“Tujuh musim panas.” — Ini dikisahkan oleh Guru saat berdiam di Jetavana, tentang pembunuhan Sundarī. Pada waktu itu Bhagava sangat dihormati dan alur cerita ini datang dari Udāna (Ud.38). Yang secara ringkasnya, dikatakan Bhagavā dan Komunitas bhikkhu telah menerima pendapatan dan penghormatan seperti lima sungai besar yang sedang banjir besar; para guru dan penganut sekte kepercayaan lain (aññatitthiya) menemukan bahwa pendapatan dan penghormatan pada mereka mengalami penurunan, seperti kunang-kunang yang menjadi tidak bercahaya saat matahari terbit. Maka mereka berkumpul bersama, dan berdiskusi: “Sejak pertapa Gotama muncul, pendapatan dan penghormatan kita semakin menurun, tidak ada siapa pun yang tahu bahwa kita juga ada di sini. Siapakah yang akan membantu kita untuk mencela pertapa Gotama, dan mencegahnya mendapatkan pendapatan dan penghormatan terhadapnya?” Kemudian seorang dari mereka berkata: “Sundari akan membuat kita bisa melakukannya.”
Suatu hari ketika Sundari mengunjungi taman sekte lain itu, setelah memberi hormat, mereka berdiri dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia berbicara kepada mereka berulang-ulang, tetapi tidak menerima jawaban. “Apakah ada yang menyulitkan para tuan mulia?” tanyanya. “Bagaimana, saudari, tidakkah kau melihat bagaimana pertapa Gotama menyulitkan kami, dengan menghancurkan pendapatan dan penghormatan terhadap kami?”
Lalu dia menjawab: “Apakah yang bisa saya lakukan untuk Anda?”
“Saudari, bukankah kau, rupawan dan diberkahi dengan kecantikan. Tuduh dan permalukan pertapa Gotama, dan katakan di depan umum, dan dengan melakukannya kau dapat mengembalikan pendapatan dan penghormatan kami.”
Sundarī: “Sādhu,” menyetujuinya dan setelah memberi hormat, dia pergi.
Sejak itu dia membawa bunga, wewangian, salap, dan kapur barus yang berbau tajam, dan buah-buahan, pada malam hari, ketika banyak orang memasuki kota setelah mendengar pembabaran Dhamma dari Guru, dia akan pergi ke arah Jetavana. Ketika ditanya: “Ke mana kau akan pergi? dia akan menjawab: “Aku akan menemui pertapa Gotama; karena aku akan tinggal bersamanya di kamarnya yang harum.” Sesungguhnya dia tinggal di taman sekte lain itu, dan di pagi hari dia akan berjalan dari arah Jetavana menuju ke kota. Ketika ditanya: “Sundarī, dari manakah kau pergi? “Saya tinggal bersama pertapa Gotama di kamarnya yang harum, dan bersenang-senang untuk memuaskan nafsu kami,” jawabnya.
Kemudian selang beberapa hari (penganut kepercayaan lain) setelah memberikan uang kepada para bajingan: “Pergi dan bunuhlah Sundarī di dekat kamar harum pertapa Gotama, buang tubuhnya di timbunan bunga-bunga dan sampah. Maka mereka melakukan, sesuai yang dikatakan. Kemudian penganut kepercayaan lain: “Kami tidak melihat Sundarī?” setelah membuat kegaduhan, mereka memberi tahu raja.
“Di manakah kecurigaan kalian?”
Mereka menjawab: “Beberapa hari terakhir dia tinggal di Jetavana, tetapi apa yang terjadi setelah itu kami tidak tahu.”
“Kalau begitu pergi dan selidiki,” atas izin raja; mereka membawa serta pengikutnya, pergi ke Jetavana untuk menyelidiki dan menemukannya di tumpukan bunga dan sampah. Setelah menaruhnya di atas tandu, mereka membawa mayat itu memasuki kota: “Para murid pertapa Gotama ‘untuk menutupi kejahatan Guru mereka’ telah membunuh Sundarī, dan melemparkannya ke timbunan bunga dan sampah; yang kemudian memberi tahu raja.
Raja: “Kalian pergi dan araklah di kota,” katanya.
Di sepanjang jalan-jalan kota, mereka berteriak: “Lihatlah apa yang telah dilakukan oleh para pertapa putra Sakya!” setelah itu mereka kembali ke gerbang istana lagi.
Raja setelah menempatkan tubuh Sundarī di atas panggung di pekuburan (āmakasusāna), dan menjaganya. Sebagian besar penduduk Sāvatthī, kecuali para siswa awam ariya; setelah berkeliling di dalam dan luar kota, mencaci maki dan menghina para bhikkhu, berseru: “Lihatlah apa yang telah dilakukan para pertapa putra Sakya!” Para bhikkhu menceritakan semua ini kepada Tathāgata. Guru berkata: “Kalau begitu, kalian jawab dan balaslah orang-orang itu demikian:
“Seorang pembohong dan mereka yang menyangkal telah melakukannya akan menuju neraka; keduanya ketika kematian datang akan dilahirkan (di tempat) yang sama, manusia yang melakukan kejahatan juga akan dilahirkan di sana.” (Ud. 38)
Inilah syair yang dikatakan-Nya.
Raja: “Mencari tahu penyebab lain terbunuhnya Sundarī,” dan mengirim orang-orangnya. Sekarang para bajingan itu setelah mendapatkan uang dan minum minuman keras, saling bertengkar. Salah satunya berkata: “Kaulah yang telah membunuh Sundarī dengan sekali pukul, dan melemparkannya ke timbunan bunga dan sampah; dan sekarang kau telah minum minuman keras setelah mendapatkan uangnya!”
Para utusan raja itu menangkap para bajingan itu dan menyeret mereka ke hadapan raja. Kemudian raja berkata: “Benarkah kalian pembunuhnya?” tanyanya.
“Benar, Baginda.”
“Siapa yang menyuruh kalian membunuhnya?”
“Para penganut kepercayaan lain, Baginda.”
Raja setelah memanggil para penganut kepercayaan lain itu, angkatlah Sundarī: “Pergilah kalian berkeliling kota, dan ucapkan demikian: ‘Inilah Sundarī yang mencela dan menuduh pertapa Gotama; kamilah yang telah membunuhnya; bukan pertapa Gotama, juga bukan kesalahan murid-murid Gotama; kesalahan itu adalah milik kami!’” Maka mereka melakukannya. Namun banyak orang bodoh yang masih percaya (kepada mereka), dan mencoba menghalangi para penganut kepercayaan lain itu dijatuhkan hukuman atas pembunuhan. Sejak saat itu, pendapatan dan penghormatan terhadap Buddha tumbuh semakin besar.
Suatu hari para bhikkhu mengangkat pembicaraan di Dhammasabhā: “Āvuso, para penganut kepercayaan lain mencoba memburukkan Buddha,” namun (pada akhirnya) hanya memburukkan diri mereka sendiri; tetapi Buddha sendiri memunculkan pendapatan dan penghormatan!” Guru datang: “Para bhikkhu, apakah yang sedang kalian perbincangkan saat duduk bersama di sini?” tanya-Nya. Mereka memberitahukannya, yang berkata: “Tidak mungkin, para bhikkhu, membuat Buddha menjadi tidak murni dan mencoba menodai Buddha akan seperti mencoba menodai permata tulen. Di masa lalu ada yang ingin menodai permata tulen, namun bagaimana pun mereka berusaha, mereka tidak mampu melakukannya.” Setelah mengatakannya dan atas permintaan mereka, Beliau membawakan kisah masa lampau ini.
Dahulu kala, ketika Brahmadatta memerintah kerajaan Bārāṇasī, Bodhisatta dilahirkan dalam keluarga brahmana di sebuah desa. Ketika dewasa, ia menemukan kerugian dari nafsu sensual, ia pergi (meninggalkan kehidupan berumah), dan melintasi tiga pegunungan di wilayah Himavantā; di mana ia menjadi seorang pertapa, dan tinggal di sebuah gubuk daun.
Di dekat gubuknya ada gua permata (maṇiguha), di sana menjadi tempat tinggal tiga puluh babi. Di dekat gua itu juga seekor singa biasa berkeliaran dan bayangannya tercermin pada permata. Babi-babi yang melihat bayangan singa menjadi ketakutan dan terteror yang membuat mereka kekurangan daging dan darah. Pikir mereka: “Kita melihat bayangannya karena permata ini sangat cemerlang. Kita harus membuatnya kotor dan memudarkan warnanya.” Setelah pergi ke danau di dekat sana, dengan melumuri lumpur mereka mencoba menggosok-gosok permata itu. Namun karena bergesekan dengan bulu babi, permata itu menjadi lebih cemerlang.
Mereka tidak tahu bagaimana mengusahakannya: “Kita harus bertanya kepada pertapa itu bagaimana memudarkan warna permata ini,” maka mereka mendatangi Bodhisatta, dan setelah menghormatnya, mereka berdiri di satu sisi, dan mengucapkan dua syair awal ini:
“Tujuh musim panas dan tinggal bersama tiga puluh (kawanan kami) di gua permata; kemilau permata kini akan membunuh kami, maka itu kami ingin memudarkan warnanya.”
“Meskipun selama ini kami menggosoknya, namun permata itu semakin cemerlang; kami bertanya, bagaimanakah cara melakukannya?”
Mendengar laporan mereka, Bodhisatta mengucapkan syair ketiga:
“Permata ini adalah lapis lazuli (tembus cahaya), tanpa noda, cerah, dan tulen; tidak ada sesuatu pun di bumi yang dapat merusak kecemerlangannya, kalian babi-babi sebaiknya pergi saja ke tempat lain.”
Setelah mendengar jawaban ini mereka melakukannya. Bodhisatta setelah menghasilkan jhāna, pada akhirnya (dilahirkan) di alam brahma.
Guru setelah membawakan pengajaran Dhamma ini, mengidentifikasi Kelahiran: “Pada masa itu, Aku adalah sang pertapa.”
Khuddakanikāya
Jātaka Aṭṭhakathā – Tatiyo Bhāgo
Tikanipāta – 04.05. Abbhantaravagga


