Tentang Nibbana

Dapatkah setiap orang mencapai kebahagiaan dan kebebasan Nibbana? Bila dapat, apakah setiap orang pada akhirnya akan mencapainya?

Jawaban untuk hal yang pertama adalah jelas, yakni bahwa setiap orang dapat mencapai Nibbana, dan justru Sang Buddha senantiasa mendorong setiap orang untuk menjadikan Nibbana sebagai tujuan hidupnya serta agar berupaya sekuatnya untuk mencapainya.

Senandung para wanita yang telah mencapai Nibbana, terdengar lantang dan jelas, dalam menjawab pertanyaan ini.

Keadaan abadi ini telah banyak yang mencapainya, Dan tetap dapat dicapai saat inipun, bagi siapa yang menjalankannya sendiri, Tapi tidak bagi yang tidak berusaha sekuatnya.

(Therigattha : 513)

 

Apakah setiap orang dapat mencapai Nibbana atau tidak? Jawaban dari pertanyaan ini tak dapat diramalkan, karena setiap orang mempunyai minat dan cita-cita masing- masing. Sang Buddha telah mengajarkan Dhamma dan dengan segala macam cara, menganjurkan orang untuk melaksanakannya; namun tentu saja pelaksanaannya tergantung pada orang itu sendiri-sendiri.

“Gotama Yang Baik, setelah diajar dan diarahkan oleh-Mu, apakah semua Siswa-Mu akan mencapai cita-cita murni itu, atau sebagian tidak akan berhasil ?”

“Sebagian akan mencapainya dan sebagian tidak.”

Apa alasannya, Gotama Yang Baik? Apa penyebabnya ?

Aku akan bertanya padamu, brahmin ; jawablah bila berkenan. Bagaimana pikiranmu? Apakah engkau mengetahui jalan ke Rajagaha?

Ya, Gotama yang baik, saya mengetahuinya.

Baik, andaikan seorang datang padamu, dan berkata bahwa dia ingin ke Rajagaha dan bertanya arahnya, lalu engkau berkata : “Jalan ini menuju ke Rajagaha; berjalanlah terus sampai ke suatu desa, berjalanlah terus sampai engkau tiba di pasar, lalu bila engkau berjalan terus, engkau akan sampai di Rajagaha dengan kebun-kebunnya yang indah, hutan-hutan yang indah, lapangan- lapangan yang indah dan kolam-kolam yang indah. Namun, walau telah ditunjukkan dan diarahkan olehmu jalan itu, tapi orang tadi mengambil jalan lain yang menuju ke Barat. Dan, oleh karenanya dia tidak sampai ke Rajagaha. Lalu, andaikan seorang lagi datang padamu, dan dia juga berkeinginan ke Rajagaha, lalu karena dia mengikuti petunjukmu, maka akhirnya dia tiba dengan selamat. Jadi oleh karena ada Rajagaha, oleh karena ada jalan menuju kesana dan juga ada engkau sebagai peunjuk jalan, mengapa orang yang pertama tidak sampai, sedangkan orang yang satunya lagi sampai ke Rajagaha?

Gotama yang baik, apa yang harus saya kerjakan dalam hal ini ? Saya tiada lain hanyalah seorang penunjuk jalan.

Demikian pula, Brahmin; ada Nibbana, ada jalan menuju ke Nibbana, dan ada Aku sebagai penunjuk jalan ke Nibbana. Tapi hanya sebagian siswa yang diajar dan diarahkan oleh-Ku yang mencapai Nibbana, sebagian lainnya tidak. Apa yang dapat Aku perbuat dalam hal ini? Sang Tathagata hanyalah penunjuk jalan.”

(Majjhima Nikaya II ;5 )

Tapi satu hal yang pasti, siapapun yang mencapai Nibbana adalah sebagai hasil menjalankan ajaran Sang Buddha.

“Bila, dengan pengertian penuh Gotama Yang Baik telah mengajarkan Dhamma pada para SiswaNya

~ untuk pemurnian makhluk hidup,

~ untuk mengatasi penyesalan dan keputus-asaan,

~ untuk mengakhiri kesedihan dan kemurungan,

~ untuk mencapai tatacara-Nya,

~ untuk mencapai Nibbana;

~ lalu apakah seluruh dunia akan mencapainya,

~ atau seperduanya,

~ atau sepertiganya?”

Sampai disitu, Sang Buddha berdiam diri. Lalu Ananda berpikir:” Orang ini hendaknya jangan sampai berpikir bahwa Sang Buddha tidak dapat menjawab pertanyannya yang penting ini.”

Jadi Ananda berkata :

”Saya akan memberitahu suatu perumpamaan.”

°Bayangkan ada suatu kota dikelilingi oleh tembok dengan dasar pondasi yang sangat kuat,

°bermenara dan berpintu gerbang hanya satu,

°pintu gerbang itu dijaga ketat,

°hanya orang yang dikenal diperbolehkan melewatinya dan orang asing tak diperbolehkan melewatinya.

Lalu, ketika seseorang berjaga di sekeliling tembok, dia tidak menemukan satupun lobang yang dapat dilewati walau oleh seekor kucing pun. Dengan demikian dia tahu, bahwa semua makhluk, besar ataupun kecil, hanya dapat masuk ke kota atau keluar dari kota dengan melewati gerbang tersebut.

Sama halnya dengan pertanyaanmu, tidaklah penting bagi Sang Buddha.

Apa yang disabdakan Beliau adalah, bahwa : 

~Siapapun yang telah terbebas, 

~sedang terbebas 

~ataupun akan terbebas dari dunia ini, 

°dia akan terbebas dengan cara melepaskan kelima rintangan, 

°melepaskan kesesatan batin yang melemahkan kebijaksanaan, 

°dia akan tebebas dengan cara mengembangkan batin dalam empat dasar kesadaran, 

°dan dengan mengembangkan tujuh unsur pencerahan.” 

(Anguttara Nikaya V : 194).

Setelah Sang Buddha mencapai Nibbana, Beliau “mengajak” semua umat manusia untuk mengikuti Jalan agar umat manusia juga dapat menikmati kedamaian, kebahagiaan dan kebebasan.

“Ajakan” beliau masih berlaku sampai saat ini.

 

Pintu-pintu ke Abadian telah terbuka, Marilah!, mereka yang dapat mendengar, berusaha dengan keyakinan.

(Majjhima Nikaya I:169).

 

Demikianlah adanya dan semoga bermanfaat.

Sadhu…Sadhu…Sadhu….

Related Post