MAHA VAGGA
SACCA SAMYUTTA
DHAMMA CAKKA PAVATTANA VAGGA
DHAMMA CAKKA PAVATTANA SUTTA
PATHAMA TATHAGATENA VUTTA
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
===============================
I. SISTEMATIKA SUTTA.
===============================
Dhamma Cakka Pavatana Sutta merupakan sutta yang istimewa karena setiap Buddha ( Samma Sambuddha ) pada masa lampau, masa kini, maupun masa mendatang pasti memberikan kotbah pertamanya berupa Dhamma Cakka Pavatana Sutta ini.
Dengan dibabarkannya sutta ini menandakan diputarnya Roda Dhamma ( Dhamma Cakka ) yang tidak dapat dihentikan oleh makhluk apapun hingga akan berhenti sendiri ketika era suatu Buddha telah berakhir.
Hanya ada 2 macam manusia yang dapat memiliki Roda Dhamma yaitu Samma Sambuddha ( Raja Dhamma ) dan Cakkavatti ( Raja Dunia ).
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
I.A. JALAN TENGAH ( MAJJHIMA PATIPADA ).
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
1. Terdapat 2 jalan ekstrim yang tidak boleh diikuti oleh para perumah tangga maupun bukan perumah tangga yaitu :
a. Mengejar kebahagiaan indria dalam kenikmatan indria yang rendah, kasar, cara-cara kaum duniawi, tidak mulia, dan tidak bermanfaat.
b. Praktek penyiksaan diri yang menyakitkan, tidak mulia, dan tidak bermanfaat.
2. Jalan yang harus diikuti oleh para perumah tangga maupun bukan perumah tangga yaitu Jalan Tengah ( Majjhimā Paṭipadā ).
3. Jalan Tengah ( Majjhimā Paṭipadā ) adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ( Ariya Aṭṭhaṅgika Magga ).
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
I.B. EMPAT KEBENARAN MULIA ( CATU ARIYA SACCA ).
• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
1. Empat Kebenaran Mulia ( Catu Ariya Sacca ) terdiri dari :
a. Kebenaran Mulia tentang Dukkha ( Dukkha Ariya Sacca ).
b. Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha ( Dukkha Samudaya Ariya Sacca ).
c. Kebenaran Mulia tentang Lenyapnya Dukkha ( Dukkha Nirodha Ariya Sacca ).
d. Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha ( Dukkha Nirodha Gāminī Paṭipadā Ariya Sacca ).
2. Fenomena dari Dukkha adalah :
a. Kelahiran ( Jāti ).
b. Penuaan ( Jarā ).
c. Sakit ( Vyādhi ).
d. Kematian ( Maraṇa ).
e. Berkumpul dengan apa yang tidak menyenangkan.
f. Berpisah dengan apa yang menyenangkan.
g. Tidak mendapatkan apa yang diinginkan.
h. Segala hal yang memiliki 5 kelompok unsur kehidupan yang tunduk pada kemelekatan ( Pañcupādānakkhandhā ).
3. Asal mula Dukkha berasal dari keinginan ( Taṇhā ) terhadap :
a. Kenikmatan indria ( Kāma Taṇhā ).
b. Penjelmaan kehidupan ( Bhava Taṇhā ).
c. Pemusnahan kehidupan ( Vibhava Taṇhā ).
4. Lenyapnya Dukkha diperoleh dari peluruhan tanpa sisa dengan lenyapnya keinginan ( Taṇhā ).
5. Jalan menuju lenyapnya Dukkha melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan ( Ariya Aṭṭhaṅgika Magga ).
6. Kebenaran Mulia tentang Dukkha ( Dukkha Ariya Sacca ) dijalani dengan cara :
a. Harus dipahami sepenuhnya ( Pariññeyya ).
b. Telah dipahami sepenuhnya ( Pariññāta ).
7. Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha ( Dukkha Samudaya Ariya Sacca ) dijalani dengan cara :
a. Harus ditinggalkan ( Pahātabba ).
b. Telah ditinggalkan ( Pahīna ).
8. Kebenaran Mulia tentang Lenyapnya Dukkha ( Dukkha Nirodha Ariya Sacca ) dijalani dengan cara :
a. Harus dicapai ( Sacchikātabba ).
b. Telah dicapai ( Sacchikata )
9. Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha ( Dukkha Nirodha Gāminī Paṭipadā Ariya Sacca ) dijalani dengan cara :
a. Harus dikembangkan ( Bhāvetabba ).
b. Telah dikembangkan ( Bhāvita ).
10. Dari Kelompok Lima Bhikkhu ( Pañca Vaggiya ) ini Yang Mulia Koṇḍañña adalah orang pertama yang memperoleh penglihatan Dhamma tanpa noda dan bebas dari debu sehingga Buddha memberikan sebutan sebagai Aññā Koṇḍañña ( Koṇḍañña Yang Telah Mengerti ).
11. Ketika Roda Dhamma ( Dhamma Cakka ) telah diputar oleh Buddha dengan membabarkan Dhamma Cakka Pavatana Sutta ini kemudian para dewa memberikan seruan kebahagiaan secara berantai dari :
a. Dewa yang tinggal di bumi ( Bhummā Devā ).
b. Dewa di Alam Empat Raja Dewa ( Cātummahārājikā Devā ).
c. Dewa di Tāvatiṃsa.
d. Dewa di Yāmā.
e. Dewa di Tusitā.
f. Dewa di Nimmāṇaratī.
g. Dewa di Paranimmita Vasavattī.
h. Dewa di Brahma Kāyikā ( Pengikut Brahma ).
I.C. JALAN MULIA BERUNSUR DELAPAN ( ARIYA ATTHANGIKA MAGGA ).
Jalan Mulia Berunsur Delapan ( Ariya Aṭṭhaṅgika Magga ) terdiri dari :
1. Pandangan Benar ( Sammā Diṭṭhi ).
2. Pikiran Benar ( Sammā Saṅkappa ).
3. Ucapan Benar ( Sammā Vācā ).
4. Perbuatan Benar ( Sammā Kammanta ).
5. Penghidupan Benar ( Sammā Ajīva ).
6. Usaha Benar ( Sammā Vāyāma ).
7. Perhatian Benar ( Sammā Sati ).
8. Konsentrasi Benar ( Sammā Samādhi ).
===============================
II. ISI SUTTA.
===============================
(1) Demikianlah yang kudengar :
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang berdiam di Bārāṇasī di Taman Rusa di Isipatana.
(2) Di sana Sang Bhagavā berkata kepada Kelompok Lima Bhikkhu ( Pañca Vaggiya ) sebagai berikut :
“Para bhikkhu, kedua ekstrim ini tidak boleh diikuti oleh seorang
yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah.
Apakah dua ini ?
(3) Mengejar kebahagiaan indria dalam kenikmatan indria yang rendah, kasar, cara-cara kaum duniawi, tidak mulia, dan tidak bermanfaat.
Dan praktek penyiksaan diri yang menyakitkan, tidak mulia, dan tidak bermanfaat.
Tanpa berbelok ke arah salah satu dari ekstrim-ekstrim ini, Sang Tathāgata telah membangkitkan Jalan Tengah ( Majjhimā Paṭipadā ) yang memunculkan penglihatan ( cakkhu karaṇī ), memunculkan pengetahuan yang damai ( ñāṇa karaṇī upasamāya ), menuju pengetahuan langsung ( abhiññāya ), menuju pencerahan ( sambodhāya ), dan menuju Nibbāna ( Nibbānāya saṃvaṭṭati ).
(4) Apakah, para bhikkhu, Jalan Tengah ( Majjhimā Paṭipadā ) yang dibangkitkan oleh Sang Tathāgata yang memunculkan penglihatan ( cakkhu karaṇī ), memunculkan pengetahuan yang damai ( ñāṇa karaṇī upasamāya ), menuju pengetahuan langsung ( abhiññāya ), menuju pencerahan ( sambodhāya ), dan menuju Nibbāna ( Nibbānāya saṃvaṭṭati ) ?
Adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ( Ariya Aṭṭhaṅgika Magga ) yaitu pandangan benar ( Sammā Diṭṭhi ), pikiran benar ( Sammā Saṅkappa ), ucapan benar ( Sammā Vācā ), perbuatan benar ( Sammā Kammanta ), penghidupan benar ( Sammā Ajīva ), usaha benar ( Sammā Vāyāma ), perhatian benar ( Sammā Sati ), konsentrasi benar ( Sammā Samādhi ).
Inilah, para bhikkhu, Jalan Tengah ( Majjhimā Paṭipadā ) yang dibangkitkan oleh Sang Tathāgata yang memunculkan penglihatan ( cakkhu karaṇī ), memunculkan pengetahuan yang damai ( ñāṇa karaṇī upasamāya ), menuju pengetahuan langsung ( abhiññāya ), menuju pencerahan ( sambodhāya ), dan menuju Nibbāna ( Nibbānāya saṃvaṭṭati ).
(5) Sekarang, para bhikkhu, Kebenaran Mulia tentang Dukkha ( Dukkha Ariya Sacca ).
Kelahiran ( jāti ) adalah Dukkha, penuaan ( jarā ) adalah Dukkha, sakit ( vyādhi ) adalah Dukkha, kematian ( maraṇa ) adalah Dukkha.
Berkumpul dengan apa yang tidak menyenangkan adalah Dukkha, berpisah dengan apa yang menyenangkan adalah Dukkha, tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah Dukkha.
Singkatnya kelima kelompok unsur kehidupan yang tunduk pada kemelekatan ( pañcupādānakkhandhā ) adalah Dukkha.
(6) Sekarang, para bhikkhu, Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha ( Dukkha Samudaya Ariya Sacca ).
Keinginan yang menuntun menuju penjelmaan baru disertai dengan kesenangan dan nafsu mencari kenikmatan di sana-sini yaitu keinginan pada kenikmatan indria ( kāma taṇhā ), keinginan pada penjelmaan ( bhava taṇhā ), dan keinginan pada pemusnahan ( vibhava taṇhā ).
(7) Sekarang, para bhikkhu, Kebenaran Mulia tentang Lenyapnya Dukkha ( Dukkha Nirodha Ariya Sacca ).
Peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya keinginan, meninggalkan dan melepaskannya, kebebasan darinya, serta tidak bergantung padanya.
(8 ) Sekarang, para bhikkhu, Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha ( Dukkha Nirodha Gāminī Paṭipadā Ariya Sacca ).
Jalan Mulia Berunsur Delapan ( Ariya Aṭṭhaṅgika Magga ) yaitu pandangan benar ( Sammā Diṭṭhi ), pikiran benar ( Sammā Saṅkappa ), ucapan benar ( Sammā Vācā ), perbuatan benar ( Sammā Kammanta ), penghidupan benar ( Sammā Ajīva ), usaha benar ( Sammā Vāyāma ), perhatian benar ( Sammā Sati ), konsentrasi benar ( Sammā Samādhi ).
(9) Ini adalah Kebenaran Mulia tentang Dukkha ( Dukkha Ariya Sacca ).
Demikianlah, para bhikkhu, sehubungan dengan hal-hal yang belum pernah terdengar sebelumnya muncullah pada-Ku penglihatan ( dhammesu cakkhu ), pengetahuan ( ñāṇaṃ udapādi ), kebijaksanaan ( paññā ), pengetahuan sejati ( vijjā ), dan cahaya ( āloko ).
Kebenaran Mulia tentang Dukkha ( Dukkha Ariya Sacca ) harus dipahami sepenuhnya ( pariññeyya ).
Demikianlah, para bhikkhu, sehubungan dengan hal-hal yang belum pernah terdengar sebelumnya muncullah pada-Ku penglihatan ( dhammesu cakkhu ), pengetahuan ( ñāṇaṃ udapādi ), kebijaksanaan ( paññā ), pengetahuan sejati ( vijjā ), dan cahaya ( āloko ).
Kebenaran Mulia tentang Dukkha ( Dukkha Ariya Sacca ) telah dipahami sepenuhnya ( pariññāta ).
Demikianlah, para bhikkhu, sehubungan dengan hal-hal yang belum pernah terdengar sebelumnya muncullah pada-Ku penglihatan ( dhammesu cakkhu ), pengetahuan ( ñāṇaṃ udapādi ), kebijaksanaan ( paññā ), pengetahuan sejati ( vijjā ), dan cahaya ( āloko ).
(10) Ini adalah Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha ( Dukkha Samudaya Ariya Sacca ).
Demikianlah, para bhikkhu, sehubungan dengan hal-hal yang belum pernah terdengar sebelumnya muncullah pada-Ku penglihatan ( dhammesu cakkhu ), pengetahuan ( ñāṇaṃ udapādi ), kebijaksanaan ( paññā ), pengetahuan sejati ( vijjā ), dan cahaya ( āloko ).
Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha ( Dukkha Samudaya Ariya Sacca ) harus ditinggalkan ( pahātabba ).
Demikianlah, para bhikkhu, sehubungan dengan hal-hal yang belum pernah terdengar sebelumnya muncullah pada-Ku penglihatan ( dhammesu cakkhu ), pengetahuan ( ñāṇaṃ udapādi ), kebijaksanaan ( paññā ), pengetahuan sejati ( vijjā ), dan cahaya ( āloko ).
Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha ( Dukkha Samudaya Ariya Sacca ) telah ditinggalkan ( pahīna ).
Demikianlah, para bhikkhu, sehubungan dengan hal-hal yang belum pernah terdengar sebelumnya muncullah pada-Ku penglihatan ( dhammesu cakkhu ), pengetahuan ( ñāṇaṃ udapādi ), kebijaksanaan ( paññā ), pengetahuan sejati ( vijjā ), dan cahaya ( āloko ).
(11) Ini adalah Kebenaran Mulia tentang Lenyapnya Dukkha ( Dukkha Nirodha Ariya Sacca ).
Demikianlah, para bhikkhu, sehubungan dengan hal-hal yang belum pernah terdengar sebelumnya muncullah pada-Ku penglihatan ( dhammesu cakkhu ), pengetahuan ( ñāṇaṃ udapādi ), kebijaksanaan ( paññā ), pengetahuan sejati ( vijjā ), dan cahaya ( āloko ).
Kebenaran Mulia tentang Lenyapnya Dukkha ( Dukkha Nirodha Ariya Sacca ) harus dicapai ( sacchikātabba ).
Demikianlah, para bhikkhu, sehubungan dengan hal-hal yang belum pernah terdengar sebelumnya muncullah pada-Ku penglihatan ( dhammesu cakkhu ), pengetahuan ( ñāṇaṃ udapādi ), kebijaksanaan ( paññā ), pengetahuan sejati ( vijjā ), dan cahaya ( āloko ).
Kebenaran Mulia tentang Lenyapnya Dukkha ( Dukkha Nirodha Ariya Sacca ) telah dicapai ( sacchikata ).
Demikianlah, para bhikkhu, sehubungan dengan hal-hal yang belum pernah terdengar sebelumnya muncullah pada-Ku penglihatan ( dhammesu cakkhu ), pengetahuan ( ñāṇaṃ udapādi ), kebijaksanaan ( paññā ), pengetahuan sejati ( vijjā ), dan cahaya ( āloko ).
(12) Ini adalah Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha ( Dukkha Nirodha Gāminī Paṭipadā Ariya Sacca ).
Demikianlah, para bhikkhu, sehubungan dengan hal-hal yang belum pernah terdengar sebelumnya muncullah pada-Ku penglihatan ( dhammesu cakkhu ), pengetahuan ( ñāṇaṃ udapādi ), kebijaksanaan ( paññā ), pengetahuan sejati ( vijjā ), dan cahaya ( āloko ).
Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha ( Dukkha Nirodha Gāminī Paṭipadā Ariya Sacca ) harus dikembangkan ( bhāvetabba ).
Demikianlah, para bhikkhu, sehubungan dengan hal-hal yang belum pernah terdengar sebelumnya muncullah pada-Ku penglihatan ( dhammesu cakkhu ), pengetahuan ( ñāṇaṃ udapādi ), kebijaksanaan ( paññā ), pengetahuan sejati ( vijjā ), dan cahaya ( āloko ).
Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha ( Dukkha Nirodha Gāminī Paṭipadā Ariya Sacca ) telah dikembangkan ( bhāvita ).
Demikianlah, para bhikkhu, sehubungan dengan hal-hal yang belum pernah terdengar sebelumnya muncullah pada-Ku penglihatan ( dhammesu cakkhu ), pengetahuan ( ñāṇaṃ udapādi ), kebijaksanaan ( paññā ), pengetahuan sejati ( vijjā ), dan cahaya ( āloko ).
(13) Selama, para bhikkhu, pengetahuan dan penglihatan-Ku terhadap Empat Kebenaran Mulia dengan 3 tahap dan 12 aspek ini belum sempurna dimurnikan, maka Aku tidak mengaku telah tercerahkan hingga pencerahan sempurna yang tiada bandingnya di dunia ini terhadap dewa, Māra, brahmā, pertapa, brahmana, serta para dewa dan manusia.
(14) Ketika pengetahuan dan penglihatan-Ku terhadap Empat Kebenaran Mulia dengan 3 tahap dan 12 aspek ini telah sempurna
dimurnikan, maka Aku mengaku telah tercerahkan hingga pencerahan sempurna yang tiada bandingnya di dunia ini terhadap dewa, Māra, brahmā, pertapa, brahmana, serta para dewa dan manusia.
Pengetahuan dan penglihatan muncul pada-Ku.
Kebebasan batin-Ku tidak tergoyahkan.
Ini adalah kelahiran-Ku yang terakhir.
Tidak akan ada lagi penjelmaan baru.”
(15) Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā.
Bersuka cita Kelompok Lima Bhikkhu itu gembira mendengar penjelasan Sang Bhagavā.
Dan selagi kotbah ini sedang dibabarkan muncullah pada Yang Mulia Kondañña penglihatan Dhamma tanpa noda dan bebas dari
debu :
“Apapun yang tunduk pada asal mula semuanya tunduk pada
lenyapnya.”
(16) Ketika Roda Dhamma ini telah diputar oleh Sang Bhagavā, para dewa yang bertempat tinggal di bumi ( Bhummā Devā ) berseru :
“Di Bārāṇasī di Taman Rusa di Isipatana, Roda Dhamma tanpa banding telah diputar oleh Sang Bhagavā yang tidak dapat dihentikan oleh pertapa atau brahmana atau dewa atau Māra atau brahmā atau siapa pun di dunia.”
(17) Setelah mendengar seruan para dewa yang bertempat tinggal di bumi ( Bhummā Devā ), para dewa di Alam Empat Raja Dewa ( Cātummahārājikā Devā ) berseru :
“Di Bārāṇasī di Taman Rusa di Isipatana, Roda Dhamma tanpa banding telah diputar oleh Sang Bhagavā yang tidak dapat dihentikan oleh pertapa atau brahmana atau dewa atau Māra atau brahmā atau siapa pun di dunia.”
(18) Setelah mendengar seruan para dewa di alam Empat Raja Deva ( Cātummahārājikā Devā ), para dewa di Tāvatiṃsa berseru :
“Di Bārāṇasī di Taman Rusa di Isipatana, Roda Dhamma tanpa banding telah diputar oleh Sang Bhagavā yang tidak dapat dihentikan oleh pertapa atau brahmana atau dewa atau Māra atau brahmā atau siapa pun di dunia.”
Setelah mendengar seruan para dewa di Tāvatiṃsa, para dewa di Yāmā berseru :
“Di Bārāṇasī di Taman Rusa di Isipatana, Roda Dhamma tanpa banding telah diputar oleh Sang Bhagavā yang tidak dapat dihentikan oleh pertapa atau brahmana atau dewa atau Māra atau brahmā atau siapa pun di dunia.”
Setelah mendengar seruan para dewa di Yāmā, para dewa di Tusitā berseru :
“Di Bārāṇasī di Taman Rusa di Isipatana, Roda Dhamma tanpa banding telah diputar oleh Sang Bhagavā yang tidak dapat dihentikan oleh pertapa atau brahmana atau dewa atau Māra atau brahmā atau siapa pun di dunia.”
Setelah mendengar seruan para dewa di Tusitā, para dewa di Nimmāṇaratī berseru :
“Di Bārāṇasī di Taman Rusa di Isipatana, Roda Dhamma tanpa banding telah diputar oleh Sang Bhagavā yang tidak dapat dihentikan oleh pertapa atau brahmana atau dewa atau Māra atau brahmā atau siapa pun di dunia.”
Setelah mendengar seruan para dewa di Nimmāṇaratī, para dewa di Paranimmita Vasavattī berseru :
“Di Bārāṇasī di Taman Rusa di Isipatana, Roda Dhamma tanpa banding telah diputar oleh Sang Bhagavā yang tidak dapat dihentikan oleh pertapa atau brahmana atau dewa atau Māra atau brahmā atau siapa pun di dunia.”
Setelah mendengar seruan para dewa di Paranimmita Vasavattī, para dewa di Brahma Kāyikā berseru :
“Di Bārāṇasī di Taman Rusa di Isipatana, Roda Dhamma tanpa banding telah diputar oleh Sang Bhagavā yang tidak dapat dihentikan oleh pertapa atau brahmana atau dewa atau Māra atau brahmā atau siapa pun di dunia.”
(19) Demikianlah pada saat itu, seketika itu, pada detik itu, seruan itu menyebar hingga sejauh Alam Brahmā dan sepuluh ribu sistem dunia ini berguncang, bergoyang, bergetar, serta cahaya agung yang tanpa batas muncul di dunia melampaui keagungan para dewa di Sorga.
(20) Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan ucapan inspiratif :
“Koṇḍañña sungguh telah mengerti !
Koṇḍañña sungguh telah mengerti !”
Demikianlah Yang Mulia Koṇḍañña memperoleh nama Aññā Koṇḍañña ( Koṇḍañña Yang Telah Mengerti ).

