“Dengan adanya ini, terjadilah itu. Dengan timbulnya ini, maka timbulah itu. Dengan tidak adanya ini, maka tidak adalah itu. Dengan lenyapnya ini, maka lenyaplah itu.“
(KHUDDHAKA NIKAYA, UDANA 40 )
Sebab musabab yang saling bergantungan (Paticcasamuppada) itu seringkali dibabarkan oleh Sang Buddha dan ini merupakan pokok Dharma yang penting sekali dalam Buddha Dhamma.
Doktrin yang terkandung sangat dalam dan luas, sehingga tidak mungkin ditelaah secara lengkap dalam karangan yang terbatas.
Tulisan ini semata–mata dibuat berdasarkan ajaran Buddha untuk menjelaskan doktrin ini dengan mengesampingkan rincian yang rumit di dalamnya.
Di dalam salah satu sutta Sang Buddha bersabda :
Mereka yang melihat Paticcasamuppada, juga melihat Dhamma. Mereka yang melihat Dhamma, juga melihat Paticcasamuppada.
(Maha-hatthipadopama Sutta; Majjhima Nikaya 28)
Dalam sutta yang lain disebutkan juga :
Mereka yang melihat Dhamma melihat Buddha, mereka yang melihat Buddha melihat Dhamma.
Jadi paticcasamuppada ini sangat erat sekali kaitannya dengan pengertian terhadap Dharma secara utuh.
Dalam Mahanidana Sutta, Bhikkhu Ananda setelah mendengarkan paticcasamuppada menyatakan kepada Sang Buddha :
Sungguh dalam paticcasamuppada ini. Sebab musabab yang saling bergantung ini yang muncul dan padam saling terkait, dan tergantung mengkondisikan segala sesuatu ini. Sungguh dalam, sungguh halus. Tapi setelah saya melihatnya, Dhamma tersebut ternyata sangat sederhana.
Atas pernyataan Bhikkhu Ananda ini, Sang Buddha menyatakan :
Janganlah berkata demikian Ananda, janganlah berkata demikian. Karena Paticcasamuppada ini demikian dalam, demikian halus, sulit untuk dipahami oleh mereka yang kekotoran batinnya masih tebal.
Paticcasamuppada adalah suatu ajaran yang menyatakan adanya sebab- musabab yang terjadi dalam kehidupan semua makhluk, khususnya manusia.
Hukum ini menekankan suatu prinsip penting bahwa semua fenomena di alam semesta ini merupakan keadaan relatif yang terkondisi dan tidak bisa muncul dengan sendirinya tanpa kondisi-kondisi yang mendukungnya.
Sebagai contoh; kita amati sebuah lampu minyak. Api dalam lampu minyak menyala tergantung pada minyak dan sumbu. Selama ada minyak dan sumbu, maka api dalam lampu minyak bisa menyala.
Dengan menganalisa dan merenungkan Paticcasamuppada inilah, Petapa Gotama akhirnya mencapai Penerangan Sempurna menjadi Buddha.
Sejujurnya saja, kita ini masih banyak diliputi oleh dukkha (penderitaan atau ketidakpuasan), hal ini dapat kita amati dalam kehidupan sehari-hari, kita masih bersusah- payah dengan bekerja keras, sebagai pedagang, pegawai, bersekolah untuk mendapatkan gelar sarjana agar memperoleh jabatan tertentu disuatu perusahaan atau instansi pemerintah dan sebagainya.
Untuk apa semua itu ?
Tentu saja untuk mendapatkan uang bukan ?
Setelah memiliki sejumlah uang, timbul keinginan ini dan itu.
Ini pertanda bahwa kita belum terpuaskan dan menderita dengan semua keinginan itu .
Bagi kalangan tertentu penderitaan itu disebabkan oleh “nasib atau takdir”.
Dari sisi Buddha Dhamma kita diajarkan untuk melihat bahwa segala sesuatu itu ada sebab -musababnya bukan dengan tiba-tiba atau kebetulan atau takdir.
Semua sebab penderitaan dalam kehidupan ini karena kita dilahirkan.
•Karena sudah lahir, suatu saat kita akan mengalami sakit, tua dan mati.
•Karena ada dorongan yang menimbulkan kekuatan kelahiran yaitu dorongan perbuatan atau karma.
•Karena ada kemelekatan untuk melakukan hal-hal tersebut atau merealisasikan apa yang kita lekati.
•Karena ada keinginan. Kalau ada sesuatu yang kita inginkan maka timbul satu keinginan yang kuat, hasrat rendah/nafsu.
Begitu tercapai, ingin lagi, ingin lagi. Itu yang menimbulkan kemelekatan.
Mengapa timbul keinginan?
•Karena ada perasaan, dari perasaan timbul keinginan terhadap sesuatu.
Perasaan muncul karena adanya kontak.
•Karena indera.
Kita mempunyai indera karena kita mempunyai batin dan jasmani.
Mengapa ada batin dan jasmani?
Karena ada kesadaran yang membentuk batin dan jasmani, salah satunya adalah kesadaran tumimbal lahir.
Mengapa bisa muncul kesadaran yang menyebabkan tumimbal lahir itu?
•Karena adanya perbuatan/karma.
•Karena akibat dari ketidaktahuan (avijja) maka kita melakukan ini dan itu.
*Jika diurutkan, sebab menimbulkan akibat, akibat mengkondisi- kan untuk akibat yang berikutnya, sebab akibat menjadi sumber dari sebab berikutnya, maka semuanya ada 12 mata rantai sebab- musabab (nidana).*
Keduabelas mata rantai itu diuraikan demikian detil oleh Sang Buddha, sehingga Sang Buddha memahami bahwa itu adalah uraian yang sangat halus.
Begitu halus dan sungguh sulit untuk menguraikan dan membabarkan paticcasamuppada, maka dibuatlah simbol-simbol atau gambar-gambar.
Sepertinya Agama Buddha itu ruwet, rumit, dan mendetil sekali.
Ini faktanya, justru Sang Buddha tidak pernah menutup-nutupi.
Ada sebab musabab didalamnya, tidak muncul begitu saja, bukan karena takdir/nasib tapi ada sebab-sebabnya.

