“Bagi yang lapar aku memberikan makanan, bagi yang sakit aku memberikan obat, bagi yang ingin menyeberang aku menjadi jembatan.”
Sebenarnya ‘aku’ itu hanya konsep/fiksi yang dibuat oleh pikiran kita sendiri.
Mengerti bahwa ‘aku’ itu hanya buatan pikiran adalah hasil kecerdasan berpikir. Ini adalah Pariyatti Dhamma (Pengertian Dhamma).
Menyadari setiap ‘aku’ yang muncul dalam pikiran tanpa menanggapi, tanpa menganalisa –hanya menyadari saja– adalah Paṭipatti Dhamma (Praktik Dhamma).
Saat menyadari itulah –walaupun hanya sesaat– keserakahan, kebencian, dan ke-aku-an tidak muncul. Sesaat pikiran terbebas dari kilesa (kotoran batin), sesaat terbebas dari dukkha (penderitaan), itulah Paṭivedha Dhamma (Pencapaian Dhamma).
Tetapi, ke-aku-an, yang menumbuhkan keserakahan dan kebencian masih sering muncul karena kebiasaan-kebiasaan itu sudah menjadi endapan kotoran batin yang tebal melekat.
Mari kita membersihkannya dengan mengendalikan diri dari semua perilaku buruk, berbuat kebaikan sebagai latihan melepas kelekatan, dan berusaha tiap saat menyadari ke-aku-an yang muncul pada pikiran ini.
Penjelasan tambahan
Memang pada artikel _Paṭipatti Dhamma_ di atas, uraian _Pariyatti, Paṭipatti, dan Paṭivedha_ tidak seperti yang sering kita dengar. Meskipun yang sering kita dengar itu memang benar.
Yang sering kita dengar:
Pariyatti Dhamma adalah belajar Dhamma dari membaca kitab-kitab, mendengar ceramah-ceramah, ataupun diskusi-diskusi Dhamna.
Paṭipatti Dhamma adalah praktik Dhamma yang diawali dengan Dāna lalu Sīla, Samādhi, Paññā
Paṭivedha Dhamma adalah merealisasi Magga, Phala, dan Nibbāṇa
Sedangkan dari sudut yang lain:
Pariyatti Dhamma adalah mengetahui pikirannya sendiri, menganalisa dan menyimpulkan bahwa ‘aku’ itu hanyalah pikiran.
Paṭipatti Dhamma adalah berhenti menganalisa dan berhenti menyimpulkan, tetapi hanya menyadari saja secara murni pikiran ‘aku’ yang muncul.
Paṭivedha Dhamma adalah berhentinya pikiran ‘aku’ yang menjadi sumber dari semua kotoran batin, walaupun hanya sesaat. Maka, sesaat terbebas dari kilesa sesaat terbebas (tadaṅga vimutti) dari dukkha.
Ke-tiga2nya –Pariyatti, Paṭipatti, Paṭivedha– tidak hanya untuk memperkuat saddha (keyakinan), tetapi dialami sendiri hanya dalam waktu 1 atau 2 detik. Dan dalam sesaat –1 atau 2 detik– itu terbebas dari dukkha.
Kebebasan yang sesaat itu bisa terjadi berulang-ulang bila kesadaran (_sati_) tidak absen.
Hadirkan kesadaran dalam keseharian, tidak hanya pada waktu duduk bermeditasi, juga tidak hanya pada waktu mengikuti retret meditasi saja.
Berusaha sadar-setiap-saat. Hiduplah dalam kesadaran.


