Kisah Mahānāma Pangeran Sakya 

(a) Cita-cita Masa Lampau

Bakal Mahānāma terlahir dalam sebuah keluarga kaya di Kota Haṁsāvatī pada masa kehidupan Buddha Padumuttara. Ketika mendengarkan khotbah Buddha, ia menyaksikan seorang siswa awam yang dinyatakan sebagai yang terbaik di antara para siswa awam yang mempersembahkan makanan-makanan lezat, dan obat-obatan. Ia ingin menjadi seperti orang itu pada masa depan, dan setelah memberikan persembahan besar, ia mengungkapkan cita-citanya itu. Buddha memprediksikan bahwa cita-citanya akan tercapai.

(b) Kehidupan Terakhir Sebagai Pangeran Mahānāma, Dari Suku Sakya

Suatu hari, setelah menetap di Verañjā selama masa vassa, Buddha melakukan perjalanan menuju Kapilavatthu, dan menetap di Vihāra Nigrodhārāma di Kapilavatthu, bersama banyak bhikkhu.

Ketika Mahānāma pangeran Sakya (kakak dari Yang Mulia Anuruddhā) mengetahui kedatangan Buddha, ia menghadap Bhagavā, bersujud dan duduk di tempat yang semestinya. Kemudian ia berkata kepada Bhagavā, “Yang Mulia, aku diberitahu bahwa Saṅgha telah mengalami kesulitan dalam mengumpulkan dāna makanan selama berada di Verañjā. Sudilah mengizinkan aku untuk memberikan persembahan makanan setiap hari kepada Saṅgha selama empat bulan sehingga aku dapat memberikan nutrisi yang diperlukan (sebagai pengganti kekurangan nutrisi selama tiga bulan vassa itu.)” Bhagavā mengizinkan dengan berdiam diri.

Mahānāma si pangeran Sakya, mengetahui bahwa Buddha menerima undangannya, mulai keesokan harinya mempersembahkan lima jenis makanan-makanan lezat dan empat jenis campuran (catumadhu), yang memberikan efek pengobatan kepada Buddha dan Saṅgha.

Pada akhir empat bulan itu, ia mendapatkan izin dari Buddha untuk memberikan persembahan yang sama untuk empat bulan berikutnya, dan pada akhir empat bulan itu ia mendapatkan izin lagi untuk melanjutkan persembahan itu selama empat bulan berikutnya, sehingga seluruhnya menjadi dua belas bulan. Pada akhir satu tahun itu, ia meminta izin lagi tetapi ditolak oleh Buddha.

Pada akhir satu tahun itu, Mahānāma si Pangeran Sakya meminta izin dan diperbolehkan oleh Buddha untuk mempersembahkan kebutuhan obat-obatan kepada Saṅgha seumur hidup. Tetapi kelak, karena situasi yang mengarah kepada penetapan peraturan Vinaya dalam hal ini, Bhagavā tidak mengizinkan periode ini lebih dari satu tahun. Setelah Buddha memperbolehkan Mahānāma menyediakan obat-obatan kepada Saṅgha seumur hidup, Kelompok Enam Bhikkhu menuduh Pangeran Mahānāma melakukan gangguan.

 

Ketika Bhagavā mengetahui hal itu, Beliau membatalkan persetujuan-Nya semula kepada Pangeran Mahānāma dan menetapkan peraturan yang dikenal sebagai Mahānāma Sikkhāpada bahwa seorang bhikkhu tidak boleh, tanpa diundang, menerima obat-obatan dari seorang penyumbang. Pelanggaran terhadap peraturan ini adalah pelanggaran Pācittiya. (Baca bagian Pācittiya untuk penjelasan lengkap.)

Telah menjadi rutinitas bagi Pangeran Mahānāma untuk mempersembahkan lima jenis makanan lezat dan empat jenis campuran yang memberikan efek pengobatan kepada setiap bhikkhu yang datang ke rumahnya. Cara memberikan dāna makanan dan obat-obatan yang lengkap seperti ini menjadi cirinya dan dikenal di seluruh Benua Selatan (Jambūdīpa).

 

(c) Menjadi Siswa Terbaik

 

Oleh karena itu, pada kemudian hari ketika Buddha sedang berada di Vihāra Jetavana dalam kesempatan menganugerahkan gelar siswa awam terbaik sesuai jasa mereka, Beliau menyatakan, *“Para bhikkhu, di antara para siswa awam yang memiliki kebiasaan memberikan persembahan makanan-makanan lezat dan obat-obatan, Mahānāma, si pangeran Sakya adalah yang terbaik.”*

 

Demikianlah kisah Mahānāma, si pangeran Sakya.

Dikutip dari:

Riwayat Agung Para Buddha

Buku Ketiga

Related Post