Sang Buddha mengajarkan kita untuk merenung-kan kondisi yang mengacaukan pikiran itu. Kapan pun pikiran bergerak, ia menjadi tidak stabil dan tak permanen (anicca), tak memuaskan (dukkha) dan bukan sebuah diri (anattâ). Ini merupakan tiga corak universal dari semua fenomena yang terkondisi. Sang Buddha mengajarkan kita mengamati serta mengkontemplasikan pergerakan pikiran ini.
Demikian pula halnya dengan ajaran mengenai sebab-musabab saling bergantungan (paticca-samuppâda) yang sama dengan kekeliru-tahuan (avijja) merupakan sebab dan kondisi timbulnya bentuk-bentuk karma kehendak (sankhâra), yang mana kemudian menjadi sebab dan kondisi bagi munculnya kesadaran (viññana); lalu merupakan sebab dan kondisi bagi munculnya bathin dan jasmani (nâma-rûpa) dan seterusnya, sebagaimana yang kita pelajari dalam kitab suci. Sang Buddha memilah setiap mata-rantai agar membuatnya lebih mudah dipelajari.
Sebenarnya ini merupakan penjelasan yang akurat dan teliti tentang realita, tetapi ketika hal ini sungguh terjadi di kehidupan nyata, para cendekiawan kalah sigap, tak mampu mengikuti proses ini. Bagai jatuh terjerembab dari atas pohon hingga menghantam tanah. Kita tak lagi tahu berapa banyaknya ranting yang telah kita lewati sepanjang proses jatuh itu. Sama seperti tatkala pikiran ditubruk oleh suatu kesan mental – apabila tergiur olehnya, maka pikiran ini segera melayang-layang ke dalam suasana bathin yang menyenangkan; ia menganggapnya sebagai suatu hal yang baik tanpa menyadari rantai kondisi yang menyebabkannya, proses ini memang berjalan sesuai dengan uraian dalam teori, namun pada saat yang sama ia juga melampaui batas-batas teori tersebut.
Tidak ada yang mengumumkan, “Ini Iho kebodohan, Ini Iho bentuk-bentuk karma, dan inilah kesadaran”. Proses tersebut manakala sedang terjadi [berlangsung sangat cepat] tak lagi memberi kesempatan bagi para cendekiawan untuk membaca dan menelitinya. Walaupun Sang Buddha telah menganalisa dan menjelaskan urutan momen-momen pikiran dengan amat rinci, namun kejadiannya lebih mirip seperti jatuh dari pohon. Tiada lagi kesempatan bagi kita untuk memperkirakan berapa meter kita telah terjatuh. Apa yang kita bisa ketahui cuma: kita menubruk tanah dengan keras dan itu menyakitkan!
Begitu juga dengan pikiran ini. Saat ia terjatuh untuk suatu hal, apa yang kita sadari hanyalah rasa-sakitnya. Dari manakah datangnya semua penderitaan ini, rasa sakit, kesedihan dan keputus-asaan? Mereka tidak datang dari teori yang ada dalam buku. Tiada dimanapun juga tempat rincian penderitaan ini dituliskan. Penderitaan kita takkan sama persis dengan teori, tetapi keduanya melintasi jalan yang sama. Jadi sekedar kecendekiawanan itu saja tidaklah bakal mampu mengikuti kenyataan.
Itulah sebabnya Sang Buddha mengajarkan kita untuk mengembangkan pemahaman yang jelas (clear knowing) bagi diri kita sendiri. Apapun yang muncul, muncul dengan diketahui. Manakala “yang-mengetahui” mengetahuinya sejalan dengan kebenaran (truth), maka
pikiran ini beserta faktor-faktor mentalnya pun bakal dikenali sebagai: bukan-milik-ku. Dan pamungkasnya, semua fenomena itu adalah cuma untuk ditinggalkan dan dibuang layaknya sampah. Kita musti jangan melekat atau memberi arti apapun padanya.
Sang Buddha tidak mengajarkan mengenai pikiran dan faktor-faktor mentalnya untuk kita lekati sebagai konsep. Satu- satunya tujuan beliau hanyalah agar kita memahami bahwa semua ini tidak-kekal, tak memuaskan dan tiada-diri. Kemudian: biarkanlah berlalu. Letakkan, sadari dan ketahuilah saat kemunculannya. Pikiran ini memang sudah sangat begitu terkondisinya. la terlalu lama dilatih dan terkondisi untuk selalu lari, meleset dari keadaan kesadaran-murni (pure awareness). Dan ketika ia menggelincir, ia menciptakan fenomena terkondisi yang selanjutnya mempengaruhi suasana pikiran, demikianlah seterusnya ia beranak-pinak.
Proses inilah yang melahirkan baik dan buruk serta segala hal di muka bumi ini. Sang Buddha mengajarkan kita untuk meninggalkan semua itu. Di awal, tentu saja anda harus membiasakan diri mempelajari berbagai teori supaya nantinya anda mampu meninggalkan semuanya. Ini sekedar proses alamiah saja. Ya demikianlah pikiran ini.
Demikian pula faktor-faktor mental.
Ambil sebagai contoh: Jalan Mulia Berunsur Delapan. Manakala kebijaksanaan (wisdom) memandang segala sesuatu secara benar dengan wawasan kebijaksanaan (insight), maka pandangan-benar ini akan membawa kepada pemikiran- benar, ucapan-benar, tindakan-benar dan seterusnya. Semua ini meliputi pelbagai kondisi psikologis yang timbul dari hasil pengetahuan-kesadaran-murni (pure knowing awareness), Pengetahuan ini bagaikan sebuah lentera yang menerangi jalan setapak di hadapan kita di kegelapan malam. Bila pengetahuan ini (the knowing) sudah benar, yakni sesuai dengan kenyataan (truth), ia bakal menyebar serta menerangi setiap langkah pada jalan berikutnya.
Apapun yang kita alami, semuanya muncul dari dalam pengetahuan ini. Apabila pikiran ini tidak eksis, pengetahuan tersebut juga tidak akan ada. Semua ini adalah fenomena pikiran. Seperti yang dikatakan Sang Buddha, pikiran adalah cuma sekedar pikiran. la bukanlah makhluk, diri-orang ataupun diri-anda. Juga bukan diri kita maupun mereka. Dhamma itu adalah sekedar Dhamma, begitu saja titik. la alami, berlangsung dengan sendirinya tanpa ada “diri” yang terlibat. la bukanlah kepunyaan kita atau siapapun. la bukan pula sesuatu. Apapun yang dialami seseorang tak lain adalah lima gugus fundamental (khandha): tubuh, perasaan, pencerapan (persepsi), bentuk-bentuk pemikiran dan kesadaran. Sang Buddha mengatakan: biarkanlah semua itu berlalu.
Meditasi itu bagaikan sebatang kayu. Pemahaman dan penyelidikan (vipassana) di salah satu ujung; ketenanagan dan konsentrasi (samatha) di ujung yang lain. Jikalau kita memungutnya, apakah hanya satu ujung yang terbawa? Atau keduanya? Saat seseorang mengambil sebatang kayu, kedua ujungnya terangkat bersama. Lalu, bagian mana yang vipassana, dan mana yang samatha? Dimana batas persis-nya? Sesungguhnya: keduanya adalah pikiran. Bilamana pikiran ini menjadi damai, awalnya kedamaian ini muncul dari ketenangan samatha.
Kita memusatkan dan menyatukan pikiran dalam kekhusukan meditatif (samadhi). Akan tetapi, bilamana kedamaian dan ketenangan dari samadhi itu berlalu, penderitaan bakal datang menggantikan. Mengapa demikian? Karena kedamaian yang dihasilkan dari meditasi samatha saja itu masih berdasarkan kemelekatan. Kemelekatan ini kemudian bisa justru menjadi penyebab penderitaan lagi. Jadi, ketenangan bukan merupakan tujuan akhir. Sang Buddha menyaksikan berdasarkan pengalamanNya sendiri bahwa kedamaian pikiran seperti itu bukanlah yang pamungkas.
Sebab-sebab terdalam yang mendasari proses eksistensi (bhava) belumlah terpadamkan (nirodha). Kondisi yang menyebabkan kelahiran kembali masih ada. Usaha spiritualnya belum mencapai kesempurnaan. Mengapa? Karena: masih ada penderitaan. Jadi berlandaskan ketenangan samatha itu beliau melanjutkan kontemplasi, meng-investigasi dan menganalisa hakekat realitas terkondisi hingga ia terbebas dari kemelekatan, bahkan kemelekatan terhadap ketenangan itu sendiri.
Ketenangan ini masihlah merupakan bagian dari dunia eksistensi yang terkondisi dan merupakan realitas-konvensional. Melekat pada kedamaian ini adalah kemelekatan pada realitas-konvensional; selama kita melekat, kita akan terjerumus dalam eksistensi dan kelahiran kembali. Jadi, kalau cuma berhenti dan hanya menikmati ketenangan samatha saja masih akan membawa kepada eksistensi berikutnya serta kelahiran kembali.
Tatkala kegelisahan dan gejolak pikiran mereda, seseorang melekat pada buah kedamaian tersebut dan penderitaan mulai kembali.
Sang Buddha melanjutkan untuk memeriksa sebab dan kondisi yang mendasari keberadaan dan kelahiran kembali. Selama beliau belum sepenuhnya menembus persoalan dengan tuntas dan memahami kebenaran, beliau terus mengamati semakin mendalam dan kian mendalam dengan pikiran yang damai, merefleksikan segalanya — baik yang menyenangkan maupun yang tidak, muncul ke [permukaan] eksistensi. Investigasi-nya terus merangsek maju hingga segalanya menjadi sangat jelas bagi beliau bahwa: semua yang hadir kedalam eksistensi ini adalah bagai bongkah besi membara.
Lima gugus pengalaman makhluk hidup (khanda) adalah bongkahan besi yang panas. Apakah kita dapat menyentuh sebongkah besi merah membara tanpa cidera? Apakah terdapat bagian yang dingin? Coba sentuh bagian atas, samping, ataupun bawahnya. Apakah ada satu titik pun yang dingin? Tak mungkin. Bongkahan besi yang terbakar ini seluruhnya panas membara.
Kita bahkan jangan melekat pada ketenangan-bathin. Karena bila kita mengidentifkasikan diri kita dengan kedamaian itu, lalu beranggapan bahwa ada “seseorang” yang diam dan tenang, ini akan mempertajam rasa adanya diri yang independen atau jiwa. Rasa-diri ini cuma merupakan bagian realitas konvensional. Dengan [kebiasaan] berpikir,”Saya tenang”, “Saya gelisah”, “Saya baik”, “Saya buruk”, “Saya bahagia” atau “Saya tidak bahagia”, kita bakal kian terperangkap lebih dalam lagi pada eksistensi dan kelahiran kembali, bakal ada penderitaan. Bila kebahagiaan berakhir, maka penggantinya adalah ketidak-bahagiaan. Ketika kesedihan hilang, maka kitapun kembali senang. Terperangkap pada lingkaran tiada akhir ini, membuat kita terus berputar-putar antara surga dan neraka.
Sebelum pencerahannya, Sang Buddha mengenali pola ini dalam hatiNya. Beliau mengetahui bahwa kondisi untuk eksistensi dan kelahiran kembali belumlah lenyap. Pekerjaannya belum selesai. Dengan berfokus pada kondisi kehidupan, la merenungi sesuai dengan hakekat: “Oleh sebab ini maka ada kelahiran, adanya kelahiran menyebabkan adanya kematian, semua perubahan datang dan pergi” Maka Sang Buddha mengambil tema ini sebagai perenungan untuk memahami kebenaran lima khandha.
Segala sesuatu baik mental maupun fisik, semua yang ditangkap dan dipikirkan tanpa kecuali adalah terkondisi. Begitu la mengetahuinya, maka la mengajar kita untuk melepaskan semua itu. la mendorong orang lain untuk memahami kebenaran ini. Jika tidak, kita akan terus menderita. Kita tidak akan dapat melepas hal-hal ini. Bagaimanapun ketika kita memahami sesuatu sebagaimana adanya, kita akan mengetahui bahwa semuanya ini telah mengecoh kita. Sebagaimana ajaran Sang Buddha,”Pikiran ini tak mempunyai substansi, ia bukanlah apa-apa”.
Pikiran ini tidak terlahir sebagai milik siapapun. la tidak mati sebagai milik seseorang. Pikiran itu sejatinya bebas, cemerlang, cerah dan tidak digayuti dengan masalah atau isu apapun. Masalah itu ada karena pikiran dikaburkan oleh hal-hal berkondisi tadi, persepsi yang salah akan diri. Jadi Sang Buddha menyuruh kita mengamati pikiran ini. Apakah yang ada di sana pada mulanya? Sebenarnya, tidak ada apapun. Pikiran tidak lahir dengan hal-hal berkondisi dan juga tidak mati dengannya. Ketika pikiran berjumpa dengan sesuatu yang baik, ia tidak menjadi baik. Ketika berhubungan dengan sesuatu yang jahat, ia tidak pula menjadi jahat. Demikianlah adanya manakala ada insight yang jernih terhadap hakekat diri seseorang. Inilah pemahaman bahwa pada dasarnya segala hal itu tanpa-substansi.
Sang Buddha melihat dengan sangat jelas bahwa segala sesuatu adalah tidak kekal, tidak memuaskan dan tiada diri. la menginginkan kita juga memahami hal itu sepenuhnya. Dengan demikian “yang tahu” (the “knowing”) akan memahami sejalan dengan kebenaran (truth).
Kemudian manakala ia berjumpa dengan kebahagiaan dan kesedihan, ia kokoh tetap tak-goyah. Emosi bahagia merupakan wujud kelahiran. Kecenderungan untuk sedih adalah wujud dari kematian. Bila ada kematian maka ada kelahiran, dan apa yang dilahirkan bakal mati. Segala yang timbul dan lenyap ini terjebak dalam siklus menjadi-sesuatu (becoming) yang tiada hentinya.
Begitu pikiran seorang meditator mencapai level pemahaman seperti ini, tiada lagi kebimbangan tentang apakah ada penjelmaan? Apakah ada kelahiran kembali? Tiada perlu lagi bertanya kepada siapapun.
Sang Buddha telah menyelidiki fenomena terkondisi ini secara menyeluruh, dengan demikian mampu membiarkan semuanya berlalu. Kelima khandha dibiarkan berlalu, dan “yang-mengetahui” berlangsung sekedar sebagai pengamat yang tak terpisahkan dari proses tersebut. Jika ia mengalami sesuatu yang positif, ia tidak berubah jadi positif. la sekedar menyimak dan tetap menyadari. Jikalau ia mengalami sesuatu yang negatif, ia tidak menjadi negatif.
Mengapa bisa demikian? Karena pikirannya telah bebas terlepas dari segala sebab dan kondisi. la telah menembus Kebenaran. Kondisi-kondisi yang membawa kelahiran kembali telah tiada. Inilah “si tahu” yang jelas dan bisa diandalkan. Inilah pikiran yang damai sejati. Ini- lah: yang tak dilahirkan, tak menua, yang tidak mengalami sakit dan kematian. Ini bukanlah sebab maupun akibat, juga tidak tergantung pada sebab dan akibat. Bebas dari proses causal conditioning. Penyebabnya lenyap tanpa ada kondisi yang tersisa. Pikiran ini melampaui semua kelahiran dan kematian, kebahagiaan dan kesedihan, baik dan jahat. Lalu apa? Ini di luar jangkauan bahasa untuk menjelaskannya. Semua kondisi yang mendukungnya telah lenyap, dan segala usaha untuk mendeskripsikannya cuma akan membawa ke kemelekatan, Kata-kata yang digunakan kemudian cuma menjadi teori dari pikiran.
Penjelasan teoritis mengenai pikiran dan cara kerjanya memang benar akurat, namun Sang Buddha menyadari bahwa dengan pengetahuan macam ini saja relatif tak banyak berguna. Kita bisa memahami sesuatu secara intelektual lalu mempercayainya, tapi ini bukanlah manfaat yang nyata. Itu takkan membawa ke kedamaian pikiran.
Pengetahuan Sang Buddha membawa ke pelepasan (letting go) yang menghasilkan sikap meninggalkan (abandoning) dan mengentas (re-nunciation). Oleh sebab pikiran inilah tepatnya yang membawa kita terlibat dengan apa yang benar dan yang salah. Jika kita cerdas, maka kita hanya akan berurusan dengan hal-hal yang benar. Namun kalau kita bodoh kita bakal berurusan dengan hal-hal yang salah. Pikiran yang begitulah dunia ini, dan Yang Terberkahi mengambil hal-hal dari dunia untuk menyelidiki dunia itu sendiri. Mengetahui dunia ini sebagaimana adanya, beliau kemudian dikenal sebagai ‘Yang memahami dunia dengan jelas’.
Pembahasan meditasi samatha dan vipassana, yang penting bagi diri kita adalah mengembangkan keadaan tersebut dalam bathin kita sendiri. Hanya pada saat kita menumbuh- kembangkan sendirilah, baru kita dapat mengetahui seperti apa samatha dan vipassana itu sesungguhnya. Kita bisa saja menempuh belajar segala apa yang dikatakan buku-buku mengenai faktor-faktor psikologis pikiran, tetapi sekedar pemahaman intelektual ini tidaklah banyak berguna untuk benar-benar dapat memotong nafsu egois keinginan, kebencian dan kebodohan.
Hanya mempelajari teori tentang itu sama halnya dengan menjelaskan ciri-ciri dari kekotoran bathin tersebut; ‘nafsu keinginan seperti ini’, ‘kebencian seperti itu’, ‘kebodohan seperti ini’. Mengetahui ini sebatas teori, kita hanya dapat memperbincangkannya sebatas itu pula. Kita tahu dan kita pandai, tetapi tatkala kekotoran bathin ini sungguh-sungguh muncul dalam pikiran, apakah mereka cocok dengan teori tersebut atau tidak?
Contoh, ketika kita mengalami sesuatu yang tidak diharapkan, apakah kita akan bereaksi dan menjadi murung? Apakah kita melekat? Bisakah kita membiarkannya berlalu? Jika sesuatu yang tidak disukai timbul dan kita mengenalinya, apakah kita masih larut padanya? Atau begitu kita telah melihatnya, apakah kita segera melepaskan? Kalau berjumpa dengan hal-hal yang tidak kita sukai lalu kejengkelan masih saja berkembang di dalam hati, lebih baik kita kembali mulai belajar lagi dari awal. Ini masih belum benar. Latihan ini belumlah sempurna. Ketika ia memang sudah mencapai kesempurnaan, maka pelepasan pun terjadi. Perhatikanlah ini dengan jelas.
Kita harus benar-benar melihat ke dalam bathin sendiri jika ingin mendapatkan buah dari praktik-meditatif. Sekedar berusaha mendeskripsikan keadaan psikologis pikiran, dengan cara merinci sejumlah momen-momen terpisah dari kesadaran serta berbagai perbedaaan karakteristiknya, tidaklah membawa praktik-meditasi kita berkembang. Masih sangat banyak kurangnya.
Bila kita memang hendak mempelajari hal-hal ini, maka kuasailah mereka sepenuhnya, dengan kejelasan serta pemahaman yang mendalam. Tanpa “kejernihan insight”, bagaimana mungkin kita menuntaskannya? Tak ada akhir dari itu. Kita takkan pernah menyelesaikan pembelajaran kita.
Mempraktikkan Dhamma sangatlah luar-biasa penting. Ketika saya praktik, ya dengan begitulah cara saya belajar. Saya tidak tahu apapun mengenai momen-momen pikiran dan faktor-faktor mental. Saya hanya mengamati kualitas “mengetahui”. Jika buah pikir kebencian timbul, saya sekedar menanyai diri sendiri: mengapa ya? Bila buah pikir cinta timbul, saya bertanya pada diri sendiri: mengapa? Inilah caranya, apakah ia mau disebut buah-pikir atau faktor-mental, terus ngapain? Cukup tembuslah satu-titik ini saja, hingga anda mampu mengatasi rasa cinta dan benci, sampai mereka sepenuhnya lenyap dari bathin.
Dalam keadaan apapun, ketika saya mampu stop mencintai dan membenci, disitulah saya
mampu mengatasi penderitaan. Selanjutnya tiada lagi beban apapun, hati serta pikiran lega dan santai. Tiada yang tersisa, semua telah berhenti.
Berlatihlah seperti itu. Bila orang ingin ngomong panjang lebar tentang teori, itu urusan mereka. Namun tak peduli berapa banyak diperdebatkan, latihan itu selalu tiba pada titik yang satu ini. Ketika sesuatu muncul, ia munculnya di sini. Entah banyak atau sedikit, ia berasal tepat di sini. Ketika ia berhenti, penghentiannya pun tepat di sini.
Sang Buddha menyebut titik ini sebagai “yang Mengetahui” (the “Knowing”). Ketika the “Knowing” ini mengetahui segala sesuatu dengan akurat, yakni sesuai dengan kebenaran, kita bakal memahami seperti apa pikiran itu. Segala macam hal tak henti-hentinya membohongi. Anda mempelajarinya, namun pada saat yang sama mereka mengelabui anda. Walaupun anda memahami mereka. Namun anda tetap saja masih dikecoh olehnya justru persis pada pemahaman anda itu. Itulah situasinya.
Inti masalahnya adalah: Sang Buddha tidak ingin kita cuma sekedar tahu tentang bagaimana menamai hal-hal diatas.Tujuan dari ajaran Sang Buddha adalah memahami jalan yang membebaskan diri kita dari hal-hal tersebut melalui penyelidikan akan pelbagai sebab [penderitaan] yang mendasari.
Dalam keadaan apapun, ketika saya mampu untuk berhenti mencintai dan membenci, disitulah saya mampu mengatasi penderitaan. Selanjutnya tiada lagi beban apapun dihati serta pikiran, lega dan santai. Tiada yang tersisa. Semua telah berhenti.
Berlatihlah seperti itu. Bila orang ingin ngomong panjang lebar tentang teori, itu urusan mereka. Namun tak peduli berapa banyak diperdebatkan, latihan itu selalu tiba pada titik yang satu ini. Ketika sesuatu muncul, ia munculnya di sini. Entah banyak atau sedikit, ia berasal tepat di sini. Ketika ia berhenti, penghentiannya pun tepat di sini.
Sang Buddha menyebut titik ini sebagai “yang Mengetahui” (the “Knowing”). Ketika the “Knowing” ini mengetahui segala sesuatu dengan akurat, yakni sesuai dengan kebenaran, kita bakal memahami seperti apa pikiran itu. Segala macam hal yang tak henti-hentinya mengelabui. Anda mempelajari nya, namun pada saat yang sama mereka mengelabui anda.
Walaupun anda memahami mereka, namun anda tetap saja masih dikecoh olehnya justru persis pada pemahaman anda itu. Itulah situasinya. Menurut hemat saya, inti masalahnya adalah: Sang Buddha tidak ingin kita cuma sekedar tahu tentang bagaimana menamai hal-hal diatas. Tujuan dari ajaran Sang Buddha adalah memahami jalan yang membebaskan diri kita dari hal-hal tersebut melalui penyelidikan akan pelbagai sebab [penderitaan] yang mendasari.
Saya mempraktikkan Dhamma dengan tanpa banyak pengetahuan [teori]. Saya hanya tahu jalan untuk pembebasan dimulai dengan moralitas atau kebajikan (sila). Sila merupakan indahnya permulaan dari Jalan. Kedamaian yang mendalam dari samadhi merupakan indahnya pertengahan. Kebijaksa- naan (panna) adalah indahnya akhir.
Kendati mereka dapat dibagi atas tiga aspek unik dari latihan, bila kita meninjau lebih dalam lagi ketiga kualitas ini bertemu menjadi satu. Untuk mendukung kebajikan, anda harus bijak. Kita biasanya menganjurkan orang untuk mengembangkan standar etika nya dengan menjaga lima aturan perilaku (Panca Sila), dengan demikian sila-nya akan menjadi mantap. Bagaimanapun kes- empurnaan sila memerlukan banyak kebijaksanaan (wisdom). Kita harus mempertimbangkan perkataan dan tindakan kita, serta menganalisa konsekuensinya. Inilah pekerjaan dari kebijaksanaan. Kita musti mengandalkan wisdom untuk menumbuhkan kebajikan.
Menurut teori, kebajikan datang duluan lalu samadhi dan selanjutnya kebijaksanaan. Namun ketika saya menelitinya sendiri, ternyata saya menemukan bahwa sesungguhnya kebijaksanaan merupakan landasan setiap aspek lain dari praktik. Agar memahami sepenuhnya segala konsekuensi dari apa yang
kita ucapkan dan lakukan-khususnya yang merugikan, kita perlu mengunakan wisdom guna menuntun, mengendalikan dan menyelidiki bekerjanya sebab dan akibat. Ini akan memurnikan (purify) perbuatan dan ucapan kita.
Manakala kita menjadi terbiasa dengan tindakan etis dan tidak etis, kita mulai paham untuk berlatih. Kitapun lalu meninggalkan apa yang buruk dan menumbuhkan apa yang baik.Kita meninggalkan yang salah dan mengembangkan yang benar. Inilah: kebajikan. Dengan menjalankan ini, bathin bertambah kokoh dan tabah. Ketegaran serta kemantapan ini bebas dari kekhawatiran, rasa bersalah, keraguan dalam bertindak dan berbicara. Inilah: samadhi.
Penyatuan pikiran yang stabil ini membentuk tambahan sumber tenaga yang lebih kuat lagi bagi praktik kita, membuat kontemplasi yang lebih mendalam pada penglihatan, pendengaran, segala yang kita alami. Begitu pikiran telah terbentuk dengan perhatian-penuh (mindfulness) yang kokoh, mantap, serta damai, kita bisa memulai penyelidikan tanpa-putus terhadap realitas tubuh, perasaan, persepsi, buah pikir, kesadaran, penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sensasi dan segala obyek dari pikiran.
Sebagaimana mereka selalu muncul, kita pun terus-menerus gigih meng-investigasi dengan sepenuh hati tanpa kehilangan mindfulness sedikitpun. Kemudian kita akan tahu hal yang sebenarnya. Mereka sekedar muncul ke eksistensi sesuai dengan hakekat alamiahnya sendiri. Sejalan dengan tumbuhnya pemahaman kita, maka lahirlah kebijaksanaan. Begitu ada pemahaman jernih akan kebenaran segala sesuatu, maka persepsi-persepsi kolot kita bakal tercerabut dan pengetahuan konseptual kita pun lalu transformasi menjadi wisdom. Demikianlah kebajikan, samadhi dan kebijaksanaan bergabung serta berfungsi sebagai satu kesatuan.
Dengan bertambahnya kekuatan serta keteguhan dari kebijaksanaan, samadhi akan jadi kian mantap. Semakin samadhi tak tergoyahkan, sila secara menyeluruh pun kian tak tergoncangkan. Sempurnanya sila, akan turut mengembangkan samadhi; meningkatnya penguatan samadhi mendorong matangnya kebijaksanaan. Inilah tiga aspek dari latihan yang saling membaur kait-mengkait. Kesatuannya disebut ‘Jalan Mulia Berunsur Delapan’, jalan Sang Buddha. Ketika Sila, Samadhi dan Panna mencapai puncaknya, Jalan ini mampu mencerabut semua ketidakmurnian dalam pikiran. Saat nafsu keinginan, kebencian dan kebodohan tampil, Jalan inilah satu-satunya yang dapat membabatnya habis hingga ke akar- akar.
Kerangka dari praktik Dhamma adalah ‘Empat Kebenaran Mulia’, yaitu: Kebenaran adanya penderitaan (dukkha), sebab dari penderitaan (samudaya), berhentinya penderitaan (nirodha) dan Jalan menuju lenyapnya penderitaan (magga). Jalan ini terdiri dari kebajikan, samadhi dan kebijaksanaan kerangka dalam melatih bathin ini. Maksud sebenarnya bukan ditemukan dalam kata-kata tersebut tetapi ada di kedalaman bathin kita. Begitulah sila, samadhi dan panna. Mereka berputar terus menerus.
Jalan Mulia Berunsur Delapan akan melingkupi setiap pemandangan, suara, bau, rasa, sensasi tubuh dan obyek pikiran yang muncul. Namun demikian, apabila unsur-unsur dari Jalan Mulia ini lemah dan lesu, kotoran-bathin akan menguasai pikiran kita. Sebaliknya kalau Jalan ini kuat dan teguh, ia akan mengalahkan dan menghancurkan kekotoran tersebut. Jika kekotoran begitu kuat dan tangguh sementara Jalan ini ringkih dan lemah, maka kekotoran bakal mengalahkan Sang Jalan. Mereka akan menguasai bathin kita.
Apabila the knowing kurang sigap dan gesit, begitu bentuk-bentuk pikiran, perasaan, persepsi serta buah-buah pikiran muncul, maka mereka bakal segera menguasai dan menghancurkan kita. Sang Jalan dan kekotoran bathin itu jalan beriringan.
Dengan berkembangnya latihan Dhamma dalam bathin kita, kedua kekuatan itu mesti bertarung pada setiap langkahnya. Ini seperti dua orang yang bertengkar dalam pikiran kita. Tetapi ini hanyalah Jalan Dhamma dan kekotoran
yang saling bergulat buat menguasai bathin. Jalan ini menuntun serta mengembangkan kemampuan kita untuk terus menyelidiki dengan perhatian-penuh. Selama kita mampu berkontemplasi secara tepat, kekotoran-bathin akan kehilangan pijakannya. Namun bila kita goyah, seketika itu pula kekotoran bersatu-padu dan mendapatkan kekuatannya kembali. Sang Jalan akan terkepung ketika kekotoran kembali merebut posisinya. Kedua pihak ini akan terus bertempur hingga ada pemenangnya, serta seluruh urusan telah dirampungkan.
Bila kita memusatkan usaha kita untuk mengembangkan Jalan Dhamma, kekotoran akan berangsur-angsur musnah. Begitu tumbuh secara penuh, Empat Kebenaran Mulia akan menetap dalam bathin.
Dalam bentuk apapun penderitaan itu hadir, ia selalu berkaitan dengan suatu sebab. Itulah Kebenaran Mulia Kedua. Dan apa penyebabnya? Lemahnya kebajikan, samadhi dan kebijaksanaan. Saat Sang Jalan tak mampu bertahan, kekotoran menguasai pikiran. Ketika mereka menguasai, Kebenaran Kedua berperan dan kekotoran ini menimbulkan beragam jenis penderitaan. Saat kita menderita, segala kualitas untuk menumpas penderitaan pun hilang.
Sebaliknya jika kondisi-kondisi yang menyokong Sila, Samadhi dan Panna mencapai kekuatan maksimal, Jalan Dhamma tidak dapat dihentikan, melaju terus mengatasi kemelekatan dan keterikatan yang telah membuat kita menderita. Penderitaan tidak dapat muncul karena ‘Jalan’ telah melenyapkan kekotoran bathin. Disinilah berhentinya penderitaan.
Mengapa Jalan dapat melenyapkan penderitaan? Karena sila, samadhi dan panna telah mencapai puncak kesempurnaan, dan Sang Jalan telah membangun suatu momentum yang tidak dapat dibendung lagi. Semuanya hadir bersamaan tepat disini. Bahkan saya mau katakan bahwa: “siapa saja yang berpraktik seperti ini, segala ide teoritis [tentang pikiran] tidak bakalan muncul”.
Bila pikiran telah terbebaskan dari hal-hal ini, maka ia benar-benar dapat diandalkan dan pasti apapun jalannya yang hendak ditempuh, kita tidak perlu lagi terlalu pusing mengendalikannya agar tetap lurus.
Bayangkanlah daun-daun pohon mangga. Seperti apakah mereka? Dengan meneliti cukup satu daun saja kita akan tahu seperti apa yang lainnya walau mungkin terdapat sepuluh ribu daun. Yang lain pada dasarnya sama saja. Begitu juga dengan batangnya, kita hanya perlu melihat batang dari satu pohon mangga untuk mengetahui karakteristik semuanya. Hanya melihat pada satu pohon. Semua pohon mangga lainnya pada dasarnya tidaklah berbeda. Walaupun terdapat seratus ribu pohon, jika satu diketahui maka semuanya juga diketahui. Inilah yang diajarkan Sang Buddha
Kebajikan, samadhi dan kebijaksanaan memang
membentuk Jalan Sang Buddha. Tapi Jalan ini sendiri bukanlah esensi dari Dhamma. Jalan ini bukanlah tujuan akhir, bukan sasaran utama Sang Bhagava. Tetapi sekedar jalan yang menuntun kedalam bathin. Ini seperti saat anda berkunjung dari Bangkok ke vihara ini, bukanlah jalan itu yang hendak dicapai. Apa yang diinginkan adalah mencapai vihara, tapi untuk mencapainya anda memerlukan jalan tersebut. Jalan yang anda lalui bukanlah vihara, ini merupakan cara untuk tiba ke vihara. Hal ini sama seperti kebajikan, samadhi dan kebijaksanaan. Kita dapat mengatakan mereka bukanlah esensi dari Dhamma, tetapi merupakan jalan untuk tiba kesana.
Saat sila, samadhi dan panna telah kita kuasai, hasilnya adalah kedamaian pikiran yang sangat mendalam. Itulah tujuannya. Begitu kita tiba disana, walaupun ada kebisingan, pikiran tetap tenang seimbang. Saat kita mencapai kedamaian ini, tidak ada yang perlu dilakukan lagi. Sang Buddha mengajarkan untuk melepas. Apapun yang terjadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kemudian kita benar-benar yakin dan tahu sendiri. Kita tidak lagi sekedar mempercayai perkataan orang lain.
Prinsip esensial ajaran Buddha Dharma adalah: “kosong dari segala fenomena”; bukan untuk mempertontonkan kesaktian, kemampuan paranormal, atau apapun yang mistik dan gaib. Sang Buddha tidak menekankan pentingnya hal itu. Bagaimanapun, kekuatan seperti itu memang ada dan mungkin saja dikembangkan. Namun Dhamma jenis ini menyilapkan sehingga Sang Buddha tidak menganjurkannya. Orang yang
dipuji Sang Buddha adalah mereka yang mampu membebaskan diri dari penderitaan.
Alat dan perlengkapan yang harus dimiliki untuk menyelesaikan latihan Dhamma adalah: kemurahan-hati, kebajikan, samadhi dan kebijaksanaan. Kita harus mengambilnya dan berlatih dengannya. Bersamaan mereka membangun jalan kedalam bathin, dan kebijaksanaan adalah awalnya. Jalan tersebut tidak dapat matang bila pikiran terbalut dengan kekotoran. Tapi bila kita cukup kuat, Jalan ini akan menyisihkan ketidak-murnian itu. Bagaimanapun kalau kekotorannya yang lebih kuat maka mereka akan menghancurkan Jalan. Praktik Dhamma itu ya cuma menyangkut: kedua kekuatan itu yang saling bertempur tanpa hentinya hingga mencapai ujung jalan. Mareka berperang terus sampai tamat.
Menggunakan peralatan latihan mengandung tantangan yang keras dan melelahkan. Kita mengandalkan pada kesabaran, ketabahan dan kemandirian. Kita harus melakukannya sendiri, mengalaminya sendiri dan merealisasikannya sendiri pula. Namun demikian, para cendekiawan sering kebingungan, Contohnya, saat mereka duduk bermeditasi, sesaat pikiran mereka mengalami setitik ketenangan; mereka mulai perpikir, “Hei, ini pasti jhana pertama”. Beginilah cara kerja pikiran mereka. Dan begitu pemikiran-pemikiran seperti itu muncul, maka ketenangan yang baru dialaminya hancur berantakan.
Tak lama kemudian mereka mulai berpikir lagi, itu pasti jhana kedua. Janganlah memikirkan dan berspekulasi tentang itu. Tidak ada papan yang mengumumkan tingkat samadhi yang kita alami. Di kenyataan sesungguhnya sama sekali berbeda, tidak ada petunjuk apapun seperti petunjuk jalan yang memberitahu anda, “Jalan ini menuju ke vihara”. Tidak seperti itu, tidak ada pengumuman.
Walaupun banyak cendekiawan papan atas telah menulis penjelasan rinci tentang jhana pertama, kedua, ketiga dan keempat, apa yang tertulis hanyalah informasi eksternal.
Apabila pikiran benar-benar memasuki kedamaian mendalam seperti itu, pikiran tidak tahu menahu mengenai apa yang tertulis. Pikiran memang mengetahui, tetapi apa yang diketahuinya tidaklah sama dengan teori yang kita pelajari. Jika para akademisi mencoba untuk menggenggam teorinya dan memeriksanya ke dalam meditasi, mereka duduk dan berpikir, “Hmmm…Apa ya ini? Apakah ini sudah jhana pertama?” Nah! Kedamaiannyapun buyar, dan mereka tidak mengalami apapun yang sungguh bermanfaat. Dan apa sebabnya? Karena terdapat nafsu, dan begitu ada nafsu kemelekatan maka apa yang terjadi? Pikiran segera keluar dari meditasi. Jadi penting bagi kita semua untuk menyingkirkan segala pemikiran dan spekulasi. Tinggalkanlah mereka seluruhnya. Cukup gunakan tubuh, ucapan dan pikiran dan ceburkan diri seluruhnya ke dalam praktik. Amati langsung cara kerja pikiran ini, tetapi janganlah menyeret serta buku-buku Dhamma saat anda mengamati pikiran. Kalau tidak, maka segalanya bakal be- rantakan, karena tidak ada isi buku yang cocok persis dengan kenyataan yang sebenarnya.
Orang yang belajar terlalu banyak, yang penuh dengan pengetahuan teoritis, biasanya kesulitan dalam praktik meditatif. Mereka cuma mandeg pada tingkat informasi. Kenyataannya adalah, pikiran dan bathin ini tidak bisa diukur dengan standar eksternal. Jika pikiran ini damai, sekedar biarkanlah ia menjadi damai. Pelbagai level kedamaian yang amat mendalam memang sungguh ada.
Secara pribadi, saya tidak tahu banyak teori tentang latihan. Waktu itu saya telah menjadi bhikkhu selama tiga tahun dan masih banyak pertanyaan tentang bagaimana sebenarnya samadhi itu. Saya terus memikirkannya dan membayangkannya saat bermeditasi, tetapi pikiran saya malah menjadi kian gelisah dan bingung. Jumlah pemikiran-pemikiran kian bertambah. Dan ketika saya tidak bermeditasi kok malah lebih tenang. Aduh, sulit dan sangat menjengkelkan! Tapi sekalipun saya menjumpai banyak hambatan, saya tak pernah menyerah. Saya teruskan saja. Kala saya tidak berusaha berbuat sesuatu yang khusus, pikiran saya relatif tenteram. Tapi manakala saya bertekad membuat pikiran menyatu dalam samadhi, ia malah kehilangan kontrol. “Apa yang sesungguhnya terjadi di sini,” pikir saya.”Mengapa ini terjadi?”
Belakangan saya mulai menyadari bahwa meditasi itu sama halnya dengan bernapas. Bila kita memaksa napas untuk menjadi dangkal, dalam atau membetulkannya – itu sangatlah sulit. Namun demikian, kalau kita berjalan-jalan, dan tidak menyadari napas masuk, napas keluar, itu sangatlah santai. Jadi saya berpikir, “Mungkin begitulah caranya.” Ketika seseorang berjalan biasa di sepanjang hari, tanpa memfokuskan perhatian pada napasnya, apakah napas tersebut membuatnya menderita? Tidak, mereka hanya merasa relax. Tetapi ketika saya duduk dan bertekad-bulat hendak membuat pikiran tenang, maka kemelekatan pun timbul. Ketika saya berusaha mengendalikan napas menjadi dangkal atau dalam, hal itu justru membuat saya lebih tertekan. Mengapa? Karena tekad saya ternoda oleh kemelekatan. Saya justru jadi tidak tahu apa yang terjadi. Semua frustasi dan penderitaan muncul karena saya membawa kemelekatan ke dalam meditasi.
Suatu waktu saya tinggal di vihara hutan sekitar setengah mil dari desa. Pada satu malam penduduk desa merayakan pesta meriah saat saya sedang meditasi-jalan. Ketika itu pukul 23.00 lebih dan saya merasa sedikit ganjil. Saya merasakannya sejak tengah hari. Pikiran (mind) saya hening. Hampir tidak ada pemikiran (thought) apapun. Saya merasa sangat santai dan enteng. Saya melakukan meditasi-jalan sampai lelah dan kemudian duduk bermeditasi di dalam gubuk. Demikian saya duduk, belum lagi menyilangkan kaki, menakjubkan, pikiran ini ingin memasuki kedamaian yang mendalam. Itu semua terjadi dengan sendirinya. Begitu saya duduk, pikiran langsung jadi sungguh tenteram. Seperti batu karang tak tergoyahkan Bagaikan saya tidak lagi mendengar riuh nyanyi serta tarian penduduk desa, sebenarnya saya masih bisa mendengar tetapi saya juga bisa membungkam seluruhnya sama sekali.
Aneh. Saat saya tidak memberi perhatian pada suara itu, ia hening sempurna tidak mendengar apapun. Tapi kalau saya mau mendengar, saya bisa, tanpa menjadi terganggu Saat itu seperti ada dua obyek dalam pikiran saya yang saling berdampingan namun tanpa saling sentuh. Saya dapat melihat pikiran itu dan obyek kesadaran-nya terpisah dan berbeda. Seperti tempolong (tempat membuang ludah) dan ceret air ini.
Kemudian saya mengerti: ketika pikiran menyatu dalam ketenangan samadhi, bila kita mengarahkan perhatian keluar kita dapat mendengarkan suara, tetapi jika anda tinggal di kekosongannya maka akan hening sempurna. Saat suara ditangkap, saya dapat melihatnya bahwa “yang mengetahui” dan suara itu adalah hal yang jelas berbeda. Saya lalu merenung, “Kalau bukan demikianlah ini adanya, ya mau bagaimana lagi?” Ya begitulah adanya. Kedua hal tersebut terpisah sama sekali.
Saya melanjutkan penyelidikan demikian ini sampai pengertian yang lebih mendalam lagi: “Ah, ini penting. Ketika pencerapan fenomena telah terpotong, hasilnya adalah kedamaian.”
llusi yang berlangsung selama ini (santati) ter transformasi menjadi kedamaian pikiran (santi), Saya lalu terus duduk, berusaha tetap bermeditasi. Pikiran saat itu hanya terpusat pada meditasi, yang lain diabaikan. Kalaupun saya berhenti bermeditasi pada titik ini, itu hanya oleh karena praktik telah benar-benar sempurna. Saya bisa saja memandangnya enteng, tapi itu bukan karena malas, lelah ataupun kesal. Bukan semuanya. Hal tersebut tidak ada dalam bathin. Yang ada hanya keseimbangan bathin yang sempurna, pokoknya: pas.
Akhirnya saya istirahat sejenak, tapi itu hanya posisi duduk yang berubah. Bathin saya tetap tenang, tak bergeming, dan tidak lelah. Saya mengambil bantal, bermaksud untuk istirahat. Sembari hendak berbaring, pikiran tetap damai seperti sebelumnya. Kemudian sesaat sebelum kepala saya menyentuh bantal, kesadaran (the mind’s awareness) mulai mengalir ke dalam. Saya tidak tahu ini akan menuju kemana, tetapi ia terus mengalir lebih dalam dan lebih dalam lagi. Bagai arus listrik dalam kabel yang mengalir ke saklar. Begitu sampai di saklar, tubuh saya meledak dengan dentum memekakkan. Selama itu “yang-mengetahui” sangatlah luar biasa terang dan jernih. Begitu titik ini lewat, pikiran lepas menembus semakin ke dalam. la meluncur ke dalam lagi hingga mencapai titik dimana tidak ada sesuatu apapun. Sama sekali tidak ada hal dari dunia luar yang bisa sampai ke tempat ini. Tiada apapun yang mampu mencapainya. Berdiam di dalam untuk beberapa saat, pikiran ini lalu mundur mengalir balik keluar.
Namun demikian, ketika saya mengatakan mundur tidak berarti saya yang membuatnya mengalir keluar. Saya hanya seperti seorang pengamat, hanya mengetahui dan menyaksikan saja. Pikiran keluar dan terus keluar hingga akhirnya kembali “normal”. Begitu kesadaran kembali normal, timbul pertanyaan, “Eh, apakah itu?!” Sesegera itu muncul jawaban, “Semua ini terjadi sendiri sesuai dengan sifat-alaminya. Engkau tidak perlu mencari penjelasan lagi.” Jawaban ini sudah cukup memuaskan
pikiran saya.
Sesaat kemudian, pikiran ini mulai mengalir ke dalam lagi, Saya tidak mengarahkannya dengan sengaja. ltu terjadi dengan sendirinya. Bergerak makin mendalam dan mendalam lagi hingga menabrak saklar yang sama. Kali ini tubuh saya pecah berantakan dalam fragmen dan partikel-partikel sangat kecil. Lagi, pikiran pun lalu lepas menembus ke dalam dengan sendirinya. Sunyi… bahkan jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Sama sekali tiada apapun di luar yang dapat menjangkaunya. Pikiran tinggal disini beberapa saat, selama dia mau, kemudian mundur mengalir keluar. Saat itu, semuanya terjadi sesuai dengan momentumnya dan terjadi dengan sendirinya, Saya tidak mempengaruhi atau mengarahkan pikiran saya secara khusus, untuk mengalir kedalam ataupun ke luar. Saya hanya pihak yang mengetahui dan mengamatinya saja.
Pikiran saya kembali pada kesadaran normalnya lagi, dan saya pun tidak bertanya-tanya atau berspekulasi tentang apa yang baru saja terjadi. Demikian saya bermeditasi, pikiran sekali lagi meluncur ke dalam. Kali ini seluruh jagad-raya hancur berantakan, terburai menjadi partikel-partikel kecil. Bumi, tanah, gunung-gunung, ladang-ladang dan hutan-hutan -seluruh dunia- cerai-berai menjadi elemen-elemen di udara. Orang- orang lenyap. Semuanya hilang. Pada kali ketiga ini, sama sekali tiada yang tersisa. Semua yang saya ceritakan pada anda mengenai pikiran mengikuti hukumnya sendiri, terjadi secara alami.
Pikiran ini, setelah meluncur ke dalam, berdiam disana selama ia mau. Saya tidak bisa mengatakan saya mengerti persis bagaimana ia tinggal disana. Sulit untuk menggambarkannya Tiada yang dapat saya gunakan untuk membandingkannya. Tidak ada perumpamaan yang cocok. Kali ini pikiran tinggal di dalam jauh lebih lama dari yang sebelumnya, dan hanya setelah beberapa waktu ia kembali keluar. Ketika saya men- gatakan “ia keluar”, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa saya telah membuatnya keluar ataupun mengendalikan segala yang terjadi. Pikiran keluar dengan sendirinya. Saya hanya seorang pengamat. Akhirnya pikiran pun kembali pada keadaan kesadaran normalnya. Bagaimana anda bisa memberi nama apa yang terjadi barusan sebanyak tiga kali? Siapa tahu? Istilah apa yang dapat digunakan untuk menamainya?
Semua yang saya ceritakan pada anda mengenai pikiran mengikuti hukumnya sendiri, terjadi secara alami. Tidak ada penjelasan teoritis dari pikiran atau keadaan keadaan mental. Semua ini tidak perlu. Dengan keyakinan atau kepercayaan yang anda miliki, praktikkan ini dengan sungguh-sungguh. Jangan berputar-putar terus, masuklah ke dalam Dhamma. Dan bila praktik anda sudah mencapai tingkatan seperti yang baru saja saya jelaskan, seluruh dunia ini akan jungkir-balik. Pemahaman anda akan realitas akan berbeda sama sekali. Pandangan hidup anda berubah total. Bahkan kalau ada orang melihat anda pada saat itu, mungkin mereka berpikir anda sinting. Dan jika anda tidak mempunyai keyakinan diri yang sungguh kuat, anda memang bisa jadi benar-benar gila, karena tiada lagi apapun yang sama dengan sebelumnya. Orang-orang tampak berbeda dari yang biasanya dulu. Tetapi cuma anda satu-satunya yang melihat kenyataan ini. Semuanya berubah total. Pemikiran-pemikiran anda juga berubah: Orang lain kini berpikir begini, sementara saya berpikir begitu. Mereka berbicara tentang pelbagai hal begini, sementara anda ngomong dengan cara lain. Mereka mengikuti satu jalan, sedangkan anda mendaki jalan yang lain. Anda tak lagi sama dengan manusia lumrah lainnya. Pengalaman akan hal-hal di atas tidaklah luntur. Ini berlangung terus. Cobalah.
Jika benar-benar mengalami seperti yang saya ceritakan, anda takkan perlu mencari terlalu jauh-jauh. Cukup tengok saja ke dalam bathinmu sendiri. Bathin ini sesungguhnya teguh, kokoh tak tergoyahkan. Inilah kekuatan dari bathin, sumber kekuatan dan energi. Bathin ini mengandung kekuatan yang potensial. Inilah kekuatan dari samadhi.
Sampai disini, ini hanyalah kekuatan dan kemurnian yang pikiran peroleh dari samadhi. Tingkatan samadhi ini adalah samadhi yang mencapai puncaknya. Pikiran telah mencapai puncak samadhi, bukan lagi sekedar konsentrasi sesaat. Bila anda menggunakannya untuk meditasi vipassana pada titik ini, kontemplasi menjadi tak terputus dan penuh insight. Atau anda bisa saja memakai energi yang terpusat tersebut untuk hal lainnya. Dari sini anda dapat mengembangkan kesaktian, melakukan hal gaib atau apapun yang ingin anda lakukan. Para asketik dan pertapa telah menggunakan energi samadhi untuk membuat air suci, jimat atau guna-guna. Semuanya mungkin pada tahapan ini, dan bisa menguntungkan untuk beberapa hal; tetapi itu seperti keuntungan dari alkohol. Anda meminumnya dan anda mabuk.
Mengertikah anda maksud kisah ini? Segala sesuatu yang dialami dengan pikiran damai akan langsung memberikan pemahaman yang luar biasa. Takkan lagi kita membuat pelbagai interpretasi pada apa yang dialami. Harta-benda, kemasyhuran, cacian, pujian, kebahagiaan dan kesedihan datang berjalan sendiri; dan kita tetap tenteram-damai; kita bijaksana. Bahkan ini jadi sangat menyenangkan. Menyaring dan memisah-misahkan hal-hal ini adalah pekerjaan yang mengasyikkan.
Apa yang orang sebut dengan baik, buruk, jahat, begini, begitu, kebahagiaan, kesedihan, atau apapun semuanya diambil buat keuntungan kita. Orang lain memanjat pohon mangga dan menggoyang dahannya agar buahnya jatuh ke anda. Kita hanya menikmati mengumpulkan buah tanpa perlu merasa cemas. Yah, apa lagi yang harus ditakut- kan? Adalah orang lain yang memetik untuk kita. Kekayaan, kemasyhuran, pujian, hinaan, kebahagiaan, kesedihan dan lainnya tidak lebih daripada buah-buah mangga jatuh. Kita memeriksanya dengan hati tenang. Kemudian kita akan mengetahui mana yang baik dan mana yang busuk.
Ketika kita mulai menggunakan kedamaian dan ketenangan dari samadhi untuk mengkontemplasikan segala sesuatu, muncullah kebijaksanaan. Yang demikianlah yang saya sebut: wisdom. Inilah vipassana. Ini bukanlah sesuatu yang dibuat-buat ataupun penafsiran. Vipassana akan berkembang secara alami bila kita bijak. Kita tidak perlu memberi nama apa- apa yang terjadi. Jika saat itu ada sedikit pemahaman (insight) yang jernih, kita menyebutnya ‘vipassana kecil’. Kalau insight ini bertambah sedikit, kita menyebutnya ‘vipassana cukupan’ Bila pikiran (knowing) sepenuhnya mengetahui sesuai dengan kebenaran, kita menyebutnya ‘vipassana besar’
Sebenarnya saya lebih suka menggunakan kata ‘kebijaksanaan’ (panna) daripada ‘vipassana’. Jika kita berpikir kita mau duduk dari waktu ke waktu dan mempraktikkan meditasi vipassana, kita bakal mengalami kesulitan. Insight harus datang dari kedamaian dan ketenang-seimbangan. Keseluruhan proses ini akan terjadi secara alami sesuai hukumnya sendiri. Kita tak dapat memaksakannya.
Sang Buddha mengatakan proses ini matang dengan sendirinya. Ketika praktik mencapai tahap ini, kita membolehkannya berkembang sesuai dengan kemampuan, kecakapan spiritual dan kebajikan (merit) yang kita kumpulkan di masa lampau. Tetapi kita tidak berhenti berusaha dalam berlatih, Apakah perkembangannya mulus atau lambat adalah di luar kendali kita. Seperti menanam pohon, pohon tersebut tahu seberapa cepat ia harus tumbuh. Kalau kita menginginkannya tumbuh lebih cepat, itu adalah kebodohan. Kalau kita mau ia tumbuh lebih lambat, kenalilah ini adalah kebodohan juga.
Jika kita telah melakukan pekerjaan, hasilnya pasti akan datang belakangan, seperti ibarat menanam pohon. Contoh, katakanlah kita menanam pohon cabai. Tanggung-jawab kita adalah menggali lubang, menanam biji cabai, menyiramnya, memberi pupuk dan menjaganya dari serangan serangga. Inilah tugas kita, kesepakatan kita. Disinilah faktor keyakinan berperan. Apakah pohon cabai tumbuh atau tidak terserah padanya. Bukan urusan kita. Kita tidak dapat menarik-narik tanaman itu, meregangkan dan membuatnya tumbuh lebih cepat. Itu bukanlah cara kerja alam. Pekerjaan kita adalah menyirami dan memupuknya.
Mempraktikkan Dhamma dengan cara demikian akan membuat hati kita ringan. Seperti tanaman cabai yang sedang kita rawat. Berikan air dan pupuk, dan ia akan menyerap nutrisinya sendiri. Ketika semut atau rayap datang mengganggu, kita menggebah untuk mengusirnya.
Kalau kita bisa mencapai pencerahan pada kehidupan ini, itu baik. Apabila memang harus menunggu hingga kehidupan yang akan datang, juga tak masalah. Kita mempunyai keyakinan dan kepastian yang tak terpatahkan dalam Dhamma. Apakah kita berkembang cepat atau lambat tergantung pada kemampuan bawaan kita, kecakapan spiritual dan kebajikan yang telah terkumpul. Mempraktikkan Dhamma seperti ini akan memudahkan kita.
Seperti mengendarai kereta kuda. Kita tidak meletakkan kereta di depan kudanya. Atau malah berjalan didepan kerbau ketika sedang membajak. Yang saya bicarakan di sini adalah pikiran tak sabar yang nyondol-nyondol sendiri. Ingin hasil cepat-cepat bukanlah caranya. Jangan berjalan di depan kerbau. Anda harus berjalan di belakangnya.
Seperti tanaman cabai yang sedang kita rawat. Berikan air dan pupuk, dan ia akan menyerap nutrisinya sendiri. Ketika semut atau rayap datang mengganggu, kita menggebahnya pergi. Mengerjakan ini sudah cukup bagi pohon cabai tersebut tumbuh subur dengan caranya sendiri; dan saat ia tumbuh dengan bagus, janganlah memaksanya berbunga ketika kita pikir seharusnya sudah berbunga. Itu sama sekali bukan urusan kita. ltu hanya menimbulkan penderitaan yang tidak perlu. Biarkan ia mekar dengan sendirinya. Dan saat mulai berbunga, jangan menuntutnya segera menghasilkan cabai. Jangan memaksanya. ltu sungguh akan menimbulkan penderitaan.
Begitu kita paham urusan ini, kita bakal tahu mana yang jadi tanggungjawab kita dan mana yang bukan. Masing-masing mengerjakan tugasnya sendiri. Pikiran pun tahu apa yang mesti dilakukannya. Namun apabila pikiran tidak mengerti akan perannya, ia akan memaksa tanaman itu menghasilkan cabe sejak di hari ia ditanam. Pikiran akan menuntutnya untuk tumbuh, berbunga dan menghasilkan cabe seluruhnya dalam satu hari.


