- Tepat menjelang masa kediaman musim hujan-Nya yang ketujuh, pada hari bulan purnama bulan Āsāḷha, Bhagavā kembali melakukan Mukjizat Ganda (Yamaka Pāṭihāriya) di kaki pohon gaṇḍamba di gerbang Kota Sāvatthi untuk menghancurkan kesombongan dan gengsi dari kaum sesat. Kemudian, Bhagavā menuju ke Surga Tāvatiṁsa dan melewati masa kediaman musim hujan selama tiga bulan di sana.
Bhagavā duduk bersila di singgasana paṇḍukambalasilāsana milik Dewa Sakka, di kaki pohon pāricchattaka. Selama tiga bulan, Ia membabarkan Ajaran Lanjut (Abhidhamma) kepada ibu-Nya, Mahāmāyā, sebagai pendengar utama. Sebagaimana yang telah dikisahkan sebelumnya, pada hari ketujuh setelah Ratu Mahāmāyā melahirkan Bodhisatta, ia wafat dan terlahir kembali sebagai dewa dengan nama Santusita di Surga Tusita. Untuk mendengarkan Abhidhamma yang dibabarkan Bhagavā di Surga Tāvatiṁsa, Dewa Santusita turun dari Tusita. Kumpulan dewa dari sepuluh ribu tata dunia juga datang dan mendengarkan Dhamma dengan penuh perhatian.
Untuk memperoleh gambaran yang lengkap, Abhidhamma harus dibabarkan dari awal hingga akhir pada pendengar yang sama dalam satu sesi tanpa putus. Itulah sebabnya, mengapa Bhagavā lebih memilih mengajarkan Abhidhamma di dunia dewa daripada di dunia manusia. Dan karena pembabaran Abhidhamma secara lengkap membutuhkan waktu tiga bulan, hanya para dewa dan brahmā yang mampu menerimanya secara berkesinambungan karena hanya merekalah yang mampu berdiam dalam satu postur untuk waktu yang sedemikian panjang.
Bagaimanapun, untuk tetap memelihara tubuh-Nya, setiap hari Bhagavā turun kembali ke dunia manusia untuk menerima dana makanan di wilayah Uttarakuru. Setelah menerima dana makanan, Ia akan pergi ke tepi Danau Anotatta untuk bersantap. Sementara itu, Ia menciptakan citra Buddha yang sama dengan citra diri-Nya sendiri, dengan suara seperti suara diri-Nya, serta berbicara dan berlaku persis seperti diri-Nya. Lalu, Ia membuat citra diri-Nya yang tengah duduk itu untuk tetap mengajarkan Abhidhamma sebagaimana yang dikehendaki-Nya.
Kemudian, Bhikkhu Sāriputta, Sang Panglima Dhamma, akan menjumpai Bhagavā di sana dan menerima ringkasan ajaran yang dibabarkan pada hari itu di Surga Tāvatiṁsa. Lalu, Bhagavā memberikan ajaran dengan cara tersebut kepadanya, dan berkata: “Sāriputta, telah Saya ajarkan Dhamma sebanyak ini.” Seakan-akan Bhagavā berdiri di pantai dan menunjuk ke arah lautan yang mahaluas dengan tangan yang direntangkan. Kendatipun demikian, sang siswa utama, yang terbekali pengetahuan penelaahan, mampu memahami Dhamma yang diajarkan Bhagavā dalam ratusan dan ribuan cara.
Setelah memahami Abhidhamma dalam bentuk ringkas dari Bhagavā setiap harinya, selanjutnya Bhikkhu Sāriputta mengajarkannya dalam bentuk yang tidak terlalu singkat dan tidak terlalu panjang pada kelima ratus siswa bhikkhu di bawah bimbingannya, yang dalam kehidupan lampau semuanya pernah terlahir bersama sebagai kelelawar. Karena itu, Abhidhamma Piṭaka sebenarnya adalah pembabaran Dhamma dari Bhikkhu Sāriputta. Seusai pembabaran Abhidhamma tersebut, delapan ratus juta dewa dan brahmā terbebaskan dengan menembus Empat Kebenaran Mulia. Dewa Santusita, yang dulunya merupakan ibu dari Bhagavā di dunia manusia, mencapai Buah Kesucian Sotāpatti.
Ketika masa berdiam musim hujan hampir berakhir, banyak orang datang dan bertanya kepada Bhikkhu Moggallāna: “Bhante Moggallāna, kapan dan di mana Bhagavā akan kembali ke dunia ini? Kami tidak akan pulang sebelum memberi sembah hormat pada-Nya.” Lalu, dengan kekuatan adibiasanya yang dahsyat, Bhikkhu Moggallāna pergi ke Surga Tāvatiṁsa untuk menghadap Bhagavā. Setelah memberi sembah hormat pada-Nya, ia menyampaikan keinginan orang-orang terhadap Bhagavā.
Bhagavā bertanya: “Di mana Sāriputta, saudaramu, melewati masa berdiam musim hujannya?”
Bhikkhu Moggallāna menjawab: “Bhante, ia tengah melewati masa berdiam musim hujannya di Kota Saṅkassa.”
Bhagavā menjawab: “Kalau demikian, baiklah Moggallāna, Saya akan kembali ke dunia manusia pada hari bulan purnama, bulan Assayuja, di gerbang kota di Saṅkassa.”
Ketika waktunya tiba, Bhagavā memberitahukan Sakka, raja para dewa, mengenai keberangkatan-Nya. Kemudian Sakka menciptakan tiga tangga yang terbuat dari emas, rubi, dan perak secara berjajar, dengan ujung dasarnya di gerbang Kota Saṅkassa, dan ujung atasnya berdiam di puncak Gunung Meru. Demikianlah, Bhagavā—dengan cahaya enam warna yang memancar dari tubuh-Nya—turun ke dunia manusia di gerbang Kota Saṅkassa dengan menggunakan tangga rubi di bagian tengah; sementara itu, para dewa mengikuti dengan menggunakan tangga emas di sisi kanan, dan para brahmā agung menggunakan tangga perak di sisi kiri.
Pada saat itu, seluruh daerah di sana—sampai ke alam Akaniṭṭha Brahmā—tampak terbuka dan terlihat jelas. Demikian pula dengan Neraka Avīci yang berada di bagian terbawah dari alam sengsara. Dari segala arah, ribuan tata dunia juga dapat terlihat tanpa halangan sama sekali. Pemandangan aneh ini tampak oleh semua dewa, brahmā, dan manusia. Demikianlah, para dewa dan brahmā dapat melihat manusia, dan manusia dapat melihat para dewa dan brahmā.
Rombongan dalam jumlah besar yang dipimpin Bhikkhu Sāriputta menyambut Bhagavā kembali ke alam manusia. Mereka mendekati-Nya, memberi sembah hormat pada-Nya serta berkata: “Bhante, belum pernah kami lihat ataupun dengar mengenai kemuliaan yang sedemikian luar biasa dan gemilang. Sesungguhnya, Bhante, Bhagavā sama-sama dikasihi, dihormati, serta dimuliakan oleh para dewa, brahmā, dan manusia!”
Kepada Bhikkhu Sāriputta, Bhagavā berkata: “Sāriputta, memang benar bahwa banyak dewa, brahmā, dan manusia mengasihi dan memuliakan keagungan, keanggunan, serta kemuliaan para Buddha.”
Lalu Bhagavā mengucapkan sebait syair: “Para bijak, yang menguasai konsentrasi jhāna (samatha bhāvanā) dan pengembangan pandangan cerah (vipassanā bhāvanā), berbahagia dalam damai Pembebasan dari kenikmatan indrawi dan kotoran batin. Mereka yang bijak dan berperhatian murni ini, yang sungguh memahami Empat Kebenaran Mulia, juga dikasihi oleh para dewa.”
Pada akhir pembabaran tersebut, kelima ratus bhikkhu, yang merupakan siswa dari Bhikkhu Sāriputta, mencapai tataran Arahatta; banyak sekali dewa dan manusia dalam kerumunan tersebut mencapai Buah Kesucian Sotāpatti.



