KESAKTIAN BUDDHA

Para Buddha adalah makhluk agung, makhluk istimewa, sedemikian rupa sehingga di seluruh alam semesta dengan para dewa dan manusia, apa pun yang dapat dilihat, didengar, dipikirkan, dipahami, dicapai, dicari, atau dijelajahi dengan pikiran — tidak ada satu pun objek bentuk (rūpārammaṇa) yang dibedakan menurut warna seperti biru dan sebagainya, tidak ada satu pun objek suara (saddārammaṇa) seperti suara genderang dan sejenisnya, ataupun objek pencerapan lainnya, yang tidak tercakup dalam jangkauan pengetahuan mereka. Semuanya dapat dijangkau oleh pintu-pintu pengetahuan mereka tanpa pengecualian (Pengetahuan Sabbañutañāṇa).

Lalu terlintas dalam pikirannya:
“Hanya Buddha sepertiku sajalah yang mampu demikian. Tapi apakah mungkin ada Buddha lain di tempat lain?”
Kemudian, ia membentangkan pengetahuannya yang tak terbatas ke seluruh sistem dunia yang tak terbatas dan mengamatinya. Namun, ia tidak melihat Buddha lain mana pun.

Dan ini memang tidak mengherankan. Bahkan pada hari kelahirannya, sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan tentang Brahmajāla Sutta, karena tidak melihat siapa pun yang setara dengannya, ia pun mengaumkan suara singa yang tak tertandingi:
“Akulah yang tertinggi di dunia ini.”

Setelah melihat bahwa tidak ada satu pun yang setara dengannya, ia pun berpikir:
“Jika aku sendiri yang bertanya lalu aku sendiri pula yang menjawab, para dewa ini tidak akan mampu memahaminya. Namun, jika seolah-olah ada Buddha lain yang bertanya dan aku yang menjawab, hal itu akan menjadi hal yang menakjubkan dan para dewa akan mampu memahaminya. Maka, aku akan menciptakan bayangan tiruan seorang Buddha (nimmitabuddha).”

Lalu setelah keluar dari jhāna yang menjadi dasar bagi pengetahuan adikodrati (abhiññā), ia menetapkan kehendak demikian:
“Biarlah cara memegang mangkuk dan jubah, gerakan mata, cara melihat dan menoleh, gerakan melipat dan merentangkan tangan — semuanya persis seperti milikku.”

Dengan pikiran dari lingkup kāmāvacara (alam indria), ia menyusun bentuk bayangan tersebut, dan dengan pikiran dari lingkup rūpāvacara (alam rupa), ia menetapkannya seolah-olah ia sedang keluar dari cakram bulan yang menembus dari lingkup Pegunungan Yugandhara bagian timur.

Ketika para dewa melihat itu, mereka berkata,
“Wahai sahabat, apakah bulan lain telah terbit?”
Kemudian, ketika muncul lebih dekat lagi, mereka berkata,
“Bukan bulan, itu matahari yang terbit.”
Ketika muncul lebih dekat lagi, mereka berkata,
“Bukan matahari, itu adalah satu istana surgawi.”
Ketika muncul lebih dekat lagi, mereka berkata,
“Bukan istana surgawi, itu satu makhluk dewa (devaputta).”
Ketika muncul lebih dekat lagi, mereka berkata,
“Bukan devaputta, itu satu Mahābrahmā.”
Ketika muncul lebih dekat lagi, mereka berkata,
“Bukan Mahābrahmā, tetapi, wahai sahabat, seorang Buddha lain telah datang.”

Lalu, para dewa duniawi (puthujjana-devatā) berpikir:
“Jika untuk satu Buddha saja pertemuan para dewa ini bisa sebesar ini, berapa besar lagi pertemuan itu untuk dua Buddha?”
Para dewa mulia (ariyadevatā) berpikir:
“Dalam satu sistem dunia (lokadhātu) tidak mungkin ada dua Buddha, pastilah Sang Bhagavā telah menciptakan satu tiruan Buddha lain yang menyerupai dirinya.”

Kemudian, selagi kerumunan para dewa melihat, Buddha yang diciptakan itu datang dan, tanpa memberi hormat kepada Sang Buddha Pemilik Sepuluh Kekuatan, ia duduk di tempat duduk yang telah dibuat setara di hadapan Sang Buddha.

Sang Bhagavā memiliki tiga puluh dua ciri tubuh seorang manusia agung, begitu juga Buddha yang diciptakan; dari tubuh Sang Bhagavā pancar sinar enam warna, begitu juga dari Buddha yang diciptakan; sinar dari tubuh Sang Bhagavā menyentuh tubuh Buddha ciptaan, dan sinar dari Buddha ciptaan menyentuh tubuh Sang Bhagavā.

Sinar dari tubuh kedua Buddha itu naik ke alam Akaniṭṭha (puncak tertinggi alam rūpa), lalu turun kembali, menyentuh puncak kepala para dewa, dan berhenti di pinggiran cakrawala. Seluruh dunia sistem cakrawala bersinar seperti paviliun suci yang dihiasi dengan emas dan berangka kayu bengkok.

Para dewa dari sepuluh ribu sistem dunia berkumpul dalam satu cakrawala dan berdiri di antara cahaya kedua Buddha.

Ketika Buddha yang diciptakan itu duduk, ia memuji Sang Buddha Pemilik Sepuluh Kekuatan yang telah menghancurkan kilesa saat berada di bawah pohon Bodhi:

“Aku bertanya kepada sang Muni, yang berhikmat luas,
Yang telah menyeberang ke seberang tiga dunia, telah padam, teguh;
Yang telah meninggalkan rumah dan melepaskan nafsu-keinginan,
Bagaimana seharusnya seorang bhikkhu berkelana benar di dunia ini?”

(Digha Nikāya, Mahāvagga-aṭṭhakathā, Mahāsamayasuttavaṇṇanā)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *