Puasa yang dipengaruhi agama misalnya Ramadhan dalam agama Islam. Setiap puasa memiliki perbedaan, keunikan, ciri khas, tata cara, maupun waktu pelaksanaan. Secara garis besar puasa dalam tradisi agama dan budaya memiliki persamaan seperti pengendalian diri, berlatih menjalani hidup lebih suci. Puasa memiliki berbagai macam tujuan, misalnya agar mencapai tujuan tertentu, melatih hidup suci bahkan ada yang melakukan puasa dengan tujuan yang kurang baik.
Bagaimana dengan agama Buddha, apakah ajaran Buddha mengenal puasa? Ajaran agama Buddha mengenal puasa sering disebut dengan Atthasila yang berasal dari Bahasa Pali, “Aṭṭha” berarti delapan dan Sīla berarti latihan moral. Aṭṭhasīla diartikan sebagai latihan delapan aturan kemoralan. Atthasila dapat dilaksanakan sebulan penuh menjelang Hari Raya Waisak atau pada Hari Uposatha yang jatuh tanggal 1,8,15 dan 23 setiap bulannya menurut penanggalan Lunar. Apabila pada hari biasa umat Buddha melaksanakan Pancasila Buddhis (lima sila), saat melaksanakan atthasila umat Buddha berlatih melaksanakan delapan sila yaitu:
(1) Saya bertekad untuk tidak menghancurkan makhluk hidup;
(2) Saya bertekad untuk tidak mengambil apa yang tidak diberikan;
(3) Saya bertekad untuk tidak melakukan aktivitas seksual;
(4) Saya bertekad untuk menjauhi ucapan yang salah;
(5) Saya bertekad untuk menjauhi minuman keras dan obat-obatan terlarang yang dapat mengakibatkan kecerobohan;
(6) Saya bertekad untuk tidak makan pada waktu terlarang, yaitu setelah tengah hari;
(7) Aku bertekad untuk tidak menari, menyanyi, mendengarkan musik, pergi menonton hiburan, memakai kalung bunga, memakai minyak wangi, dan mempercantik tubuh dengan kosmetik);
(8) Saya bertekad untuk tidak berbaring di tempat tidur yang tinggi atau mewah.
Berdasarkan ketentuan di atas dapat kita pahami bahwa terdapat perbedaan sila ke tiga yaitu diartikan dengan tidak melakukan aktivitas seksual bahkan satu tempat tidur dengan pasangan. Pada sila ke enam, umat tidak diperbolehkan makan setelah tengah hari (jam 12.00), dengan makna harus makan sesuai kebutuhan dan secukupnya agar tidak memupuk keserakahan. Sila ke tujuh, umat berlatih menahan diri untuk tidak menyanyi, menari, memakai wewangian, hingga merias wajah yang bertujuan mempercantik diri, dan Sila ke delapan umat tidak diperkenankan untuk tidur di tempat yang tinggi dan mewah, karena pada dasarnya atthasila memiliki tiga makna yang penting yaitu:
(1) mengendalikan diri dari nafsu nafsu jiwa dan raga (mawas diri);
(2) Melatih hidup kesucian (melatih kemoralan dan mengurangi kemelekatan);
(3) Kesederhanaan (mengurangi keserakahan dan hal yang berlebihan).
Melatih diri dalam menjalankan atthasila akan mendapat banyak manfaat karena merupakan sebuah usaha mengembangkan latihan moral yang lebih tinggi. Pelaksanaan atthasila akan melatih pada kesempurnaan moral, seperti yang dijelaskan dalam
Anguttara Nikaya 3:
“…. Tasma hi narica naro ca silava, atthangupettam, upavassuposatham punnani katvana sukudrayani, anindita saggamupenti thanam’ ti”
artinya oleh karena itu seorang wanita atau pria yang melatih moral dengan melaksanakan uposatha yang lengkap dengan delapan faktor dan setelah melakukan jasa yang menghasilkan kebahagiaan, pergi tanpa cela menuju alam surga”. Atthasila berbeda dengan puasa lainnya karena dilaksanakan dengan niat dan kesadaran akan lebih memberikan kemajuan batin, ketenangan dan mengurangi atau mengikis kekotoran batin kita.
Demikian pemahaman secara singkat tentang puasa dan maknanya dalam agama Buddha, semoga tulisan ini dapat menambah wawasan, bagi umat yang belum pernah melaksanakan atthasila dapat mencoba dan bagi yang sudah melaksanakan, agar meningkatkan latihannya agar senantiasa kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana, tenang, mawas diri, sederhana sehingga hidup akan lebih damai, tentram dan bahagia.
Saddhu… Saddhu…Saddhu…


