[Dikutip dari Pali Rasavahini]
Setelah Sang Bhagavā parinibbana, konon di wilayah Raja Kosala terdapat sebuah desa bernama Tuṇḍagāma. Di sana tinggallah seorang pria bernama Buddhadāsa yang menjalani hidupnya dengan berlindung kepada Sang Buddha hingga akhir hayatnya, dengan merenungkan, ‘Hingga akhir hayat aku pergi berlindung kepada Sang Buddha. Sang Buddha adalah perlindunganku, pertahananku, tempat bernaungku, dan tujuanku.’ Pada saat itu, seorang penduduk pedesaan yang sedang berkelana ke sana kemari tiba di Tuṇḍagāma dan menginap di rumahnya. Namun, tubuh penduduk desa itu dirasuki dan disiksa oleh seorang yakkha. Saat akan memasuki desa tersebut, yakkha itu tidak mampu memasuki rumah Buddhadāsa karena kekuatan mulia dari perlindungannya. Ia melepaskan orang itu dan menunggu di luar desa selama tujuh hari, menantikan keberangkatannya. Setelah tinggal di sana selama tujuh hari, penduduk desa itu berniat kembali ke negerinya sendiri dan keluar dari desa. Melihatnya keluar, yakkha tersebut menangkapnya. Orang itu bertanya, ‘Ke mana saja engkau selama ini?’ Yakkha itu menjawab, ‘Tuan, tujuh hari telah berlalu bagiku yang menunggu di sini demi engkau.’ Kemudian orang itu bertanya, ‘Apa urusanmu denganku? Apa yang harus kuberikan padamu?’ Yakkha itu menjawab, ‘Tuan, aku menderita kelaparan, aku butuh makanan.’ Orang itu berkata, ‘Jika demikian, mengapa engkau tidak menangkapku saat aku berada di dalam rumah?’ Yakkha itu menjawab, ‘Tuan, di rumah itu ada seorang upasaka yang telah pergi berlindung kepada Sang Buddha. Karena kekuatan silanya, aku tidak mampu memasuki rumah itu dan hanya bisa menunggu di luar.’ Penduduk desa itu, yang tidak tahu apa yang dimaksud dengan perlindungan (saraṇa), bertanya kepada yakkha, ‘Apa itu perlindungan? Bagaimana dia mengambil perlindungan itu?’ Yakkha menjawab, ‘Ia mengambil perlindungan dengan mengucapkan “Buddhaṃ saraṇaṃ gacchāmi” (Aku pergi berlindung kepada Sang Buddha).’ Mendengar hal itu, penduduk desa itu berpikir, ‘Sekarang aku akan menipu yakkha ini,’ lalu berkata, ‘Kalau begitu wahai yakkha, aku juga pergi berlindung kepada Sang Buddha.’ Segera setelah kata-kata itu diucapkan, yakkha itu berteriak keras dan lari ketakutan sambil berputar-putar. Demikianlah, perlindungan kepada Yang Maha Suci Terpenerang Sempurna di dunia ini berfungsi untuk menghalau rasa takut dan malapetaka, dan di dunia selanjutnya membawa ke surga dan kebebasan. Demikianlah:
1. Kata ‘Buddha’ ini membawa ketakutan bagi para makhluk halus; namun bagi makhluk-makhluk yang berbakti kepada Buddha, ia selalu membawa kegembiraan.
2. Untuk melenyapkan segala malapetaka, ia adalah obat dewa yang nyata; mantra surgawi dengan kekuatan agung, sarana agung yang sangat menakjubkan.
3. Oleh karena itu, yakkha yang kejam itu, ketika melihat ia yang teguh dalam perlindungan; menjadi gelisah, diliputi ketakutan, bulu kuduknya berdiri, dan gemetar.
4. Melihatnya berlari berkeliling, seperti kegelapan saat matahari terbit, atau seperti gumpalan kapas pohon simbali yang tercerai-berai oleh angin kencang.
5. Penderitaan apa pun yang muncul dari raja, pencuri, musuh, yakkha, dan peta; bagi manusia yang tidak menginginkannya, Tiga Perlindungan perlu dituju [diambil].
Kemudian penduduk desa itu, setelah melihat kemuliaan besar dan manfaat besar dalam pergi berlindung, dengan rasa hormat dan kasih kepada Sang Buddha, ia pergi berlindung dengan berucap: ‘Hingga akhir hayat, aku pergi berlindung kepada Sang Buddha’. Melalui kekuatan perlindungan itu, saat ajalnya tiba, ia terlahir di alam dewa seolah-olah baru saja terjaga dari tidur.
6. Melihat orang yang telah pergi berlindung seperti itu, bahkan para yakkha pun menjauh dengan ketakutan besar; oleh karena itu jagalah sila dan perlindungan, tinggalkanlah kejahatan dan carilah alam bahagia.


