Hidup di jaman modern yang serba cepat, penuh hal yang terkesan kemrungsung (tergesa-gesa) menuntut kita untuk dapat lebih mengendalikan diri.
Perbedaan pendapat, cara berpikir, dan keyakinan seringkali menjadi penyebab konflik kecil yang terkadang menjadi masalah yang kompleks.
Berikut ini ada sebuah cerita yang menarik untuk disimak.
Suatu hari ada seorang pemuda naik sebuah taksi menuju ke bandara.
Taksi tersebut melaju pada jalur yang benar ketika tiba-tiba ada sebuah mobil hitam mendadak keluar dari tempat parkir tepat di depan taksi yang ia tumpangi.
Spontan supir taksi menginjak pedal rem dalam-dalam sehingga ban mobil berdecit dan akhirnya berhenti hanya dengan jarak beberapa sentimeter saja dari mobil hitam itu.
Pengemudi mobil hitammenongolkan kepalanya dari jendela mobil.
Ia mengepalkan tangannya ke arah supir taksi sambil memaki-maki.
Supir taksi hanya tersenyum, lalu melambaikan tangan kepada pengemudi mobil hitam itu.
Pemuda itu heran melihat sikap supir taksi yang demikian bersahabat, lalu ia pun bertanya, “Pak, mengapa Anda melakukan hal demikian?” Orang itu hampir menabrak mobil Bapak dan sangat mungkin ia bisa mengirim kita berdua ke rumah sakit?”
Saat itulah supir taksi itu memberikan pelajaran berharga yang lebih dikenal dengan “Hukum Truk Sampah”.
Ia menjelaskan bahwa di luar sana banyak sekali orang yang lalu lalang seperti truk sampah.
Mereka berjalan keliling kesana-kemari membawa sampah seperti :
frustasi, kekecewaan, kemarahan dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu semakin penuh kapasitas ‘sampah’, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya.
Dan seringkali mereka membuangnya kepada kita.
Apa yang perlu kita lakukan terhadapnya?
Jangan masukkan ke dalam hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, doa kan hal baik kepada mereka dan lanjutkan aktivitas hidup kita.
Jangan ambil sampah mereka untuk membuangnya kepada orang lain yang kita temui di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan.
Intinya orang yang berbahagia adalah orang yang tidak membiarkan ‘ truk sampah’ mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak suasana hati.
Hidup ini terlalu singkat dan terlalu berharga untuk hanya diisi dengan hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Hidup ini 10 % mengenai apa yang kita alami, sisanya 90% adalah bagaimana kita bisa menghadapinya dengan baik dan benar.
Kita tidak bisa memilih dan mengatur hal-hal yang terjadi pada diri kita sendiri.
Hal terpentingnya adalah yang 90% tadi, cara kita menghadapinya.
Di sinilah pentingnya kita mengerti dan mempraktikkan Dhamma yang telah disampaikan Sang Buddha hampir 2600 tahun lalu.
Dhamma sebagai pedoman hidup kita, yang menuntun kita ke arah hidup yang lebih baik.
Sang Buddha bersabda :
“Dananca dhammacariya ca, Etammangalamuttamam “
Salah satu kalimat dalam Mangala Sutta (tentang berkah utama) ini berarti :
“Berdana dan hidup sesuai Dhamma, Inilah berkah utama “
Hidup sesuai Dhamma dapat diartikan senantiasa mempraktikkan tiga hal yaitu ;
Dana (kerelaan),
Sila (perilaku luhur), dan
Bhavana (pengembangan batin).
Inilah pondasi kehidupan kita yang dapat melindungi diri kita dalam kehidupan ini.
Dana merupakan praktik Dhamma yang paling dasar, sebagai pondasi untuk melatih praktik yang lebih tinggi.
Praktik Dana ini berguna untuk melatih diri mengembangkan kerelaan, berbagi, memberi kepada siapapun yang membutuhkan.
Dalam kehidupan sehari-hari praktik ini sangat berguna mengikis kemelekatan.
Sangat berguna untuk melepas ‘sampah’ dalam pikiran atau mental kita.
Banyak beban pikiran yang semestinya tidak perlu kita simpan, senantiasa kita bawa kemana-mana persis seperti truk sampah dalam cerita di atas.
Berdana bisa dalam bentuk pemikiran atau ide, tenaga maupun materi.
Pemberian dana tertinggi adalah Dhamma Dana atau mengajarkan kebenaran tentang kehidupan ini.
Perilaku luhur menjaga lima latihan moral (Pancasila);
tidak membunuh,
tidak mencuri,
tidak melakukan perbuatan asusila,
tidak berbohong, dan
tidak mengonsumsi minuman keras atau narkoba.
Praktik Pancasila ini adalah harga mati, tidak dapat ditawar lagi.
Semakin menurunnya moralitas dalam kehidupan zaman sekarang menuntut kita akan praktik kelima sila tersebut dengan lebih sungguh- sungguh.
Pelanggaran sila akan mengganggu keharmonisan hidup sesama manusia.
Dan yang terakhir, praktik Bhavana untuk menjaga pikiran kita senantiasa dalam kesadaran (ingat dan waspada) terhadap apa yang kita pikirkan, ucapkan dan lakukan. Praktik tidak hanya dilakukan pada saat kita duduk diam mata terpejam saja.
Saat kita duduk itu hanyalah proses “charge” pikiran dan batin kita.
Penerapannya dilakukan kapan saja, dalam setiap aktivitas kita, menyadari apapun yang kita lakukan, baik berdiri, berjalan maupun duduk, selagi berbaring tiada lelap.
Dengan praktik dana, sila, dan bhavana, niscaya kita akan memperoleh kehidupan yang lebih baik di segala segi kehidupan.
Sukhi hontu
Semoga semuanya berbahagia.

