APAKAH BERMANFAAT MEMBERIKAN DANA PADA SEORANG BHIKKHU YANG TAK BERMORAL

Penanya menanyakan sebuah pertanyaan tambahan. “Jika dana diberikan pada seorang bhikkhu yang tak bermoral, apakah ini bisa membuahkan hasil yang besar, bermanfaat bagi si pendana?”

Ini seharusnya dicatat bahwa bagi seorang pendana, seorang bhikkhu yang tak bermoral bisa layak menerima pemberian dengan sepuluh kemurnian yang dikenal sebagai “Dakkhiṇavisuddhi”, membuahkan manfaat besar bagi pendana.

1. Seorang bhikkhu yang tak bermoral memakai jubah, dan membawa sebuah mangkuk derma, yang merupakan simbol suci yang menyatakan tekad dan niat untuk melenyapkan kekotoran batin.

2. Dalam ragam sebagai petapa atau bhikkhu, dia berperilaku dalam beberapa cara dengan benar.

3. Dia masih dalam perlindungan Saṅgha.

4. Dia masih mempertahankan Tiga Perlindungan.

5. Dia masih tinggal di sebuah vihāra di mana konsentrasi dan pandangan terang dipraktikkan dengan rajin.

6. Dia mencari perlindungan dalam Saṅgha.

7. Dia berlatih dan mengajar Dhamma pada orang lain.

8. Dia bergantung pada Tipiṭaka sebagai sinar kebijaksanaan. Pikirannya cenderung condong pada Dhamma.

9. Dia percaya bahwa Sang Buddha adalah orang paling tinggi dan mulia di tiga alam.

10. Dia menjalankan beberapa sila Uposatha dan etika.

Jadi hal-hal yang bisa dihormati dan murni ini membantu seorang pendana mendapatkan manfaat besar ketika dana diberikan padanya. Memberikan dana padanya mendatangkan manfaat tak terukur bagi seorang pendana, bukan karena kesalahannya yang serius, tetapi karena sepuluh kemurnian itu. Dan juga, dia masih mempertahankan status sebagai seorang bhikkhu.

Jika seorang bhikkhu yang tak bermoral kembali pada kehidupan awam dengan pengakuan dan pernyataan, dia meninggalkan status kebhikkhuannya dan menjadi seorang awam.

Beberapa kasus bisa dicatat sehubungan dengan pentingnya sikap dan motif yang terampil. Seorang awam perempuan, melihat seorang bhikkhu yang sangat buruk, gagal menunjukkan penghormatan dan penghargaan padanya. Dia tidak mempersembahkan dana sebagaimana biasanya. Lalu seorang guru menginstruksikan dia sebagai berikut: “Murid awam, di dalam pertemuan dengan Buddha Sāsana mata Anda sekarang melihat seorang bhikkhu. Hanya ini saja adalah hal yang baik dan langka. Pikirkan serangkaian kehidupan di mana Buddha Sāsana tidak eksis, di mana tidak ada bhikkhu sejati bisa dilihat dengan mata telanjang. Ini adalah kesempatan langka bagimu sekarang melihat seorang bhikkhu dengan jubah, pergi menerima dana. Mengapa memunculkan kebencian, keserakahan, dan ketidaktahuan pada penampakan yang mulia ini, yang merupakan kesempatan yang langka.

“Melihat seorang bhikkhu” adalah perbuatan bajik yang lebih besar daripada menerima raja, bangsawan, atau penguasa. Ini lebih besar daripada kemuliaan dan kekuatan Sakka, Raja para dewa. Bahkan brahma yang terbesar pun tidak bisa mendapatkan kesempatan yang khas ini, ketika tidak ada Buddha Sāsana. Hanya melihat “bentuk” dan jubah seorang bhikkhu sekali saja mempunyai kemuliaan dan kekuatan yang lebih besar daripada melihat brahma. Dalam saṃsāra yang tak terhingga ini, bertemu dengan Buddha Sāsana sangatlah langka. Ini adalah kejadian yang menguntungkan, bahkan hanya dengan melihat seorang bhikkhu.

Kemudian gurunya bertanya pada umat awam perempuan itu berapa harga makanannya, dan berapa nilai yang bisa diperkirakan melihat jubah seorang bhikkhu. Bahkan jika dia meminta untuk pertemuan seperti itu dengan memberikan seratus kyat (mata uang Myanmar), adalah tidak memungkinkan untuk bhikkhu itu datang setiap hari. Bahkan ratusan ribu kyat tidak bisa menawarkan kesempatan langka melihat jubah itu. Demikianlah bhikkhu yang tak bermoral ini memberikan manfaat terbesar dengan menunjukkan jubahnya pada mata perempuan itu, sehingga pentingnya Buddha Sāsana bisa disadari. Oleh karena itu, umat awam perempuan itu seharusnya menunjukkan rasa terima kasih dan penghargaan pada bhikkhu yang tak bermoral itu.

Sejak hari itu, dikarenakan instruksi yang bijaksana, dia dengan taat memberikan dana makan pada bhikkhu itu. Keyakinannya menjadi jernih dan kuat. Sikap terampil ini disebutkan dalam Milindapañha sebagai “Anavajjakavacadharaṇatāyapi dakkhinaṃ visodheti – dia membantu memurnikan dana dengan memakai jubah dari yang tak bercacat.” (Miln. 257) 

Contoh lainnya lagi menegaskan fakta bahwa bahkan hanya melihat jubah bhikkhu adalah sebuah kesempatan langka. Pada suatu hari seorang pemburu melihat sebuah jubah bhikkhu di belukar. Dikarenakan jubah bhikkhu adalah sebuah simbol kearahatan, dia merasakan kegembiraan yang besar, terinspirasi, dan mempunyai rasa hormat, sehingga dia memujanya. Setelah kematiannya, dia terlahir di alam dewa dikarenakan perbuatan bajik ini. Perbuatan bajik ini, dengan perenungan yang benar, disebut “Cīvarapūja”, penghormatan pada jubah. Ini juga berarti “memberikan penghormatan pada yang layak dihormati”. Dewa ini menjadi manusia lagi pada masa Sang Buddha, memasuki Saṅgha, dan mencapai kearahatan.

Di antara sepuluh kebajikan dari seorang bhikkhu yang tak bermoral, beberapa mengakibatkan penderitaan dan bahaya berat bagi seorang bhikkhu yang tak patuh jika dia tidak segera kembali kepada kehidupan awam. Namun, bagi seorang awam berpenglihatan jernih, yang melakukan dana dengan terampil dengan kemurnian si pendana, semua sepuluh kebajikan menjadi penyebab pikiran, ucapan, dan perbuatan bajik. Bagi umat awam yang lalai dan tak beradab, kesepuluh kebajikan dalam seorang bhikkhu yang tak bermoral menjadi penyebab pikiran, kata-kata, dan perbuatan tak bajik yang berulang kali.

Seseorang mungkin bertanya, “Mengapa Sang Buddha mengajarkan kita bahwa jika dana diberikan pada seorang bhikkhu yang tak bermoral, hanya manfaat kecil yang bisa

diperoleh?”

Dalam mengajarkan keempat belas tingkatan orang, hasil bermanfaat yang progresif adalah jelas. Seorang bhikkhu yang cermat bagaikan tanah yang subur. Ini bisa dilihat dengan mempelajari banyak cerita di dalam Dhammapada. Ini menunjukkan dengan jelas bahwa manfaat lebih kecil diperoleh dari dana yang diberikan pada seorang bhikkhu yang tak bermoral. Manfaat yang lebih besar didapatkan dari memberikan dana pada seorang bhikkhu yang cermat.

Related Post