MENYEMBUNYIKAN DIRI DARI AKIBAT-AKIBAT PERBUATAN JAHAT

Na antalikkhe na samuddamajjhe,

na pabbatānaṁ vivaraṁ pavissa,

na vijjatī so jagatippadeso, yatraṭṭhito mucceyya pāpakammā.

Tiada suatu kawasan di dunia, baik di angkasa, di tengah samudera, atau menyusup ke celah gegunungan – di mana pun berada,

seseorang dapat lolos dari (akibat) perbuatan buruknya.

(Dhammapada syair 127)

Di dunia ini banyak ajaran yang mengklaim atau menyatakan ajarannya sebagai ajaran kebenaran termasuk Agama Buddha yang dikenal dengan sebutan Buddha Dhamma yaitu ajaran kebenaran dari Sang Buddha.

Sebagai umat Buddha kita harus memahami, inti pesan yang disampaikan oleh Guru Agung kita, Buddha Gotama yang terdapat di Kalama Sutta, yaitu : Jangan mudah percaya dan menerima suatu ajaran begitu saja tanpa melalui proses penelitian terlebih dahulu, termasuk apa yang diajarkan oleh Beliau sendiri, tujuannya agar umat Buddha itu melek (bisa melihat), tidak mempercayai sesuatu secara membuta.

 

Apa yang menjadi dasar sehingga Dhamma ajaran Sang Buddha dikatakan sebagai ajaran kebenaran?

Dasarnya adalah hukum alamiah yang bersifat universal, keberadaan-nya memiliki kepastian dan ditemukan oleh Sang Buddha, seperti juga hukum-hukum kebenaran alamiah lainnya yang telah ditemukan oleh para Ilmuwan (misalnya: Hukum Archimedes, Newton, dan lain-lain).

Buddha Dhamma adalah suatu ajaran kebenaran, menggunakan cara pendekatan yang sama dengan Ilmu pengetahuan sains yang mengundang untuk dibuktikan.

Agama Buddha di dalam perkembangannya tidak bertentangan dengan Ilmu pengetahuan tetapi berjalan selaras.

Perbedaan Agama Buddha dan Ilmu pengetahuan sains terletak pada orientasi atau tujuannya.

Ilmu pengetahuan tujuannya adalah demi untuk memperoleh kekayaan kesejahteraan duniawi, sedangkan Buddha Dhamma orientasinya lebih ke spiritual untuk memperoleh kekayaan lahir dan batin.

Salah satu hukum kebenaran yang diajarkan oleh Sang Buddha adalah Kamma Niyama (hukum universal tentang Kamma), istilah lainnya dikenal sebagai Hukum Karma, Hukum perbuatan, Hukum sebab akibat, Hukum konsekuensi, dan Hukum moral.

 

Sang Buddha bersabda : Sesuai dengan benih yang ditabur, begitulah buah yang akan dipetiknya, pembuat kebajikan memperoleh kebahagiaan, pembuat kejahatan memperoleh penderitaan.

(Samyutta Nikāya I, 227).

Di dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar bahwa ketika seseorang telah melakukan suatu perbuatan jahat, misalnya : merampok, mencuri, korupsi, manipulasi, pemalsuan, penipuan, membunuh, dan perbuatan jahat lainnya setelah ketahuan lalu timbul ketakutan karena dicari oleh aparat penegak hukum, kemudian mereka berusaha untuk melarikan diri dan bersembunyi; ada yang tertangkap tetapi ada juga yang tidak tertangkap.

Pertanyaannya, apakah yang tidak tertangkap kemudian akan terbebas dari akibat karma buruk yang telah mereka lakukan?

Jawabannya adalah tidak, karena suatu perbuatan yang telah dilakukan cepat atau lambat pasti akan berakibat sesuai waktunya; bisa berbuah dalam kehidupan ini juga, berbuah dalam kehidupan mendatang, atau berbuah dalam kehidupan seterusnya dalam bentuk penderitaan yang berbeda, jadi tidak mesti harus tertangkap oleh aparat.

Perbuatan yang telah dilakukan oleh seseorang tidak pernah akan lupa pada Si-pelakunya dan akan mengikuti ke mana pun dia pergi seperti kata Sang Buddha dalam Dhammapada syair 1 :

“Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.”

 

Mengutip salah satu bagian cerita terjadinya syair Dhammapada syair 127; dikisahkan bahwa ada sekelompok bhikkhu yang terdiri dari tujuh bhikkhu dalam perjalanan untuk melakukan penghormatan kepada Sang Buddha, mereka meminta keterangan pada sebuah vihara di mana terdapat tempat yang layak untuk berteduh pada malam hari di sekitar sana. Kepada mereka ditunjukkan sebuah gua, dan di sana mereka bermalam. Tetapi di tengah malam sebuah batu karang besar jatuh dari atas dan menutupi pintu masuk gua. Pada pagi harinya, bhikkhu-bhikkhu dari vihara di sekitar situ datang ke gua melihat apa yang terjadi dan mereka membawa orang-orang dari tujuh desa. Dengan bantuan penduduk desa, mereka mencoba menggeser batu karang tersebut. Tetapi usaha itu tidak berhasil.

Dengan demikian, tujuh bhikkhu terjebak di dalam gua tanpa makanan dan minuman selama tujuh hari.

Pada hari ke tujuh, batu karang itu secara ajaib bergerak sendiri, dan para bhikkhu bisa keluar dari gua, serta melanjutkan perjalanan mereka menghadap Sang Buddha.

Setelah bertemu dan memberikan penghormatan kepada Sang Buddha, lalu mereka bertanya kepada Sang Buddha, “kejahatan apa yang telah mereka lakukan sehingga terkurung bersama selama tujuh hari di dalam gua?”

Sang Buddha menjawab :

“Para bhikkhu, pada suatu saat tujuh orang penggembala melihat seekor iguana masuk ke dalam anak bukit, dan mereka menutup ketujuh jalan keluar dari anak bukit tersebut dengan ranting-ranting dan cabang-cabang pohon. Setelah itu mereka pergi melupakan iguana yang terperangkap di dalam bukit tersebut; tujuh hari kemudian mereka teringat apa yang telah mereka lakukan dan segera mereka kembali ke tempat perbuatan usilnya itu dan segera mengeluarkan iguana tersebut.

Akibat dari perbuatan jahat inilah, ketujuh orang bhikkhu telah terkurung bersama selama tujuh hari tanpa makan dan minuman pada akhir kehidupan mereka yang ke empatbelasnya.”

Kemudian para bhikkhu berkata,

“O memang benar! Tidak ada tempat pelarian dari akibat kejahatan bagi orang yang telah melakukan perbuatan jahat, walaupun dia berada di langit,di dalam Samudra, ataupun di dalam gua.”

Kepada mereka Sang Buddha berkata,

“Benar, bhikkhu! Kamu benar, walaupun di langit atau di mana saja, tidak ada tempat yang tidak terjangkau oleh akibat dari kejahatan.”

 

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa prinsip dasar dari Hukum Karma adalah barang siapa yang menanam maka dia akan memetik hasilnya, apakah hasilnya baik maupun buruk.

Seseorang yang melakukan karma buruk pasti menderita karena menerima hasil perbuatannya sendiri.

Kita tidak mungkin menghindarkan diri dari akibat yang tidak menyenangkan yang dihasilkan oleh karma buruk yang telah kita lakukan.

Sehubungan dengn hal inilah Sang Buddha, bersabda:

“Tidak di langit, di tengah lautan, di celah-celah gunung atau di mana pun juga dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang untuk dapat bersembunyi diri dari akibat perbuatan jahatnya.”

(Dhammapada 127)

 

Bila pada kehidupan ini seseorang telah melakukan perbuatan buruk dan ia menyadari bahwa perbuatan itu buruk serta akan menghasilkan penderitaan, maka agar akibat karma buruk itu tidak terlalu berat atau efektif maka ia harus melakukan banyak perbuatan baik.

Oleh karena itu marilah kita terus berbuat baik sebanyak-banyaknya selagi memungkinkan. Semoga hidup kita menjadi lebih ringan.

Related Post