Sutta Center

SUCILOMA SUTTA

Demikian yang telah saya dengar: Suatu ketika Sang Buddha duduk beralas batu di Gaya, tempat kediaman yakkha Suciloma. Pada saat itu yakkha Khara dan Suciloma lewat di dekat beliau *dan Yakkha Khara bertanya; ‘Apakah dia seorang pertapa?’ Suciloma menjawab: ‘Dia bukan pertapa. Penampilannya saja yang kelihatan sama. Biarlah saya pastikan.’ Kemudian Suciloma mendekati Sang Buddha…

Sutta Center

Sabrahmākasutta • Aṅguttara Nikāya 3.31

Sutta ini menceritakan tentang Brahma, apakah kalian pernah melihat brahma? Para bhikkhu, keluarga-keluarga itu berdiam bersama Brahmā di mana di rumah mereka ibu dan ayah dihormati oleh anak-anak mereka. (2) Keluarga-keluarga itu berdiam bersama guru-guru pertama di mana di rumah mereka ibu dan ayah dihormati oleh anak-anak mereka. (3) Keluarga-keluarga itu berdiam bersama yang-layak-menerima-pemberian di…

Sutta Center

Sammukhībhāvasutta Aṅguttara Nikāya 3.41

Tiga hal ini, para bhikkhu, adalah kehadiran yang melaluinya seorang putra keluarga yang penuh keyakinan menghasilkan banyak kebajikan. Tiga hal manakah itu? Para bhikkhu, dengan hadirnya keyakinan, seorang putra keluarga yang penuh keyakinan menghasilkan banyak kebajikan. Para bhikkhu, dengan hadirnya dana/hal-hal yang layak disumbangkan, seorang putra keluarga yang penuh keyakinan menghasilkan banyak kebajikan. Para bhikkhu,…

Sutta Center

SAMYUTTA NIKAYA 56 : 11

MAHA VAGGA SACCA SAMYUTTA DHAMMA CAKKA PAVATTANA VAGGA DHAMMA CAKKA PAVATTANA SUTTA PATHAMA TATHAGATENA VUTTA ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~   =============================== I. SISTEMATIKA SUTTA. ===============================   Dhamma Cakka Pavatana Sutta merupakan sutta yang istimewa karena setiap Buddha ( Samma Sambuddha ) pada masa lampau, masa kini, maupun masa mendatang pasti memberikan kotbah pertamanya berupa Dhamma Cakka Pavatana Sutta…

Sutta Center

ASALHA PUJA GATHA

( SYAIR PENGHORMATAN HARI ASADHA ) Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammā-Sambuddhassa. ( 3 x )   Yamamha kho mayam, Bhagavantam saraṇam gatā, yo no Bhagavā satthā, yassa ca mayam Bhagavato dhammam rocema : Ahosi kho so Bhagavā, araham sammā sambuddho, sattesu kāruññam paṭicca, karuṇāyako hitesī, anukampam upādāya, āsāḷhapuṇṇamiyam, Bārāṇasiyam isipatane migadāye, pañcavaggiyānam bhikkhūnam, anuttaram dhammacakkam…

Sutta Center

Kelahiran sebagai Seekor Anjing

Kukkura Jātaka (Kelahiran sebagai Seekor Anjing) [Jat 22] “Anjing-anjing yang dipelihara di istana kerajaan.” – Kisah ini diceritakan oleh Guru saat berada di Jetavana, tentang perbuatan baik untuk kerabatnya, seperti yang akan diceritakan dalam Buku Kedua Belas di Bhaddasāla-jātaka. Untuk menyampaikan pengajaran itulah Beliau menceritakan kisah masa lampau ini. Suatu ketika Brahmadatta memerintah di Bārāṇasī,…

Sutta Center

MACCHA JATAKA (Kisah Kehidupan Lampau Sebagai Raja Ikan)

“Awan Hujan yang Taat” (Abhitthanaya Pajjunnāti) Diceritakan saat Sang Buddha sedang menetap di Jetavana, beliau membabarkan kisah ini berkenaan dengan turunnya hujan yang beliau sendiri datangkan. Pada suatu waktu, di wilayah Kosala tidak turun hujan. Tanaman-tanaman mulai layu. Kolam, telaga, dan danau di berbagai tempat mengering. Bahkan kolam di dekat gerbang Jetavana pun kekeringan; airnya…

Sutta Center

Nandivisāla Jātaka  

Sekali waktu Takkasilā di Negeri Gandhāra diperintah oleh seorang raja, Bodhisatta terlahir sebagai seekor sapi jantan (banteng). Saat masih berupa anak sapi, pemiliknya menghadiahkannya kepada seorang brahmana yang mengunjunginya. Pada masa itu, ada kebiasaan untuk memberikan persembahan berupa sapi kepada para brahmana.   Brahmana itu memberi nama Nandi-Visāla (Kebahagiaan Besar) kepadanya, ia memperlakukan anak sapi…

Sutta Center

Cullakaseṭṭhi Jātaka (Jat 4)

“Dimulai dengan kerendahan hati,” dan seterusnya. Kisah mengenai seorang thera yang bernama Cūḷapanthaka ini diceritakan oleh Bhagavā ketika Beliau sedang berada di hutan mangga milik Jīvaka di dekat Rājagaha. Terdapat sedikit penjelasan mengenai kelahiran Cūḷapanthaka.

Sutta Center

Aṅguttara Nikāya, Upakkilesa Sutta

“Demikian pula, para bhikkhu, ada empat noda (kekotoran) bagi para pertapa dan brāhmaṇa, yang dengannya, para pertapa dan brāhmaṇa tertentu, yang ternoda oleh noda-noda ini, tidak bersinar, tidak terang, tidak cemerlang. Apakah empat ini?” 1. “Ada, para bhikkhu, beberapa pertapa dan brāhmaṇa yang meminum minuman keras dan arak; mereka tidak menahan diri dari meminum minuman…