“Dimulai dengan kerendahan hati,” dan seterusnya. Kisah mengenai seorang thera yang bernama Cūḷapanthaka ini diceritakan oleh Bhagavā ketika Beliau sedang berada di hutan mangga milik Jīvaka di dekat Rājagaha. Terdapat sedikit penjelasan mengenai kelahiran Cūḷapanthaka.
Dikisahkan, pada masa kelahiran Buddha Kassapa, Cūḷapanthaka yang pada masa itu merupakan seorang bhikkhu yang berpengetahuan, mencemooh dengan menertawai seorang bhikkhu dungu yang sedang meresapi satu cerita pendek dalam ingatan. Cemoohannya sungguh mengenai sasaran sehingga bhikkhu tersebut tidak mampu mengingat maupun mengulang cerita pendek itu. Akibatnya, di kehidupan ini, saat ia bergabung menjadi anggota Saṅgha, ia sendiri menjadi bhikkhu yang dungu. Setiap ia mengingat satu baris syair yang baru, baris lain yang telah dihafalnya terlupakan.
Setelah empat bulan berlalu semenjak ia mulai bergelut merapal syair itu, Mahāpanthaka berkata kepadanya, “Panthaka, engkau tidak sanggup menerima ajaran ini. Selama empat bulan, engkau bahkan tidak mampu meresapi sebuah syair tunggal dalam ingatan. Bagaimana engkau bisa mencapai kebahagiaan sejati dengan cara ini? Tinggalkanlah vihāra ini.” Walaupun telah diusir oleh saudaranya, Cūḷapanthaka masih berkeyakinan pada ajaran Buddha sehingga tidak ingin menjadi umat awam.
Pada saat Mahāpanthaka bertugas mengurus pembagian makanan bhikkhu Saṅgha, Jīvaka Komārabhacca datang ke hutan mangga miliknya dengan membawa sejumlah wewangian dan bunga untuk Bhagavā. Setelah mempersembahkan barang-barang yang dibawanya dan setelah selesai mendengarkan khotbah Dhamma; ia bangkit dari tempat duduknya, memberikan penghormatan kepada Buddha, kemudian menghampiri Mahāpanthaka dan bertanya, “Bhante, berapakah jumlah semua bhikkhu yang berada di sini termasuk Sang Guru?” “Hanya lima ratus orang, Tuan.” “Bersediakah Bhante membawa kelima ratus bhikkhu tersebut bersama Buddha sebagai pemimpin, menghadiri jamuan makan di rumah saya besok?”
“Tuan, salah seorang bhikkhu bernama Cūḷapanthaka sangat dungu dan tidak berkembang dalam Dhamma,” kata sang thera, “jadi saya menerima undangan untuk semua bhikkhu, kecuali untuknya.” Mendengar hal itu, Cūḷapanthaka berpikir, “Dalam menerima undangan jamuan makan untuk semua bhikkhu, thera itu dengan saksama mengecualikannya untukku. Hal ini membuktikan sudah tidak ada lagi kasih sayang saudara kepadaku.
Apa yang harus saya lakukan dengan Dhamma ini? (Berpikir) Saya akan menjadi umat awam saja, melatih kemurahan hati dan perbuatan baik lainnya sebagai seorang perumah tangga.” Keesokan pagi hari, ia pergi untuk seterusnya kembali menjalani kehidupan sebagai perumah tangga.
Pada saat fajar menyingsing, Sang Guru yang sedang mengamati kejadian di dunia ini, mengetahui hal tersebut. Beliau berangkat lebih pagi, berjalan hilir mudik di jalan dekat beranda gubuk Cūḷapanthaka. Ketika Cūḷapanthaka keluar dari gubuknya, ia melihat Bhagavā, dengan penuh hormat ia menghampiri Beliau. “Akan kemanakah engkau pergi sepagi ini, Cūḷapanthaka?” tanya Bhagavā.
“Saudara saya telah mengusir saya dari Saṅgha; saya akan pergi mengembara, Bhante.” “Cūḷapanthaka, engkau meninggalkan keduniawian pada-Ku. Mengapa engkau tidak datang pada-Ku saat engkau diusir oleh saudaramu? Apa yang akan engkau lakukan dengan hidup sebagai perumah tangga? Engkau seharusnya tinggal bersama-Ku.”
Setelah mengucapkan hal itu, Beliau membawa Cūḷapanthaka dan mempersilakan ia duduk di depan pintu kamar-Nya yang wangi (gandhakuṭi). Sang Guru memberi Cūḷapanthaka sepotong kain yang sangat bersih, yang tercipta dari kekuatan gaib-Nya dan berkata, “Hadaplah ke arah Timur, sambil memegang kain ini, ulangi kata-kata — “Rajoharaṇaṁ; Rajoharaṇaṁ.” Pada waktu yang telah dijanjikan, Bhagavā disertai dengan para bhikkhu pergi ke rumah Jīvaka, dan duduk di tempat yang telah disediakan untuk-Nya.
Pada saat itu, Cūḷapanthaka menatap ke arah matahari, duduk dan memegang potongan kain itu sambil mengulangi kata, “Rajoharaṇaṁ; Rajoharaṇaṁ.” Karena dipegang terus menerus, kain itu menjadi kumal. Melihat itu, ia berpikir, “Kain ini tadinya putih bersih; saya telah mengubah keadaan semula sehingga menjadi kotor. Semua benda adalah tidak kekal adanya.”
Saat menyadari tentang Kematian dan Kehancuran, ia mengembangkan meditasi vipassanā. Mengetahui bahwa Cūḷapanthaka sedang mengembangkan pengetahuan vipassanā, Sang Guru mengirimkan sosok jelmaannya ke hadapan Cūḷapanthaka, sosok jelmaan Beliau duduk dan berkata, “Sudahkah engkau sadari, Cūḷapanthaka, bahwa secarik kain ini menjadi kotor dan penuh noda. Dirimu juga dipenuhi oleh nafsu keinginan dan pikiran-pikiran jahat lainnya. Bersihkanlah semua itu.” Kemudian bayangan Buddha mengulangi syair berikut ini: —
Bukan kotoran, melainkan kotoran batin berupa nafsu keinginan; nafsu keinginanlah kotoran batin yang sebenarnya. Wahai Bhikkhu, ia yang mampu menyingkirkannya; akan hidup dalam kemurnian batin.
Bukan kotoran, melainkan kotoran batin berupa kebencian; kebencianlah kotoran batin yang sebenarnya. Wahai Bhikkhu, ia yang mampu menyingkirkannya; akan hidup dalam kemurnian batin.
Bukan kotoran, melainkan kotoran batin berupa ketidaktahuan; ketidaktahuan merupakan kotoran batin yang sebenarnya. Wahai Bhikkhu, ia yang mampu menyingkirkannya; akan hidup dalam kemurnian batin.
Saat syair itu selesai diucapkan, Cūḷapanthaka mencapai tingkat kesucian Arahat dengan empat pengetahuan analitis, langsung memperoleh pemahaman terhadap keseluruhan kitab suci. Menurut cerita yang beredar secara turun temurun, di masa lampau saat menjadi seorang raja, ketika sedang mengelilingi kota dalam suatu prosesi yang khidmat, ia menyeka keringat di keningnya menggunakan kain bersih yang sedang dipakainya; kain itu menjadi kotor. Ia berpikir, “Badan jasmani ini telah menghancurkan kain putih ini, saya telah mengotorinya. Semua benda adalah tidak kekal adanya.” Saat ia merenungkan tentang ketidakkekalan, terlintas di pikiran bahwa dengan membersihkan kotoran batinlah seseorang akan terbebaskan.
Saat Jīvaka Komārabhacca memberikan persembahan air, Sang Guru meletakkan tangannya di atas mangkuknya, dan bertanya, “Masih adakah bhikkhu di vihāra, Jīvaka?” Mahāpanthaka berkata, “Tidak ada lagi bhikkhu di sana, Bhante.” “Masih ada para bhikkhu di vihāra, Jīvaka,” kata Sang Guru. “Wahai kamu yang di sana,” kata Jīvaka kepada pelayannya, “pergi dan lihat apakah masih ada bhikkhu di vihāra.”
Saat Cūḷapanthaka mengetahui saudaranya mengatakan tidak ada lagi bhikkhu di vihāra, ia memutuskan untuk menunjukkan pada saudaranya bahwa masih ada bhikkhu di vihāra, ia memenuhi hutan mangga itu dengan para bhikkhu. Ada yang sedang membuat jubah; ada yang sedang mencelup jubah; sementara yang lain sedang mengulang dhamma: —Ia menciptakan seribu orang bhikkhu dengan rupa yang berbeda satu sama lain. Melihat kumpulan bhikkhu di vihāra, pelayan itu kembali ke rumah Jīvaka dan mengabarkan bahwa vihāra dipenuhi oleh para bhikkhu.
Untuk menghormati Thera yang berada di vihāra —
Panthaka, dengan seribu orang wujud jelmaannya; duduk menunggu, hingga dijemput, di hutan yang menyenangkan itu.
“Sekarang kembalilah ke vihara,” kata Sang Guru kepada pelayan itu, “katakan, Guru mengirimku untuk menjemput bhikkhu yang bernama Cūḷapanthaka.”
Saat pelayan tersebut menyatakan hal itu, mereka menjawab secara bersamaan, “Saya adalah Cūḷapanthaka! Saya adalah Cūḷapanthaka!”
Pelayan itu kembali lagi dan mengatakan, “Mereka semua mengaku sebagai “Bhikkhu Cūḷapanthaka”, Yang Mulia.”
“Kalau begitu, kembali lagi ke sana,” kata Sang Guru, “pegang tangan bhikkhu pertama yang mengatakan ia adalah Cūḷapanthaka, maka bhikkhu yang lain akan menghilang.” Pelayan itu mengikuti perkataan Sang Guru, seketika itu juga seribu bhikkhu yang diciptakan oleh Cūḷapanthaka lenyap dari pandangannya.
Saat jamuan makan selesai, Sang Guru berkata, “Jīvaka, ambil patta Cūḷapanthaka, ia akan menyampaikan anumodanā.” Jīvaka melakukan apa yang diminta Sang Guru. Laksana raungan tantangan seekor singa muda, thera menguncarkan bagian-bagian Tipiṭaka sebagai anumodanā.
Setelah selesai, Sang Guru kembali ke vihāra setelah bangkit dari tempat duduknya dan diikuti oleh para bhikkhu. Setelah pembagian tugas oleh bhikkhu Saṅgha, Beliau bangkit dari tempat duduknya, berdiri di ambang pintu kamar-Nya yang harum, membabarkan Dhamma kepada para bhikkhu. Diakhiri dengan pemberian objek perenungan meditasi kepada para bhikkhu, Beliau kemudian membubarkan para bhikkhu yang berkumpul di sana, masuk ke dalam kamar-Nya yang harum dan berbaring beristirahat, laksana seekor singa pada sisi kanan tubuh-Nya.
Pada saat yang sama, para bhikkhu berkumpul di Balai Kebenaran dan memanjatkan pujian pada Sang Guru. “Teman,” mereka berkata, “Mahāpanthaka gagal mengenali kemampuan Cūḷapanthaka. Ia mengusir saudaranya dari vihāra karena ia dungu tidak mampu menghafal sebuah syair tunggal dalam waktu empat bulan. Namun Buddha Yang Mahatahu, dengan kesempurnaan Dhamma yang diajarkan-Nya, Cūḷapanthaka mencapai tingkat kesucian Arahat lengkap dengan pengetahuan analitis, bahkan pada saat jamuan makan sedang berlangsung. Dengan pengetahuan yang dimilikinya, ia menguasai tiga piṭaka. Oh! Betapa hebatnya kekuatan yang dimiliki oleh Buddha.”
Bhagavā, mengetahui semua percakapan yang terjadi di Balai Kebenaran dan berpikir untuk bergabung bersama mereka. Maka Beliau bangkit dari tempat berbaringnya, mengenakan kedua jubah dasarnya, mengencangkan sabuk, dan memakai jubahnya, jubah seorang Buddha yang besar. Kemudian Beliau pergi ke Balai Kebenaran dengan keagungan yang tiada tara dari seorang Buddha, Beliau melangkah laksana seekor gajah istana yang penuh semangat. Menaiki singgasana yang berada di tengah-tengah Balai Kebenaran, lalu duduk di tengah singgasana tersebut, memancarkan enam warna cahaya yang menandai seorang Buddha — laksana cahaya matahari yang baru terbit dari puncak Pegunungan Yugandhāra, menerangi hingga samudra terdalam.
Dengan suara yang sangat merdu, Beliau menyapa para bhikkhu dan berkata, “Apa topik pertemuan ini? Tentang apakah percakapan yang terhenti tadi?” “Bhante,” jawab mereka, “tidak ada pembicaraan yang tidak berguna. Kami sedang membicarakan tentang tindakan Bhagavā yang sangat terpuji.” Setelah mereka menyampaikan apa yang sedang mereka bicarakan, kata demi kata, Sang Guru berkata, “Para Bhikkhu, berkat bantuanku Cūḷapanthaka berkembang pesat dalam keyakinan; sebagaimana halnya di masa lampau ia memperoleh kekayaan besar juga berkat bantuan yang kuberikan.”
Para bhikkhu memohon Sang Guru menjelaskan maksud perkataan itu; Beliau kemudian menjelaskan hal yang selama ini tidak mereka ketahui dikarenakan kelahiran kembali:
Suatu ketika di masa lampau, Brahmadatta memerintah di Bārāṇasī, Negeri Kāsi; Bodhisatta terlahir di keluarga bendaharawan (bhaṇḍāgārika). Ia tumbuh dewasa menjadi seorang bendaharawan yang terkenal dengan sebutan Cullakaseṭṭhi. Ia adalah orang yang bijaksana dan pintar, sangat cermat dalam mengamati tanda-tanda dan gelagat-gelagat. Suatu hari, dalam perjalanan untuk menyambut raja, ia melihat bangkai seekor tikus di tengah jalan; sambil memperhatikan posisi bintang pada saat itu ia berkata, “Cukup dengan memungut tikus ini, siapapun dengan kecerdikannya, memiliki kemungkinan untuk memulai usahanya dan menghidupi seorang istri.”
Ucapannya terdengar oleh seorang pemuda dari keluarga baik-baik yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Pemuda itu bergumam pada dirinya sendiri, “Ia adalah orang yang hanya berbicara jika ada alasan di balik itu.” Menuruti perkataan bendaharawan itu, ia memungut bangkai tikus, lalu menjualnya dengan harga seperempat sen ke sebuah kedai untuk dijadikan makanan bagi kucing di sana.
Dengan uang itu, ia membeli sirup gula dan membawa air minum dalam sebuah kendi. Ia mencari para pemetik bunga yang baru pulang dari hutan, memberikan sedikit sirup gula dan menyendokkan air minum untuk mereka. Setiap orang memberikan seikat bunga kepadanya. Dengan hasil itu, keesokan harinya, ia mengunjungi para pemetik bunga lagi, membawa sirup dan air minum yang lebih banyak dari sebelumnya. Sebelum mereka pergi pada hari itu, para pemetik bunga memberinya tanaman bunga dengan sebagian bunga masih berada di batangnya; dalam waktu singkat ia telah mendapatkan delapan sen.
Beberapa waktu kemudian, saat hari hujan dan berangin, angin merobohkan sebagian cabang yang telah busuk, ranting dan daun ke taman peristirahatan raja. Tukang kebun istana tidak tahu bagaimana cara membersihkan tempat itu. Pemuda itu muncul dan menawarkan diri membersihkan tempat itu jika ia boleh mengambil ranting dan daun tersebut. Tukang kebun menyetujui hal itu. Kemudian pemuda ini mulai membersihkan taman bermain anak-anak. Dalam waktu yang singkat, ia berhasil membuat anak-anak membantunya memungut setiap ranting dan daun yang ada di tempat itu dan menumpuknya di dekat pintu masuk dengan memberi mereka sirup gula. Di saat yang sama, pembuat tembikar kerajaan sedang mencari bahan bakar untuk membuat mangkuk kerajaan. Ia melihat tumpukan kayu itu dan membeli semua kayu-kayu tersebut. Penjualan kayu itu memberikan enam belas sen kepada pemuda tersebut, ditambah lima buah mangkuk dan bejana.
Dengan dua puluh empat sen di tangan, sebuah rencana terpikirkan olehnya. Ia pergi ke arah gerbang kota, membawa kendi air dan menyiapkan minuman untuk lima ratus orang pemotong rumput. Mereka berkata, “Kamu telah berjasa pada kami. Apa yang bisa kami lakukan untukmu?” “Oh, akan saya katakan saat saya membutuhkan pertolongan kalian.” Sewaktu meninggalkan tempat itu, ia menjalin persahabatan dengan seorang pedagang yang melakukan jual beli di daratan dan seorang pedagang yang melakukan jual beli di lautan.
Pedagang daratan itu berkata padanya, “Besok, akan datang seorang pedagang kuda ke kota ini dengan membawa lima ratus ekor kuda untuk dijual.” Mendengar berita itu, ia berkata kepada para pemotong rumput, “Saya minta masing-masing dari kalian memberikan seikat rumput padaku hari ini, dan jangan menjual rumput yang kalian miliki sebelum rumput saya habis terjual.” “Baiklah,” jawab mereka, lalu mengirim lima ratus ikat rumput ke rumahnya. Karena tidak bisa mendapatkan rumput untuk kudanya, pedagang kuda itu membeli rumput yang dijual oleh pemuda itu seharga seribu keping.
Beberapa hari kemudian, setelah temannya yang melakukan jual beli di lautan menyampaikan kabar akan kedatangan sebuah kapal besar di dermaga, sebuah rencana lain terpikirkan olehnya. Dengan delapan sen, ia menyewa sebuah kereta kuda yang disewakan dengan hitungan per jam, kemudian bergerak maju dengan penuh gaya ke dermaga. Setelah membeli kapal itu secara kredit dengan memberikan cincin stempelnya sebagai jaminan, ia menempati sebuah paviliun yang susah diberi izin masuk sebagai pangkalan. Saat hendak masuk ke dalam untuk duduk, ia berpesan kepada pelayannya, “Saat para saudagar muncul, biarkan mereka melalui tiga penerima tamu secara berturut-turut sebelum menemuiku.” Mendengar berita bahwa sebuah kapal besar telah berlabuh di dermaga, sekitar seratus orang saudagar datang untuk membeli muatan kapal itu; namun mereka diberitahukan bahwa seorang saudagar yang sangat kaya telah membeli kapal itu. Mereka mendatangi pemuda tersebut, pelayan itu melaksanakan apa yang dipesankan oleh pemuda itu, mereka melewati tiga penerima tamu secara berturut-turut, seperti yang telah diatur. Masing-masing dari seratus saudagar itu memberikan seribu keping uang kepadanya untuk mendapatkan hak kepemilikan kapal, dan tambahan seribu keping per orang untuk membeli bagiannya. Secara keseluruhan, ia membawa dua ratus ribu keping uang saat kembali ke Bārāṇasī.
Didorong oleh keinginan untuk menunjukkan rasa terima kasihnya, pemuda itu mengunjungi “Cullakaseṭṭhi” dengan membawa seratus ribu keping uang. “Bagaimana cara kamu menjadi begitu kaya?” tanya bendaharawan itu. “Dalam empat bulan yang singkat ini, dengan mengikuti petunjuk yang Anda berikan,” jawab pemuda itu. Kemudian ia menceritakan kejadian itu secara lengkap, dimulai dengan bangkai tikus itu. Mendengar cerita itu, Cullakaseṭṭhi berpikir, “Saya harus memastikan anak muda ini tidak jatuh ke tangan orang lain.” Maka ia menikahkan pemuda ini dengan putrinya dan menyerahkan semua harta warisan keluarganya pada pemuda ini. Saat bendaharawan itu meninggal, ia mengambil alih jabatannya. Bodhisatta meninggal dan terlahir kembali di alam sesuai dengan apa yang ia perbuat.
Saat uraian itu berakhir, Buddha, Yang Mahatahu, mengulangi syair ini: —
Dimulai dari kerendahan hati dan modal kecil; ia yang cerdik dan cakap dapat menambah kekayaan bahkan hembusan napasnya seakan dapat menjaga nyala api kecil.
Bhagavā juga berkata, “Wahai Bhikkhu, berkat bantuanku Cūḷapanthaka berkembang pesat dalam keyakinan; sebagaimana halnya di masa lampau ia memperoleh kekayaan besar.” Setelah selesai bertutur, Sang Guru mempertautkan kedua kisah kelahiran itu, dan memperkenalkan tentang kelahiran itu dengan ringkasan kata-kata berikut ini, “Cūḷapanthaka adalah pemuda yang memgikuti saran dari Cullakaseṭṭhi di masa itu, dan saya sendiri adalah Cullakaseṭṭhi.”


