Para bhikkhu, orang awam yang tidak memilki pengetahuan Dhamma, mengidentifikasi tiga hal sebagai bahaya yang memisahkan ibu dan anak. Apa saja ketiga itu?
“Ada kalanya terjadi kebakaran besar. Ketika kebakaran besar terjadi, Ia membakar desa-desa, kota-kota kecil, dan kota-kota besar. Saat membakar desa-desa, kota-kota kecil, dan kota-kota besar, seorang ibu tidak dapat menjangkau anaknya, dan anak tidak dapat menjangkau ibunya. Ini adalah hal pertama yang digambarkan oleh orang awam yang tidak terpelajar sebagai bahaya yang memisahkan ibu dan anak.
“Kemudian, ada kalanya awan besar terbentuk. Ketika awan besar terbentuk, banjir besar pun terjadi. Ketika banjir besar terjadi, Ia membanjiri desa-desa, kota-kota kecil, dan kota-kota besar. Saat membanjiri desa-desa, kota-kota kecil, dan kota-kota besar, seorang ibu tidak dapat menjangkau anaknya, dan anak tidak dapat menjangkau ibunya. Ini adalah hal kedua yang digambarkan oleh orang awam yang tidak terpelajar sebagai bahaya yang memisahkan ibu dan anak.
“Kemudian, ada kalanya ada bahaya perang saudara atau perang dunia. Mengambil alih kekuasaan, mereka mengepung pedesaan. Ketika ini terjadi, seorang ibu tidak dapat menjangkau anaknya, dan anak tidak dapat menjangkau ibunya. Ini adalah hal ketiga yang digambarkan oleh orang awam yang tidak terpelajar sebagai bahaya yang memisahkan ibu dan anak.
“Ini adalah tiga hal yang digambarkan oleh orang awam yang tidak terpelajar sebagai bahaya yang memisahkan ibu dan anak.
“Namun, ada tiga hal ini yang merupakan bahaya yang menyatukan ibu dan anak, namun orang awam menganggapnya sebagai bahaya yang memisahkan ibu dan anak. Apa saja ketiga itu?
“Ada kalanya terjadi kebakaran besar. Ketika kebakaran besar terjadi, Ia membakar desa-desa, kota-kota kecil, dan kota-kota besar. Saat membakar desa-desa, kota-kota kecil, dan kota-kota besar, ada kalanya seorang ibu dapat menjangkau anaknya, dan anak dapat menjangkau ibunya. Ini adalah hal pertama yang merupakan bahaya yang menyatukan ibu dan anak, namun orang awam menganggapnya sebagai bahaya yang memisahkan ibu dan anak.
“Kemudian, ada kalanya awan besar terbentuk. Ketika awan besar terbentuk, banjir besar pun terjadi. Ketika banjir besar terjadi, Ia membanjiri desa-desa, kota-kota kecil, dan kota-kota besar. Saat membanjiri desa-desa, kota-kota kecil, dan kota-kota besar, ada kalanya seorang ibu dapat menjangkau anaknya, dan anak dapat menjangkau ibunya. Ini adalah hal kedua yang merupakan bahaya yang menyatukan ibu dan anak, namun orang awam menganggapnya sebagai bahaya yang memisahkan ibu dan anak.
“Kemudian, ada kalanya ada bahaya dari perang saudara atau perang dunia. Mengambil alih kekuasaan, mereka mengepung pedesaan. Ketika ini terjadi, ada kalanya seorang ibu dapat menjangkau anaknya, dan anak dapat menjangkau ibunya. Ini adalah hal ketiga yang merupakan bahaya yang menyatukan ibu dan anak, namun orang awam menganggapnya sebagai bahaya yang memisahkan ibu dan anak.
“Ini adalah tiga hal yang merupakan bahaya yang menyatukan ibu dan anak, namun orang awam menganggapnya sebagai bahaya yang memisahkan ibu dan anak.
“Ada tiga hal ini yang merupakan bahaya (sejati) yang memisahkan ibu dan anak. Apa saja ketiga itu? Bahaya penuaan, bahaya penyakit, bahaya kematian.
“Seorang ibu tidak dapat mendapatkan (keinginannya) sehubungan dengan anaknya yang menua, ‘Aku menua, tapi semoga anakku tidak menua.’ Seorang anak tidak dapat mendapatkan (keinginannya) sehubungan dengan ibunya yang menua, ‘Aku menua, tapi semoga ibuku tidak menua.’
“Seorang ibu tidak dapat mendapatkan (keinginannya) sehubungan dengan anaknya yang mulai sakit, ‘Aku mulai sakit, tapi semoga anakku tidak mulai sakit.’ Seorang anak tidak dapat mendapatkan (keinginannya) sehubungan dengan ibunya yang mulai sakit, ‘Aku mulai sakit, tapi semoga ibuku tidak mulai sakit.’
“Seorang ibu tidak dapat mendapatkan (keinginannya) sehubungan dengan anaknya, ‘Aku akan meninggal, tapi semoga anakku tidak meninggal.’ Seorang anak tidak dapat mendapatkan (keinginannya) sehubungan dengan ibunya , ‘Aku akan meninggal, tapi semoga ibuku tidak meninggal.’
“Ini adalah tiga hal yang merupakan bahaya (sejati) yang memisahkan ibu dan anak.
Sang Buddha melanjutkan:
“Ada jalan, ada praktik, yang mengarah pada peninggalan dan penaklukan ketiga bahaya yang menyatukan ibu dan anak ini dan ketiga bahaya yang memisahkan ibu dan anak ini.
“Dan apakah jalan itu, apakah praktik itu…? Yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan ini, yaitu: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, tindakan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan samādhi benar.
“Ini adalah jalan itu, ini adalah praktik itu, yang mengarah pada peninggalan dan penaklukan ketiga bahaya yang menyatukan ibu dan anak ini dan ketiga bahaya yang memisahkan ibu dan anak ini.”
*Singkatnya sīla, samādhi dan paññā, jika kita menjalankan sīla, samādhi dan paññā yang sejati, Dhamma inilah yang mampu membawa kita untuk keluar dari lingkaran pusaran penderitaan, saṃsāra. Kita akan dapat terbebas dari usia tua, sakit dan kematian.
Cukup untuk hari ini, semoga kalian memahami dan mengikuti ajaran Buddha agar mencapai alam tujuan kelahiran yang baik, magga, phala dan Nibbāna.
Sādhu Sādhu Sādhu 🙏🏻


