Buddha tidak pernah mendiskriminasikan atau merendahkan derajat wanita, bahkan Buddha telah menghilangkan garis pemisah sistem kasta begitu juga kesempatan untuk meraih Nibbana sama bagi pria dan wanita. Isu kesetaraan gender telah menjadi pembicaraan global yang terus berkembang, menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia — dari sosial, politik, ekonomi, hingga spiritualitas. Dalam konteks ini, ajaran Buddha memberikan kontribusi yang signifikan dan sering kali belum banyak diketahui. Dengan menekankan pada nilai-nilai universal seperti welas asih, kebijaksanaan, dan keadilan, ajaran Buddha telah menginspirasi gerakan kesetaraan gender di berbagai belahan dunia, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Salah satu prinsip utama dalam ajaran Buddha adalah bahwa semua makhluk memiliki potensi untuk mencapai pencerahan (nirvāṇa), tanpa memandang jenis kelamin, kasta, atau status sosial. Dalam Dhammapada, Sang Buddha menyatakan bahwa “bukan karena kelahiran seseorang menjadi mulia, melainkan karena perbuatannya.” Konsep anatta (tanpa-diri) dan anicca (ketidakkekalan) juga mendekonstruksi identitas tetap, termasuk gender, sebagai sesuatu yang bersifat relatif dan tidak melekat secara esensial. Oleh karena itu, tidak ada dasar spiritual untuk menganggap laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Ajaran ini menjadi landasan filosofis yang kuat bagi pandangan kesetaraan gender.
Dalam sejarah awal Buddhisme, Sang Buddha membuat langkah revolusioner dengan mendirikan Bhikkhuni Sangha, yaitu komunitas monastik untuk perempuan. Mahapajapati Gotami, ibu angkat Sang Buddha, menjadi perempuan pertama yang ditahbiskan sebagai bhikkhuni setelah permohonan yang gigih dan penuh keyakinan. Kumpulan syair suci Therigatha menjadi bukti kuat kontribusi spiritual perempuan dalam Buddhisme awal. Syair-syair ini merupakan ekspresi pengalaman batin dan kebijaksanaan dari para bhikkhuni yang telah mencapai pencerahan — menunjukkan bahwa pencapaian spiritual perempuan setara dengan laki-laki.
BUKTI EMPIRIS.
1. MAJJHIMA NIKAYA 73 – MAHA VACCHAGOTTA SUTTA.
Buddha mengatakan bahwa banyak sekali murid Beliau yang bergender wanita dengan menjadi bhikkhuni, atthasilani, maupun upasika memperoleh pencerahan hingga merealisasikan Nibbana.
2. MAJJHIMA NIKAYA 135 – CULA KAMMA VIBHANGA SUTTA.
Buddha menjelaskan bahwa akibat dari suatu karma tidak ada perbedaan antara seseorang yang bergender pria ataupun seseorang yang bergender wanita.
3. ANGUTTARA NIKAYA 8:49 – PATHAMA IDHA LOKA VIJAYA SUTTA.
Buddha memberikan petunjuk bahwa ada 8 hal yang dapat menyebabkan seorang wanita menjadi pemenang dalam kehidupannya saat ini maupun dalam kehidupannya yang mendatang yaitu :
a. Trampil melakukan pekerjaan rumah tangga.
b. Trampil mengatur pekerjaan dan kehidupan para pembantu rumah tangga.
c. Tidak melakukan perbuatan buruk yang oleh suaminya dianggap tidak menyenangkan.
d. Menjaga dan melindungi pendapatan suami.
e. Memiliki keyakinan yang teguh kepada Buddha dan ajaran-Nya.
f. Menjaga sila dan moralitas.
g. Memiliki dan melakukan praktek kedermawanan.
h. Memiliki kebijaksanaan sehingga mampu melihat muncul dan lenyapnya Dukkha serta mengarahkan dirinya kepada penghancuran Dukkha.
TOKOH-TOKOH WANITA PENGIKUT BUDDHA.
Dalam Kitab Buddhavamsa tercatat banyak murid wanita Buddha ( bhikkhuni ) dan pengikut wanita ( upasika ) yang memiliki pencapaian dan kemampuan setara bahkan melebihi pria. Beberapa Theri yang berhasil merealisasikan Nibbana menjadi Arahat serta diberikan gelar oleh Buddha untuk keahliannya yang melebihi orang lain di antaranya :
1. Y.A. MAHAPAJAPATI GOTAMI.
● RIWAYAT :
Ibu asuh Pangeran Sidharta Gautama yang memohon kepada Buddha untuk membentuk Sangha Bhikkhuni dan mengalami Parinibbana yang lebih agung daripada Buddha Gautama sendiri karena wafatnya diikuti juga oleh 500 bhikkhuni pengikutnya yang juga telah mencapai Arahat.
Buddha sendiri yang menghantarkan dan mengatur prosesi kremasi beliau beserta 500 Arahat wanita tersebut.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal lamanya bergabung dalam Sangha.
2. Y.A. KHEMA.
● RIWAYAT :
Ratu dari Raja Bimbisara.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal memiliki pengetahuan yang dalam.
3. Y.A. UPPALAVANNA.
● RIWAYAT :
Putri seorang kaya dengan memiliki kecantikan kulit yang mempesona banyak pangeran dari berbagai kerajaan namun lebih memilih kehidupan menjadi bhikkhuni.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal memiliki kekuatan batin.
4. Y.A. PATACARA.
● RIWAYAT :
Putri seorang kaya yang harus menderita karena kehilangan suami dan anak-anaknya dengan tragis dalam waktu yang singkat.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal Vinaya.
5. Y.A. DHAMMADINNA.
● RIWAYAT :
Istri seorang kaya yang suaminya mencapai Anagami terlebih dahulu kemudian mengizinkan Dhammadinna untuk menjadi bhikkhuni.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal pembabaran Dhamma.
6. Y.A. NANDA / JANAPADAKALYANI RUPANANDA.
● RIWAYAT :
Adik tiri dari Pangeran Sidharta Gautama yang memiliki kecantikan mengagumkan dan akan dinikahkan dengan Pangeran Nanda namun gagal karena Pangeran Nanda telah lebih dulu menjadi bhikkhu.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal Kebahagiaan Jhana.
7. Y.A. BAHUPUTTIKA SONA / SONA ARADDHA VIRIYA.
● RIWAYAT :
Seorang wanita yang menjadi bhikkhuni dalam usia yang sudah lanjut namun tetap dapat mencapai Arahat.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal usaha yang tekun dan bersungguh-sungguh.
8. Y.A. SAKULA.
● RIWAYAT :
Seorang yang berasal dari kasta Brahmana.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal kemampuan mata dewa.
9. Y.A. BHADDAKACCANA.
● RIWAYAT :
Dikenal juga dengan Putri Yasodhara merupakan istri dari Pangeran Sidharta Gautama.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal kemampuan batin yang tinggi karena mampu mengingat kehidupannya hingga 1 Asankheyya Kappa dan 100.000 Kappa yang lampau.
Hanya ada 4 orang yang memiliki kemampuan mengingat kehidupan lampaunya seperti ini yaitu :
• Y.A. Moggalana.
• Y.A. Sariputta.
• Y.A. Bakula.
• Y.A. Bhaddakaccana.
10. Y.A. KISAGOTAMI.
● RIWAYAT :
Seorang ibu yang sangat menderita karena kematian anaknya dan memohon kepada Buddha untuk menghidupkan anaknya itu.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal orang yang puas hanya dengan jubah yang berkualitas rendah.
R.A. KARTINI TOKOH EMANSIPASI WANITA.
AJARAN BUDDHA MENGINSPIRASI KESETARAAN GENDER DI DUNIA
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Buddha tidak pernah mendiskriminasikan atau merendahkan derajat wanita, bahkan Buddha telah menghilangkan garis pemisah sistem kasta begitu juga kesempatan untuk meraih Nibbana sama bagi pria dan wanita.
==================≈============
I. BUKTI EMPIRIS.
==================≈============
Bukti empiris bahwa Buddha Gautama / Buddha Sakyamuni menempatkan derajat wanita sama dengan pria terdapat pada beberapa sutta yang ada dalam Tripitaka di antaranya :
1. MAJJHIMA NIKAYA 73 – MAHA VACCHAGOTTA SUTTA.
Buddha mengatakan bahwa banyak sekali murid Beliau yang bergender wanita dengan menjadi bhikkhuni, atthasilani, maupun upasika memperoleh pencerahan hingga merealisasikan Nibbana.
2. MAJJHIMA NIKAYA 135 – CULA KAMMA VIBHANGA SUTTA.
Buddha menjelaskan bahwa akibat dari suatu karma tidak ada perbedaan antara seseorang yang bergender pria ataupun seseorang yang bergender wanita.
3. ANGUTTARA NIKAYA 8:49 – PATHAMA IDHA LOKA VIJAYA SUTTA.
Buddha memberikan petunjuk bahwa ada 8 hal yang dapat menyebabkan seorang wanita menjadi pemenang dalam kehidupannya saat ini maupun dalam kehidupannya yang mendatang yaitu :
a. Trampil melakukan pekerjaan rumah tangga.
b. Trampil mengatur pekerjaan dan kehidupan para pembantu rumah tangga.
c. Tidak melakukan perbuatan buruk yang oleh suaminya dianggap tidak menyenangkan.
d. Menjaga dan melindungi pendapatan suami.
e. Memiliki keyakinan yang teguh kepada Buddha dan ajaran-Nya.
f. Menjaga sila dan moralitas.
g. Memiliki dan melakukan praktek kedermawanan.
h. Memiliki kebijaksanaan sehingga mampu melihat muncul dan lenyapnya Dukkha serta mengarahkan dirinya kepada penghancuran Dukkha.
==================≈============
II. TOKOH-TOKOH WANITA PENGIKUT BUDDHA.
==================≈============
Dalam Kitab Buddhavamsa tercatat banyak murid wanita Buddha ( bhikkhuni ) dan pengikut wanita ( upasika ) yang memiliki pencapaian dan kemampuan setara bahkan melebihi pria.
Beberapa Theri yang berhasil merealisasikan Nibbana menjadi Arahat serta diberikan gelar oleh Buddha untuk keahliannya yang melebihi orang lain di antaranya :
1. Y.A. MAHAPAJAPATI GOTAMI.
● RIWAYAT :
Ibu asuh Pangeran Sidharta Gautama yang memohon kepada Buddha untuk membentuk Sangha Bhikkhuni dan mengalami Parinibbana yang lebih agung daripada Buddha Gautama sendiri karena wafatnya diikuti juga oleh 500 bhikkhuni pengikutnya yang juga telah mencapai Arahat.
Buddha sendiri yang menghantarkan dan mengatur prosesi kremasi beliau beserta 500 Arahat wanita tersebut.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal lamanya bergabung dalam Sangha.
2. Y.A. KHEMA.
● RIWAYAT :
Ratu dari Raja Bimbisara.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal memiliki pengetahuan yang dalam.
3. Y.A. UPPALAVANNA.
● RIWAYAT :
Putri seorang kaya dengan memiliki kecantikan kulit yang mempesona banyak pangeran dari berbagai kerajaan namun lebih memilih kehidupan menjadi bhikkhuni.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal memiliki kekuatan batin.
4. Y.A. PATACARA.
● RIWAYAT :
Putri seorang kaya yang harus menderita karena kehilangan suami dan anak-anaknya dengan tragis dalam waktu yang singkat.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal Vinaya.
5. Y.A. DHAMMADINNA.
● RIWAYAT :
Istri seorang kaya yang suaminya mencapai Anagami terlebih dahulu kemudian mengizinkan Dhammadinna untuk menjadi bhikkhuni.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal pembabaran Dhamma.
6. Y.A. NANDA / JANAPADAKALYANI RUPANANDA.
● RIWAYAT :
Adik tiri dari Pangeran Sidharta Gautama yang memiliki kecantikan mengagumkan dan akan dinikahkan dengan Pangeran Nanda namun gagal karena Pangeran Nanda telah lebih dulu menjadi bhikkhu.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal Kebahagiaan Jhana.
7. Y.A. BAHUPUTTIKA SONA / SONA ARADDHA VIRIYA.
● RIWAYAT :
Seorang wanita yang menjadi bhikkhuni dalam usia yang sudah lanjut namun tetap dapat mencapai Arahat.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal usaha yang tekun dan bersungguh-sungguh.
8. Y.A. SAKULA.
● RIWAYAT :
Seorang yang berasal dari kasta Brahmana.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal kemampuan mata dewa.
9. Y.A. BHADDAKACCANA.
● RIWAYAT :
Dikenal juga dengan Putri Yasodhara merupakan istri dari Pangeran Sidharta Gautama.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal kemampuan batin yang tinggi karena mampu mengingat kehidupannya hingga 1 Asankheyya Kappa dan 100.000 Kappa yang lampau.
Hanya ada 4 orang yang memiliki kemampuan mengingat kehidupan lampaunya seperti ini yaitu :
• Y.A. Moggalana.
• Y.A. Sariputta.
• Y.A. Bakula.
• Y.A. Bhaddakaccana.
10. Y.A. KISAGOTAMI.
● RIWAYAT :
Seorang ibu yang sangat menderita karena kematian anaknya dan memohon kepada Buddha untuk menghidupkan anaknya itu.
● GELAR :
Bhikkhuni terbaik dalam hal orang yang puas hanya dengan jubah yang berkualitas rendah.
R.A. KARTINI TOKOH EMANSIPASI WANITA.
R.A. Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879. Pada masa ini kedudukan dan pandangan masyarakat masih menganggap wanita sebagai kaum marginal. Meskipun dalam keterbatasan ruang gerak sebagai seorang wanita namun R.A. Kartini masih dapat memiliki wawasan pandangan yang luas dengan melihat kaum wanita tidaklah layak diberikan perbedaan strata dengan kaum pria.
Wawasan pemikiran R.A. Kartini tentang kesetaraan gender ini sedikit banyak dipengaruhi oleh sentuhan ajaran Buddha yang dibaca dan dipelajarinya dari berbagai buku serta pergaulannya dengan sahabat-sahabatnya yang beragama Buddha.
Dalam surat yang ditulis oleh R.A. Kartini ditujukan kepada R.M. Abendanon Mandri ( istri dari J.H. Abendanon ) pada tanggal 27 Oktober 1902 terdapat kalimat sebagai berikut :
”Ik ben een Boeddha-kindje, weet u, en dat is al een reden om geen dierlijk voedsel te gebruiken…”
Terjemahannya :
”Saya adalah anak Buddha, anda tahu, itu alasan saya tidak memakan makanan hewani…”
(Door Duisternis tot Licht, hal 277)
Kemudian pada surat-surat yang ditujukan kepada Dr. N. Adriani tanggal 10 Agustus 1901, Hilda Gerarda de Booij Boissevain tanggal 26 Mei 1902, dan R.M. Abendanon Mandri tanggal 5 Juli 1903 R.A. Kartini memuji sebuah buku karangan Harold Fielding ( 1859–1917 ) dari Belanda berjudul ”de Ziel van een Volk” yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Felix Orrt berjudul “Soul of a People” membahas tentang Agama Buddha dan bagaimana masyarakat Burma menerapkan ajaran Buddha tersebut dalam kehidupan mereka.
Dalam buku itu juga dibahas tentang kedudukan kaum wanita setara dengan kaum pria serta peran wanita dalam masyarakat Burma.
Dari berbagai penelusurannya itulah kemudian membuka pemikiran R.A. Kartini terhadap emansipasi wanita.
Sangat disayangkan R.A. Kartini tidak dapat mengenyam kehidupan hingga usia tuanya.
R A. Kartini wafat di Rembang, Jawa Tengah tanggal 17 September 1904 dalam usia 25 tahun setelah 4 hari melahirkan anaknya yaitu seorang putra.
R.A. Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 108 tahun 1964 tanggal 2 Mei 1964 dan sekaligus menetapkan tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini.


