ungkapan seperti “ melanggar hukum Buddha “ karena Beliau bukanlah pemberi hukuman, seorang hakim ataupun raja yang menghukum perbuatan jahat dan memberi hadiah bagi perbuatan baik manusia. Pelaku kejahatan bertanggung jawab pada perbuatannya sendiri ; ia menderita ataupun menikmati konsekuensi dari perbuatannya dan melakukan kebaikan ataupun kejahatan itu adalah urusannya sendiri. Harus pula disebutkan bahwa semua perbuatan, baik atau jahat, tidak selalu akan masak. Karena baik seseorang mungkin saja menekan karma buruknya dan sebaliknya.
Kita juga harus memahami ajaran Buddhis mengenai karma bukan merupakan fatalisme, bukan sebuah ajaran filosofi yang mengakibatkan manusia tidak bebas berbuat, melainkan terpaksa ditentukan oleh motif yang dianggap merupakan kekuatan luar bertindak memenuhi kehendak, atau apa yang telah ditakdirkan oleh Tuhan. Buddha tidak menganut teori yang menyatakan bahwa semua makhluk ditetapkan tak dapat diubah ( ditakdirkan ), bahwa segala sesuatu terjadi oleh keharusan yang tak terhindari yang merupakan determinisme kaku ( niyati vada ). Beliau tidak pula menegakkan teori indeterminisme mutlak ( adicca samuppana ).
Menurut agama Buddha tak ada kehidupan setelah mati ataupun kehidupan sebelumnya yang tidak bergantung pada karma ataupun perbuatan – perbuatan yang disertai niat. Karma adalah akibat wajar dari kelahiran kembali ; sebaliknya, kelahiran kembali adalah akibat wajar dari karma. Kelahiran mendahului kematian dan kematian juga mendahului kelahiran, dengan demikian kedua pasangan ini saling menyertai satu sama lain dalam rangkaian yang tak terputus.
Bagi para ilmuwan tubuh adalah energi dalam keadaan stres, berubah tanpa substansi yang nyata. Bagi para psikolog “ jiwa “ hanya berupa suatu entitas. Kehidupan individu juga merupakan rangkaian dari perubahan sesuatu yang menjadi manusia dan meninggal dunia tidak tetap sama untuk dua momen yang berurutan. Perubahan yang berkesinambungan ini, proses batin dan jasmani yang nyata dalam kehidupan kita ini, tidak berakhir dengan kematian. Perubahan pikiran berlanjut tanpa putus. Perubahan pikiran yang dinamislah yang diterjemahkan sebagai kekuatan karma. Kekuatan besar ini, keinginan untuk hidup, mempertahankan kelangsungan kehidupan. Demikianlah aliran kesadaran yang terus menerus ( vinnana sota ) ini berlanjut tanpa akhir selama berbagai bentuk kehausan ( tanha ) menyertai ketidaktahuan ( avijja ), kesesatan yang dibenarkan karena segala kegilaan kita, menggerakkannya.
Manusia dalam kehausannya yang kuat akan pemilikan ataupun kepuasan nafsu, menjadi terbelenggu pada roda kehidupan, berputar dan terkoyak di antara jari – jari roda penderitaan dan sudah pasti menutup pintu kebebasan akhir.
Musuh seluruh dunia adalah hawa nafsu, melaluinyalah semua kejahatan memasuki diri manusia. Ia bukan hanya berupa keserakahan dan kemelekatan pada kenikmatan yang disebabkan oleh indra – indra, kekayaan dan pemilikan dan keinginan untuk mengalahkan orang lain serta menaklukkan negara – negara lain, melainkan juga kemelekatan pada cita – cita, pandangan, pendapat dan kepercayaan ( dhamma tanha ) yang sering membawa bencana dan pengrusakan dan menimbulkan penderitaan yang tak terkatakan bagi seluruh bangsa dalam kenyataannya seluruh dunia. Tanha, keinginan manusia, ada tiga jenis dan pikiran didorong untuk bertindak di bawah pengaruh ketiga jenis tanha ini. Kapan saja keinginan dihubungkan dengan kesenangan indra ia disebut kehausan akan kesenangan indra ( kama tanha ). Ketika ia dihubungkan dengan kepercayaan pada kekebalan kehidupan personal, maka ia disebut keinginan akan penjelmaan ( bhava tanha ). Ini adalah keinginan penerusan, untuk hidup selamanya, mempertahankan diri ( jivitu kama ). Ketika keinginan dihubungkan dengan kepercayaan akan pemusnahan diri ia disebut keinginan akan pemusnahan, pengrusakan ( vibhava tanha ). Ketiga jenis tanha atau keinginan dapat dibandingkan dengan konsep para penganut Freud tentang eros, libido dan thanatos.
Menurut agama Buddha ada banyak kotoran batin ( kilesa ), tetapi akar penyebab seluruh kejahatan adalah : hawa nafsu atau keinginan yang rendah ; kebencian atau niat jahat ; kebodohan atau kegelapan batin ( lobha, dosa, moha ). Mereka adalah tenaga penggerak yang mendorong seseorang berbuat. Perbuatan yang dilakukan dengan kotoran batin ini menimbulkan kehidupan yang berulang – ulang, karena itu dikatakan “ tanpa melenyapkan hawa nafsu, kebencian dan kebodohan seseorang tidak akan terbebas dari kelahiran “.20
Pada saat orang benar – benar melenyapkan ketiganya, ia terbebas dari belenggu samsara, kehidupan yang berulang – ulang. Ia terbebas dari seluruh nafsu duniawi. Ia tidak lagi memiliki sifat apa pun yang akan menyebabkannya dilahirkan kembali sebagai makhluk hidup, karena ia telah merealisasikan Nirwana, berakhirnya seluruh penjelmaan ( bhava nirodha ) ; di luar perbuatan biasa atau duniawi, dan ia telah meningkatkan dirinya ke tempat supra duniawi pada saat masih hidup di dunia ; perbuatannya tidak lagi menghasilkan, tidak berakibat karma ; karena tidak didorong oleh ketiga kotoran batin. Ia terbebas dari semua kejahatan, bebas dari seluruh kotoran batin. Dalam dirinya tak ada pendorong yang mendasari kecenderungan ( anusaya ) ; ia telah menyelesaikan kedua perbuatan baik dan jahat ( punna papa pahina ),21 ia tidak cemas dengan masa lampau, masa depan atau bahkan masa sekarang. Ia tidak terikat pada apa pun di dunia, dan dengan demikian tidaklah mengalami kesulitan. Ia tidak terganggu oleh perubahan kehidupan. Pikirannya tak tergerak oleh kontak dengan kemungkinan – kemungkinan duniawi ; ia tidak bersedih, tidak ternoda dan aman ( asokam, virajam, khemam ).22 Demikianlah Nirwana merupakan “ keadaan “ yang dapat disadari dalam kehidupan ini ( dittha dhamma nibbana ). Si pemikir, pikiran yang bertanya – tanya, tak akan menemukan kesukaran untuk memahami keadaan ini yang hanya dapat dirumuskan oleh Arahat dan tidak oleh manusia lain baik di dunia ini maupun di alam kebahagiaan surgawi.
Seperti yang telah ditunjukkan dengan jelas oleh Buddha : “ Jika ada kejahatan, berhubungan dengan kejahatan, termasuk dalam kejahatan, seluruhnya dihasilkan dari pikiran ( secara harfiah, pikiran mendahului semuanya : mano pubbangama ) “. “ Jika ada kebaikan, berhubungan dengan kebaikan, termasuk dalam kebaikan, seluruhnya dihasilkan dari pikiran “.23
Karena itulah manusia perlu meneliti pikirannya sendiri secara cermat dengan maksud memahami bagaimana cara kerja pikiran manusia, bagaimana pikiran muncul dan berlalu. Seperti kata Sigmund Freud : “ Perubahan psikologis hanya terjadi dengan sangat perlahan. Jika mereka muncul dengan cepat dan tiba – tiba itu adalah pertanda buruk “. Dengan memahami pikiran baik sebagai kebaikan dan keburukan sebagai kejahatan, suatu usaha harus dilakukan untuk mencegah munculnya kejahatan dan pikiran jahat yang belum muncul ; untuk melenyapkan pikiran jahat yang telah muncul ; untuk menghasilkan dan mengembangkan pikiran baik yang belum muncul ; dan untuk mempertahankan pikiran baik yang telah muncul. Inilah fungsi dari daya upaya benar ( samma vayama ), satu perbuatan dalam pikiran : mencegah, melenyapkan, mengembangkan dan memelihara ( samvara, pahana, bhavana, anurakkhana ).24 Demikianlah dalam agama Buddha bahkan etika dipelajari dari sudut pandang psikologis. Tekanan pada daya upaya benar ini oleh Buddha dijelaskan dalam bahasa yang tak mungkin salah yang membuat agama Buddha bukan merupakan suatu filosofi pesimisme, ajaran bagi mereka yang lemah pikirannya, yang melihat sesuatu dari sudut pandang yang sangat tidak menguntungkan, melainkan suatu ajaran yang merupakan agama bagi pejuang sejati.
Sangatlah berat untuk menghentikan apa pun yang memikat, dan mencengkeram kita, dan sangatlah berat untuk mengusir semangat jahat yang menghantui batin manusia dalam bentuk pikiran yang tak baik. Kejahatan adalah penjelmaan dari hawa nafsu, kebencian dan kebodohan yang telah dibicarakan sebelumnya. Sebelum orang mencapai puncak kemurnian melalui pelatihan pikiran yang terus menerus, ia tidak dapat mengalahkan hal – hal buruk ini sepenuhnya. Hanya meninggalkan benda – benda duniawi, berpuasa dan sebagainya tidak akan menyucikan manusia ; hal – hal ini tidak membuat seorang manusia suci dan aman. Penyiksaan diri adalah sebuah ekstrem yang dinyatakan oleh Buddha pada saat Dharma pertama kali dibabarkan, merupakan hal yang tidak dibenarkan. Beliau juga menolak nafsu indrawi, yang disebutnya tercela. Dengan menghindari kedua ekstrem ini Buddha mengungkapkan Jalan Tengah kepada dunia, jalan kuno yang bila diusahakan sepenuhnya menaikkan manusia dari tingkat kehidupan batin yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi ; menuntunnya dari kegelapan menuju terang, dari gejolak nafsu menuju ketenangan ; dari kekacauan menuju kedamaian, dan terakhir mencapai kebahagiaan tertinggi Nirwana.


