Kelahiran sebagai Seekor Anjing

Kukkura Jātaka (Kelahiran sebagai Seekor Anjing) [Jat 22]

“Anjing-anjing yang dipelihara di istana kerajaan.” – Kisah ini diceritakan oleh Guru saat berada di Jetavana, tentang perbuatan baik untuk kerabatnya, seperti yang akan diceritakan dalam Buku Kedua Belas di Bhaddasāla-jātaka. Untuk menyampaikan pengajaran itulah Beliau menceritakan kisah masa lampau ini.

Suatu ketika Brahmadatta memerintah di Bārāṇasī, akibat dari perbuatan Bodhisatta di masa lampau ia dilahirkan sebagai seekor anjing, dan tinggal di sebuah pemakaman besar sebagai pemimpin dari beberapa ratus ekor anjing.

Suatu hari, raja berangkat dengan kereta yang dipenuhi dekorasi dan ornamen yang ditarik oleh kuda-kuda putih susu (sindhu) ke taman peristirahatan, dan setelah menghibur dirinya sendiri sepanjang hari di taman tersebut, dia kembali ke kota setelah matahari terbenam. Tali kekang mereka tinggalkan begitu saja di halaman yang masih terpasang di kereta. Di malam hari hujan turun dan tali kekang itu basah. Selain itu, anjing raja turun dari teras atas dan menggerogoti ornamen kulit dan tali kekang itu. Hari berikutnya mereka memberi tahu raja, sambil berkata, “Baginda, anjing telah masuk melalui lubang saluran pembuangan dan telah menggerogoti ornamen kulit dan tali kekang kereta Yang Mulia.” Marah pada anjing-anjing itu, raja berkata, “Bunuh setiap anjing yang kalian lihat.”

Kemudian dimulailah pembantaian anjing secara besar-besaran; dan makhluk-makhluk itu, yang menyadari bahwa mereka akan dibunuh setiap kali mereka terlihat, pergi ke pemakaman untuk menjumpai Bodhisatta. “Mengapa kalian berkumpul, apakah yang terjadi?” tanyanya. Mereka berkata, “Raja sangat marah atas laporan bahwa ornamen kulit dan tali kekang keretanya telah digerogoti oleh anjing di dalam lingkungan kerajaan, sehingga dia telah memerintahkan semua anjing untuk dibunuh. Anjing-anjing sedang dibinasakan secara besar-besaran, dan bahaya besar telah muncul.”

Bodhisatta berpikir, “Tidak ada anjing dari luar yang bisa masuk ke tempat yang diawasi dengan ketat; pastilah anjing ras asli di dalam istana yang melakukannya. Saat ini tidak ada yang terjadi pada pelaku sebenarnya, sementara yang tidak bersalah dihukum mati. Bagaimana jika aku menemukan pelakunya bagi raja dan menyelamatkan hidup sanak saudaraku?” Dia menghibur kerabatnya dengan berkata, “Jangan takut; Aku akan menyelamatkan kalian. Tunggu saja di sini sampai aku bertemu raja.”

Kemudian, disertai oleh pikiran cinta kasih, dan mengingat Sepuluh Kesempurnaan, dia berjalan sendirian dan tanpa pengawasan ke kota, dan bertekad demikian, “Jangan ada tangan yang diangkat untuk melemparkan tongkat atau batu ke arahku.” Oleh karena itu, ketika dia muncul, tidak ada seorang pun yang menjadi marah saat melihatnya.

Sementara itu, raja, setelah memerintahkan pemusnahan anjing-anjing itu, setelah duduk di aula pengadilan. Bodhisatta langsung datang ke arahnya dan melompat ke bawah singgasana raja. Pelayan raja mencoba mengeluarkannya; namun raja menghentikan mereka. Dengan berani, Bodhisatta keluar dari bawah singgasana, dan menghormat kepada raja, berkata,

“Apakah Anda yang membuat anjing-anjing dibinasakan?”

Ya, aku yang memerintahkannya.

“Apa pelanggaran mereka, raja manusia?”

Mereka telah menggerogoti tali kekang dan kulit yang menghiasi keretaku.

“Apakah Anda tahu anjing yang sebenarnya melakukan pengrusakan?”

“Tidak, saya tidak tahu.”

“Tapi, Yang Mulia, jika Anda tidak mengetahui secara pasti pelaku sebenarnya, tidaklah benar memerintahkan pemusnahan setiap anjing yang terlihat.”

“Karena anjinglah yang telah menggerogoti kulit kereta saya sehingga saya memerintahkan mereka semua untuk dibunuh.”


“Apakah orang-orang Anda membunuh semua anjing tanpa kecuali; atau adakah anjing yang diampuni?”

 

“Beberapa diampuni, — anjingku yang dibesarkan di istanaku sendiri.”

 

“Baginda, baru saja Anda mengatakan bahwa Anda telah memerintahkan pembantaian kepada semua anjing di manapun ditemukan, karena anjing telah menggerogoti kulit kereta Anda; sedangkan, sekarang, Anda mengatakan bahwa anjing ras Anda sendiri lolos dari kematian. Oleh karena itu Anda mengikuti empat prasangka yaitu keberpihakan, kemarahan, ketidaktahuan dan ketakutan. Sikap seperti itu salah dan tidak mencerminkan seorang raja. Sebagai seorang raja dalam mengadili kasus-kasus persidangan harus sama bersihnya bagaikan sebuah timbangan. Tapi dalam hal ini, karena anjing kerajaan bebas dari hukuman, sementara anjing malang dibunuh, ini bukan malapetaka yang merata bagi semua anjing, tapi hanya pembantaian anjing malang, “Dan lebih lanjut, Bodhisatta, mengeraskan suaranya yang merdu, berkata, “Baginda, bukan keadilan yang Anda lakukan,” dan dia mengajarkan Kebenaran kepada raja dalam syair ini—

 

Anjing-anjing yang dipelihara di istana kerajaan, anjing-anjing ras yang dibesarkan dengan baik, begitu kuat dan cantik.

Namun bukan mereka, tapi hanya kami, yang ditakdirkan untuk mati.

Bagi kami tidak ada hukuman yang tidak adil yang dijatuhkan untuk semua makhluk yang sejenis; ini hanyalah pembantaian bagi mereka yang malang.

 

Setelah mendengarkan kata-kata Bodhisatta, raja berkata, “Apakah dalam kebijaksanaanmu kau tahu siapa sebenarnya yang menggerogoti kulit keretaku?”

 

Ya, Baginda.

 

“Siapa itu?”

 

“Anjing ras asli yang tinggal di istanamu sendiri.”

 

“Bagaimana kau bisa menunjukkan bahwa merekalah yang menggerogoti kulit itu?”

 

Aku akan membuktikannya padamu.

 

Lakukanlah, engkau yang bijaksana.

 

“Kalau begitu suruh anjing-anjingmu, dan bawalah sedikit susu mentega dan rumput kusa.” Raja melakukannya.

 

Kemudian Bodhisatta berkata, “Biarkan rumput ini dihaluskan dalam susu mentega, dan biarkan anjing meminumnya.”

 

Raja melakukannya; Akibatnya setiap anjing yang meminumnya, muntah. Dan mereka semua memuntahkan potongan-potongan kulit! “Ini seperti pertimbangan dari Buddha Sempurna sendiri,” raja berseru dengan gembira, dan dia melakukan penghormatan kepada Bodhisatta dengan menawarkan payung kerajaan kepadanya. Lalu Bodhisatta mengajarkan Kebenaran dalam sepuluh bait tentang kebenaran dalam Tesakuṇa Jātaka, dimulai dengan kata-kata—

 

Berjalanlah dalam kebenaran, raja agung dari kaum kesatria…

 

Kemudian setelah menegakkan raja dalam Lima Latihan Moralitas, dan mendorongnya untuk teguh dalam kebenaran, Bodhisatta menyerahkan kembali payung putih kerajaan kepada raja.

 

Di akhir kata-kata Bodhisatta, raja memerintahkan agar kehidupan semua makhluk harus aman dari bahaya. Dia memerintahkan agar semua anjing kerabat dari Bodhisatta, harus memiliki persediaan makanan yang konstan seperti yang dia makan sendiri; dan, dengan mematuhi nasihat Bodhisatta, dia menghabiskan sisa hidupnya yang panjang dalam dana dan perbuatan baik lainnya, sehingga ketika dia meninggal dia terlahir kembali di Alam Dewa. ‘Nasihat Anjing (Kukkurovādo)’ bertahan selama sepuluh ribu tahun. Bodhisatta juga hidup sampai usia lanjut, dan setelah meninggal dunia ia terlahir sesuai dengan perbuatannya.

 

Ketika Guru mengakhiri pengajarannya, Beliau berkata, “Tidak hanya sekarang, para bhikkhu, Buddha melakukan apa yang menguntungkan kerabatnya; di masa lalu juga Ia melakukan hal yang serupa,”- Beliau mempertautkan hubungan, dan mengidentifikasi Kelahiran dengan mengatakan, “Ānanda adalah raja pada masa itu, pengikut Buddha adalah yang lainnya, dan saya sendiri adalah anjing yang bijaksana itu.”

Related Post