dewa dari 10.000 alam semesta berkumpul di alam semesta ini.

3. Para brahma dan dewa yang pertama kali menerima tubuh sang bayi saat lahir.

4. Manusia menerima sang bayi dari dewa dan brahma.

5. Semua alat musik bersenar berbunyi sendiri tanpa ada yang memainkannya.

6. Semua alat musik dari kulit bergenderang sendiri tanpa ada yang memainkannya.

7. Penjara dan belenggu yang mengikat manusia hancur berkeping-keping.

8. Semua penyakit hilang.

9. Mereka yang buta sejak lahir dapat melihat seperti manusia normal.

10. Mereka yang tuli sejak lahir dapat mendengar seperti manusia normal.

11. Mereka yang lumpuh dapat berjalan normal.

12. Mereka yang bisu sejak lahir dapat berbicara.

13. Perahu yang sedang dalam bahaya di perjalanan berhasil selamat sampai di pelabuhan.

14. Segala jenis permata di bumi dan di surga berkilau cemerlang.

15. Cinta kasih meliputi mereka yang sedang bermusuhan.

16. Api di semua Neraka menjadi padam.

17. Munculnya cahaya di Neraka Lokantarika yang biasanya berada dalam kegelapan total.

18. Air sungai yang sedang mengalir menjadi berhenti mengalir.

19. Air di semua lautan berubah menjadi manis.

20. Angin bertiup dengan lembut dan menyenangkan tanpa ada angin badai.

21. Semua burung turun ke atas tanah.

22. Bulan bersinar lebih terang dari biasanya.

23. Matahari bersinar cerah tetapi tidak panas sehingga cuaca menyenangkan.

24. Para dewa bersiul, menepuk tangan, dan melemparkan pakaiannya bersuka cita.

25. Hujan yang sangat lebat turun di 4 benua.

26. Semua manusia tidak merasa lapar.

27. Semua manusia tidak merasa haus.

28. Pintu-pintu yang tertutup menjadi terbuka dengan sendirinya.

29. Tumbuhan berbunga dan berbuah lebih banyak.

30. Seluruh 10.000 alam semesta ditutupi oleh satu-satunya spanduk bunga.

31. Hujan bunga yang indah dan harum.

32. Bintang bercahaya terang meskipun siang hari.

33. Tercium wangi-wangian surgawi di udara.

34. Alam Rupa Brahma dapat terlihat oleh manusia.

35. Dll.

 

==============================

II. PERTAPA GAUTAMA MENJADI BUDDHA.

==============================

 

Setelah Pangeran Sidharta Gautama melakukan Pelepasan Agung meninggalkan istana kemudian beliau berkelana menjadi seorang pertapa yang dikenal sebagai Pertapa Gautama.

 

Pertapa Gautama memperoleh Penerangan Sempurna menjadi Buddha pada tahun 588 SM pada saat bulan purnama Waisak di Hutan Gaya di bawah pohon bodhi Assattha.

 

Pertapa Gautama berhasil menguasai 3 pengetahuan ( Vijja ) sesaat sebelum memperoleh Penerangan Sempurna yaitu :

 

1. PUBBENIVASANUSSATI ÑANA.

Pada saat jaga malam yang pertama ( pk. 18.00 – pk. 22.00 ) memperoleh pengetahuan untuk melihat kehidupan-kehidupannya yang lampau.

 

2. DIBBACAKKHU ÑANA.

Pada saat jaga malam yang kedua ( pk. 22.00 – pk. 02.00 ) memperoleh pengetahuan untuk melihat kelahiran dan kematian semua makhluk beserta sebab-sebabnya.

 

3. ASAVAKKHAYA ÑANA

Pada saat jaga malam yang ketiga ( pk. 02.00 – pk. 06.00 ) memperoleh pengetahuan untuk memusnahkan kekotoran batin.

Dengan telah dimusnahkannya seluruh kekotoran batin maka setelah akhir jaga malam yang ke-3 dan saat fajar Pertapa Gautama menjadi Buddha Gautama.

 

Pada saat mencapai Penerangan Sempurna dari tubuh Pertapa Gautama memancar 6 sinar Buddha ( Buddharasmi ) :

1. NILA.

Sinar berwarna biru yang memiliki makna bakti.

2. PITA.

Sinar berwarna kuning yang memiliki makna kebijaksanaan.

3. LOHITA.

Sinar berwarna merah yang memiliki makna cinta kasih.

4. AVADATA.

Sinar berwarna putih yang memiliki makna suci.

5. MANGASTA.

Sinar berwarna jingga yang memiliki makna semangat.

6. PRABHASVARA.

Sinar dari campuran sinar tersebut.

 

Sesaat setelah menjadi Buddha kemudian Beliau mengeluarkan seruan kemenangan :

“Dengan melalui banyak kelahiran,

Aku telah mengembara dalam samsara.

Terus mencari namun tak Kutemukan pembuat rumah ini.

Sungguh menyakitkan kelahiran yang berulang-ulang ini.

Oh, Pembuat rumah, engkau telah Kulihat.

Engkau tak dapat membangun rumah lagi.

Seluruh atapmu telah runtuh dan tiangmu telah patah.

Sekarang batin-Ku telah mencapai Nirvana.

Pencapaian ini adalah akhir dari nafsu keinginan ( Tanha ).”

 

==============================

III. BUDDHA GAUTAMA PARINIBBANA ( MANGKAT ).

==============================

 

Buddha Gautama Parinibbana ( mangkat ) pada tahun 543 SM pada saat bulan purnama Waisak di Hutan Sala, Kusinara di bawah pohon Sala kembar dengan disaksikan oleh 500 bhikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian dengan yang terendah adalah Sotapanna serta dipenuhi oleh para dewa dari 10.000 alam semesta sehingga tempat itu penuh sesak dengan para dewa sampai pada jarak 12 yojana ( sekitar 180 km ) di sekeliling hutan.

 

Sebelum Parinibbana ( mangkat ) Buddha memberikan nasehat terakhirnya :

“Vaya dhamma sankhara.

Appamadena sampadetha.”

( Segala sesuatu adalah tidak kekal.

Berusahalah dengan sungguh-sungguh. )

 

Proses wafatnya Buddha Gautama yaitu Beliau bermeditasi dan secara bertahap memasuki tingkat-tingkat meditasi dengan urutan sebagai berikut :

1. Jhana ke-1.

2. Jhana ke-2.

3. Jhana ke-3.

4. Jhana ke-4.

5. Keadaan ruang tak terbatas.

6. Keadaan kesadaran tak terbatas.

7. Keadaan kekosongan.

8. Keadaan bukan pencerapan maupun tidak bukan pencerapan.

9. Keadaan penghentian dari pencerapan dan perasaan.

10. Keadaaan bukan pencerapan maupun tidak bukan pencerapan.

11. Keadaan kekosongan.

12. Keadaan kesadaran tak terbatas.

13. Keadaan ruang tak terbatas.

14. Jhana ke-4.

15. Jhana ke-3.

16. Jhana ke-2.

17. Jhana ke-1.

18. Jhana ke-2

19. Jhana ke-3

20. Jhana ke-4.

21. Parinibbana ( mangkat ).

Pada saat Parinibbana terjadi gempa bumi yang dahsyat serta halilintar sambar-menyambar di angkasa.

 

Beberapa ucapan menanggapi Buddha Gautama Parinibbana :

 

1. BRAHMA SAHAMPATI ( Brahma Penguasa Dunia ) :

“Mereka semua ( semua makhluk hidup ) akan melepaskan bentuk kehidupan mereka yaitu kelompok batin dan jasmani.

Meskipun Ia seorang Guru Jagad seperti Beliau, Yang Tiada Taranya, Yang Perkasa, Tathagata, Samma Sambuddha akan Parinibbana juga.”

 

2. DEWA SAKKA ( Raja Para Dewa ) :

“Segala yang berbentuk tidak kekal adanya, bersifat timbul dan tenggelam.

Setelah timbul akan hancur dan lenyap.

Bahagia timbul setelah gelisah lenyap.”

 

3. Y.A. ANURUDDHA :

“Tanpa menggerakkan napas, namun dengan keteguhan batin bebas dari keinginan dan segala ikatan.

Demikianlah Sang Bijaksana mengakhiri hidupnya.

Walaupun menghadapi saat maut Beliau tak gentar, batinnya tetap tenang.

Bagaikan padamnya nyala lampu, Beliau mencapai kebebasan.”

 

4. BHIKKHU ANANDA :

“Maka terjadilah kegemparan sehingga bulu roma berdiri ketika Buddha Parinibbana.”


Peringatan Hari Waisak adalah pertanda umur Sāsana semakin menua. Menurut para guru Aṭṭhakathā, semakin tua umur Sāsana adalah semakin sulit seseorang mencapai kesucian atau berlatih.

 

Hal ini dikarenakan moralitas manusia semakin menurun, kotoran batin semakin banyak, lingkungan yang tidak mendukung, kualitas nutrisi makanan yang tidak seperti dulu, cuaca yang tidak mendukung dan berbagai hal lainnya.

 

Adalah cukup menajubkan sebuah ajaran dapat ber’ulang tahun’ sampai 2600 tahun lebih. Kebanyakan orang sudah terlupakan tanggal Ulang Tahun mereka di beberapa generasi mendatang.

 

Karena adanya manfaat yang didapat dari praktek Ajaran Buddha-lah, banyak orang berusaha belajar, berlatih, mengembangkan dan melestarikan Ajaran Buddha.

 

Karena satu dan lain hal, banyak dari kita lahir menjadi manusia dan bertemu dalam Sāsana periode ini dengan misi dan tujuan tertentu.

 

Biarlah momen waisak ini menjadi pengingat bagi kita untuk tidak lalai dan lengah dalam mengambil kesempatan di kehidupan manusia kali ini. Arus duniawi sangatlah berbeda dibanding ketika Sang Buddha masih hidup. Banyak dari kita terlena dengan kesenangan dan kenikmatan yang berbuah dari berbagai kamma baik yang telah kita tanam di banyak kehidupan lampau.

 

Untuk itu kita harus selalu sadar bahwa kita masih punya kesempatan untuk berbuat baik, berlatih, belajar Dhamma ataupun mengumpulkan pārami selagi Sāsana masih ada.

 

Latihan Dhamma adalah melawan arus duniawi, berbeda dengan arus duniawi, untuk itulah semakin tua umur Sāsana, semakin sulit orang untuk berlatih.

 

Semoga semua makhluk berbahagia. Mendapatkan mata Dhamma untuk dapat berlatih mengakhiri lingkaran saṃsāra sesegera mungkin.

Related Post